Selasa, 29 Juli 2014

News / Megapolitan

Petilasan Bung Karno di Pasir Muncang

Kamis, 25 November 2010 | 17:30 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Bank Indonesia menggelar benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan Presiden Pertama RI Soekarno di Pusat Pelatihan BI di Kampung Nyenang, Desa Muara Jaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor sampai 20 Desember mendatang. Pameran tersebut terkait ditemukan dan direnovasinya petilasan Bung Karno di kompleks pusat pelatihan tersebut.

Dede Komarudin, Kepala Kawasan Rumah Peristirahatan dan Learning Center Pasir Muncang BI, menjelaskan, petilasan Bung Karno tersebut diresmikan 22 November lalu oleh Deputi Gubernur BI Ardhayadi Mitroatmodjo. Pameran ini memang untuk memperkenalkan petilasan Bung karno tersebut. Petilasan dan pameran terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran. Namun, pengunjung sebelumnya harus minta izin ke BI. "Ini untuk keamanan dan ketertiban semata sebab yang dipamerkan benda-benda bersejarah," katanya, saat dijumpai di lokasi, Kamis (25/11/2010) siang.

Benda yang dipamerkan tersebut antara lain mobil yang pernah digunakan Soekarno saat menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, meja kursi yang digunaakan saat pengasingan di Bengkulu, dan sejumlah foto kegiatan Bung Karno saat menjadi presiden atau bersama keluarga. Ada juga lukisan foto Bung Karno yang dilukis seniman dari Bali.

Mengenai petilasan Bung Karno, petilasan itu berupa lanskap atau taman kecil dimana ada sebuah pohon tanjung dan dua kolam air. Penghubung antara lokasi-lokasi itu adalah jalan setapak berundak, sebab kontur lanskap ada di lembah. Pemandangan dari sana sungguh indah, yakni kemegahan panorama Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Selain itu, sekitar petilasan itu juga berupa petak-petak sawah basah dan kebun sayur, yang ditata menyatu denganlingkungan petilasan tersebut.

Menurut Dede, berdasarkan penuturan warga kampung/desa setempat, di bawah pohon tanjung tersebut dulunya ada sebuah saung yang disebut Saung Kirai. Di situ Bung Karno sering merenung. Pohon tanjung tersebut, yang diameter batang utamanya sekitar 1,5 meter, diperkirakan berusia sekitar 70 tahun.

Dahulu juga, salah satu kolam tersebut ada mata airnya. Kolam tersebut berbentuk seperempat kotak yang satu sisinya dibuat melengkung. Kolam satunya berbentuk buah mangga. Tepat di depan lekukannya, konon Bung Karno melakukan sholat wajib sesuai waktu berkunjungnya. Berdiri tepat di lokasi itu menghadap barat, jika ditarik garis lurus, adalah tepat di tengah-tengah Gunung Salak.

Para sesepuh kampung dan desa di sini juga mengatakan, kadang Bung Karno mengundang warga dan anak-anak untuk duduk-duduk dan bernyanyi di bawah pohon tanjung tersebut. "Lagunya kata mereka lagu-lagu kebangsaan. Bung Karno yang mengajarinya," kata Dede.

Terungkapnya petilasan Bung Karno itu berawal dari rencana BI untuk membangun fasilitas ruang kelas di pusat pelatihan tersebut. Saat meratakan lahan, pekerja menemukan bekas undakan atau tangga menuju ke lembah. Di tambah keterangan warga bahwa dahulu di situ ada petilasan Bung Karno, BI pun menggalinya dan menemukan semua bekas petilasan tersebut.

"Penemuan itu tiga empat bulan lalu. Kami lalu lapor ke pusat. Pimpinan meminta kami untuk menggalinya dengan hati-hati, lalu menelitinya. Setelah semak belukar dibuka dan dilakukan penggalian, ditemukan undakan atau tangga jalan setapak ke bawah, sampai akhirnya ditemukan dua kolam itu. BI lalu memutuskan untuk melestarikan petilasan peninggalan Bung Karno ini," jelas Dede.

Ia menambahkan, awalnya lahan seluas sekitar 0,5 hektar itu memang milik keluarga Bung Karno. Lahan itu adalah bagian dari 17 hektar lahan yang dibeli BI dari warga, untuk memperluas kompleks rumah peristirahatan dan pusat pelatihan BI di kawasan Pasing Muncang.


Editor : I Made Asdhiana