Sabtu, 23 Agustus 2014

News / Travel

Wisata ke Makau (3)

Makau, Kota atas Nama Tuhan

Minggu, 13 Maret 2011 | 09:42 WIB

Terkait

KOMPAS.com — Bagi saya, Makau tak hanya kota dengan sejuta kasino, tapi sekaligus tempatnya kumpulan rumah ibadah yang mengagumkan bagi umat Nasrani. Banyak sekali gereja Katolik di sini. Karena ketika Portugal pertama kali tiba di tepi pantai China pada tahun 1557, Makau memang dibuat sebagai salah satu benteng Nasrani di Asia sekaligus tempat perdagangan dan dihormati sebagai “Kota atas Nama Tuhan, Makau”. Maka tak heran jika banyak kapel dan gereja berdiri di kota kecil ini. Terhitung 9 kapel dan 7 gereja besar plus 1 yang nggak boleh ketinggalan, yaitu Ruins of St Paul’s Church.

Ruins of St. Paul’s Church Gereja ini dibangun tahun 1602, bersebelahan dengan Jesuit College of St. Paul’s, universitas Barat pertama di Asia. Universitas modern ini sendiri merupakan tempat belajarnya misionaris sebelum mereka bertugas di Ming Court di Beijing sebagai ahli astronomi dan ahli matematika.

Namun, kebakaran hebat pada tahun 1835 menghanguskan seluruh bangunan kecuali bagian depan gereja yang kini seolah menjadi gerbang masuk dan simbol kota Makau. Arsitektur bergaya campuran Renaissance Eropa dan Asia ini kini menjadi sorotan utama para wisatawan jika ke Makau. Apalagi, sadarnya pemerintah akan potensi wisata ini, lantas di area ini sering kali diadakan pertunjukkan musik lengkap dengan pencahayaan yang optimal, gratis bagi semua kalangan, baik warga sekitar maupun para pelancong seperti kita kita.

Pengalamanku dan Sophia Waktu yang tersisa bagi kami di Makau masih 7 jam. Maka tanpa membuang waktu, kami langsung mencari jalan menuju ke Ruins of St. Paul’s Church. Ternyata Makau memang benar-benar bisa dijangkau semuanya dengan jalan kaki. Gambar di peta yang nampak jauh ternyata hanya kami tempuh tak lebih dari 15 menit jalan kaki dari tempat kami makan yang tak jauh dari penginapan.

Rutenya, kami harus menemukan suatu wilayah yang disebut Senando Square, lalu ikuti saja jalanan yang kecil tersebut, agak menanjak sedikit, tapi tak akan membuat Anda lelah, karena pemandangan bangunan di kanan dan kiri jalan tampak sangat menawan.

Saat kami ke sana hampir semua bangunan itu masih tutup, karena ternyata rata rata mereka baru membuka toko pada pukul 11 dimana dipastikan para turis yang telah lelah seharian bermain kasino sudah terbangun untuk melihat keindahan sisa bangunan gereja St. Paul ini. So, kami pun tak mau kehilangan kesempatan berfoto narsis di jalanan yang indah ini.

Nah, tak lelah sama sekali, ternyata kami sudah sampai di depan anak tangga menuju Gereja St Paul. Wow, decak kagum langsung menyelimuti dada saya. Terbayang betapa indahnya jika bangunan itu masih lengkap dengan altar dan Misa Kudus di dalamnya. Megah sekali meski hanya sekadar bagian depan.

Kekaguman saya juga tertuju pada pemerintah setempat yang kemudian tetap menjaga bangunan yang hanya tinggal bagian depannya ini, sehingga bisa menjadi lokasi wisata yang luar biasa dipenuhi orang, bahkan menjadi simbol pariwisata di beberapa brosur Makau.

Seusai foto-foto narsis saya semakin mendekat reruntuhan. Detail ukiran patung yang menawan sungguh indah dan memesona. Masuk ke dalam, hanya lapangan kosong yang kemudian diberi tangga di sisi kiri. Dengan tangga ini kita bisa berada di bagian atas puing gereja dan melihat kota Makau dari atas.Turun dari tangga saya masuk ke museum yang ada di belakang bangunan puing, wow... benda-benda yang ada di dalam juga membuat saya tercengang. Benda-benda berusia ratusan tahun ini tampaknya adalah benda-benda yang sama yang digunakan di Gereja St. Paul. Sangat terawat dan antik.

Ada tempat dupa yang biasa digunakan pastor untuk mewangikan gereja, tempat hosti, patung-patung dan salib, lukisan-lukisan dengan detail yang sangat menawan dan masih banyak aneka benda perjamuan kudus Katolik yang membuat saya betah berada di dalamnya.Di bagian tengah, terdapat altar-altaran yang dibangun mungkin untuk mengenang keadaan gereja saat itu, di sana juga terdapat tulang belulang martir dari Jepang dan Vietnam.

Museum De Macau Nah, puas melihat-lihat museum ini, saya dan Sophia langsung menuju ke sisi kiri gereja. Di sana terdapat Makau Museum. Dulunya sih mungkin ini benteng karena selain letaknya yang berada di dataran tinggi juga karena banyaknya meriam yang mengelilingi bangunan tersebut. Di sini kita juga bisa melihat lebih luas lagi hampir seluruh kota Makau, mulai dari sungai yang panjang dengan jembatan yang indah, sampai Hotel Lisboa yang menjadi patokan bertemu orang yang baru pertama kali pergi ke Makau. Karena terlihat dari atas tampaknya Lisboa ini adalah bangunan tertinggi di Makau.

Puas jalan-jalannya, kami pulang melalui jalan yang pertama kami lalui tadi pagi dan wow… ramaiiii sekali … semua toko sudah buka. Ternyata mereka menjual aneka suvenir khas Makau, makanan khas, dan juga beberapa di antaranya adalah butik-butik dan toko-toko terkenal seperti Giordano, The Body Shop, dan masih banyak lagi. (Catur Guna dan Sophia Angkadjaja)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: