Sabtu, 25 Oktober 2014

News /

Realistis Menghadapi ACFTA

Rabu, 3 Februari 2010 | 02:56 WIB

oleh Umar Juoro

Tekanan dari kalangan pengusaha industri agar pelaksanaan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China atau ACFTA ditunda sangat kuat yang menandakan besarnya pengaruh negatif terhadap industri Indonesia. Sementara pemerintah berpendapat tetap menjalankan kesepakatan dengan berupaya menunda pelaksanaan tarif nol untuk beberapa jenis produk tertentu.

Perdagangan bebas memberikan keuntungan terutama pada konsumen dengan banyak macam produk dan harga yang lebih murah. Namun, menyebabkan kerugian bagi perusahaan yang produknya tidak dapat bersaing berikut pekerja yang harus menganggur karena perusahaannya kalah bersaing. Penerimaan pemerintah dari tarif juga berkurang drastis. Jadi, tugas pemerintah: mendorong, bagi perusahaan yang dapat memenangi persaingan, dan memberikan jalan keluar serta alternatif bagi perusahaan yang kalah bersaing dan pekerja yang menganggur.

Sekalipun pemerintah menunda pelaksanaan ACFTA untuk waktu tertentu bagi produk-produk tertentu, pada akhirnya perlindungan tersebut juga harus dihilangkan sesuai kesepakatan. Jika pemerintah melanggar kesepakatan dan melindungi perusahaan dalam negeri, konsumen dirugikan karena harus membayar produk dengan harga lebih mahal dan perekonomian menjadi tak berkembang. Selain itu, negara mitra perdagangan bebas kemungkinan besar akan melakukan balasan. Karena itu, kita harus menyikapi perdagangan bebas dengan sikap realistis.

Perkembangan ekonomi China tampaknya tak akan terbendung untuk menjadi perekonomian terbesar di dunia dalam dua atau tiga dekade ke depan. Harga produk yang murah dan jenis produk yang bervariasi serta dukungan penuh Pemerintah China membuat produk negara lain sangat sulit untuk bersaing. Pemerintah Amerika Serikat pun pada mulanya berupaya melindungi perekonomian dalam negerinya dan berusaha menekan China, antara lain untuk membiarkan mata uang renminbi menguat dan mengurangi surplus perdagangan. Namun, dalam perkembangannya, AS harus realistis bahwa China tidak lagi dapat ditekan dan lebih baik bekerja sama dalam memulihkan perekonomian dunia dari krisis global. Perusahaan-perusahaan AS, Eropa, dan Jepang tak saja melakukan investasi di China, tetapi juga melakukan aliansi strategis.

Bagi Indonesia, pendekatan realistis lebih baik ditempuh daripada mencegah atau menghindari persaingan dengan produk China. Indonesia punya kekuatan dalam sumber daya alam (SDA) dan produk-produk berbasis SDA. Bahkan, produk-produk yang bersaing langsung dengan China, seperti tekstil, garmen, dan alas kaki, tak semua jenis kalah dalam persaingan. Produk-produk tertentu tetap dapat bersaing, apalagi jika produk tersebut mempunyai keunikan Indonesia.

Pasar manufaktur

China melihat Indonesia sebagai pemasok penting bahan mentah dan pasar yang besar bagi produk manufaktur, apalagi ditambah dengan negara ASEAN lain. Indonesia defisit 3,2 miliar dollar AS dalam perdagangan dengan China. Defisit ini, terutama bersumber dari perdagangan nonmigas, mencapai 4,6 miliar dollar AS.

Jika kita proyeksikan ke depan, defisit ini akan membesar karena defisit perdagangan nonmigas sangat sulit tertutupi oleh surplus dari migas. Secara realistis Indonesia harus semakin meningkatkan ekspor berbasis sumber daya alam, baik pertanian maupun pertambangan, untuk mengurangi defisit perdagangan.

Menariknya, perkembangan China berbeda dengan AS, dan sebelumnya Eropa Barat, yang melakukan pendekatan hegemonis, bahkan sebelumnya kolonialisme. China menyadari, perekonomiannya belum tergolong maju, tetapi masih dalam tahapan berkembang dengan segudang permasalahan, seperti ketimpangan sosial, ketimpangan antardaerah, dan masih besarnya jumlah penduduk miskin.

Keunggulan produk-produknya juga lebih ditentukan oleh harganya yang murah, belum pada kualitas, kandungan teknologi, dan kekhususan lain. Keunggulan harga murah ini juga semakin merosot karena semakin tingginya upah tenaga kerja. Untuk mengurangi dorongan penguatan mata uang yang berlebihan dan kecenderungan terjadinya gelembung (bubble) di perekonomian dalam negerinya, selain memperbanyak aset yang ditawarkan langsung ataupun lewat pasar modal, China mengekspor modalnya ke luar negeri.

Karena itu, kita lihat semakin banyak perusahaan China aktif melakukan investasi di Indonesia mulai dari SDA sampai perbankan. Namun, China sangat enggan melakukan investasi atau memindahkan industrinya ke negara lain karena ini merupakan tulang punggung bagi ekonomi China dan penyedia kesempatan kerja. Selain itu, industri China juga belum secanggih industri Jepang dan Korea.

Pendekatan realistis berarti, bagi produk-produk yang dapat bersaing dan diproduksi perusahaan Indonesia dalam perdagangan bebas dapat difasilitasi lebih lanjut untuk lebih kompetitif. Bagi perusahaan yang lebih terbuka juga dapat melakukan aliansi strategis dengan perusahaan China atau perusahaan asing lain untuk memanfaatkan perdagangan bebas ini dengan pasar yang demikian besar, lebih dari 1,5 miliar penduduk.

Dalam situasi perekonomian yang demikian terbuka, apa yang penting adalah perekonomian Indonesia dapat berkembang, kesempatan kerja terbuka luas, dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Untuk perusahaan dan produk yang tidak dapat bersaing sedapat mungkin diberikan kesempatan untuk meningkatkan daya saingnya dalam waktu tertentu yang dimungkinkan di dalam perjanjian yang telah disepakati. Fokusnya adalah pada industri yang menyerap tenaga kerja besar, seperti tekstil, garmen, dan alas kaki.

Namun, cepat atau lambat persaingan langsung ataupun tak langsung akan terjadi. Sekalipun tarif dipertahankan, aparat kita lemah dalam mencegah penyelundupan barang dari China seperti kita alami selama ini. Hambatan nontarif seperti standar nasional, subsidi pemerintah, juga sarana yang dapat dipergunakan.

Ke depan kita akan melihat kian pentingya peranan Asia dalam mendorong perekonomian dunia. Kekuatan ekonomi akan bergeser dari AS dan Eropa Barat ke Asia. China dan India akan jadi penggerak utama pertumbuhan. Indonesia juga berpotensi jadi perekonomian besar di Asia dan dunia beberapa dekade ke depan jika kita dapat memperbaiki iklim investasi dan melakukan revitalisasi industri, pertanian, dan pertambangan. Belajar dari sejarah, perkembangan China dan India memberikan pengaruh besar pada perkembangan Indonesia (Nusantara), baik ekonomi maupun sosial-kultrural. Perkembangan China (dan juga India) dapat paralel dengan perkembangan Indonesia jika kita bersikap realistis dan dapat memanfaatkan peluang dengan baik.

Umar Juoro

Pengamat Ekonomi


Editor :