Sabtu, 29 November 2014

News / Regional

KECELAKAAN MERPATI

Senja yang Tak Lagi Indah di Kaimana...

Sabtu, 7 Mei 2011 | 17:20 WIB

KOMPAS.com — "Selamat Datang di Kota Indah Senja Kaimana". Kalimat itu terpampang di sebuah papan yang dapat kita jumpai saat mendarat di Bandar Udara Utarom, Kaimana, Papua Barat. Pun, siapa yang tak terkenang dengan lagu Senja di Kaimana? ...Kan ku ingat selalu/ kan kukenang selalu/ senja indah/ senja di Kaimana....

Lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi Alfian itu seolah mengundang siapa pun untuk menyambangi Kaimana. Dan, pada detik-detik ini, seharusnya sinar mentari sedang terbenam di Kaimana, di Papua Barat.

Namun, jatuhnya Merpati MA-60 di perairan Kaimana, sekitar 500 meter menjelang runway Bandara Utarom, mungkin membuat senja itu tak lagi indah di Kaimana. Sebab kini, bila kita berdiri memandang ke lautan lepas ke arah barat dari daratan Kaimana, bukan horizon bersemburat warna oranye, merah, dan biru nan menawan itu yang memanjakan mata. Pemandangan yang tersaji mungkin hanya perahu-perahu nelayan yang hilir-mudik mencari korban tewas dari pesawat Merpati MA-60.

Memang, ketika maut menghampiri, seolah telah tersurat, hal itu tak dapat dihindari. Jatuhnya pesawat itu justru di perairan Kaimana, yang tersohor dengan pemandangan indahnya di kala senja. Bukan mustahil pula, kota itu kini diselimuti dengan aura kesedihan. Doa-doa pun mungkin dikumandangkan dari berbagai tempat ibadah, untuk menenangkan jiwa-jiwa yang telah berpulang.

Senja kala Merpati?

Mungkinkah, ini sekadar pepesan kosong, jatuhnya Merpati MA-60 di Kaimana itu menandakan pula senja kala bagi maskapai Merpati Nusantara Airlines? Sebab, pada Rabu (4/5/2011), atau tiga hari sebelum musibah ini datang, Kompas menjumpai Iwan Nurjadin, kuasa hukum dari tiga pemilik pesawat (lessor) Merpati di kantornya di Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta.

Iwan mengatakan, besar kemungkinan tujuh pesawat Boeing seri 737 yang kini dioperasikan maskapai Merpati Nusantara itu bakal diambil pemiliknya. Alasannya, mulai pertengahan April 2011, Merpati tak lagi membayar sewa pesawat karena sedang dalam masa sulit. Keterangan itu dilontarkan Sekretaris Perusahaan Merpati, Imam Ruridi, saat dihubungi Rabu lalu.

Kinerja maskapai itu cukup berat karena tambahan modal kerja Rp 310 miliar yang dijanjikan pemerintah pada 2010 belum juga dikucurkan. Selain itu, tambahan Rp 510 miliar untuk modal tahun 2011 ini pun belum bisa dipastikan pengucurannya.

Maka dari itu, kini, ketika Boeing tak lagi terbang, Merpati pun mengharapkan penerbangan MA-60, dengan jarak tempuh menengah, menjadi tulang punggung bisnisnya. Apalagi, pesawat-pesawat turboprop Merpati dari jenis Fokker tak lagi tangguh.

Ironinya, justru MA-60 yang kini rontok terlebih dahulu. Tentu, kita berharap, pemerintah sebagai pemegang saham Merpati secepat mungkin mengulurkan tangganya untuk membantu BUMN penerbangan itu. Mungkinkah?

Entahlah. Dan, entah pulalah, indahnya pemandangan sunset di Kaimana atau peristiwa jatuhnya Merpati MA-60 dengan registrasi PK-MZK itu yang akan diingat saat menginjakkan kaki ke Kaimana sebagaimana dilantunkan oleh lagu legendaris tersebut; Kan kuingat/ Senja di Kaimana....


Editor : Latief