Kamis, 23 Oktober 2014

News / Regional

Perburuan Burung Belibis Ancam Ekosistem Mahakam

Minggu, 18 Januari 2009 | 04:44 WIB

SAMARINDA, MINGGU - Perburuan dan perdagangan besar-besaran  burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di pedalaman Mahakam (Kaltim) masih terjadi. Meskipun burung Belibis bukan jenis satwa langka, namun penurunan populasinya diduga bisa menimbulkan gangguan keseimbangan ekosistem di kawasan itu.
     
Sejumlah warga dari kawasan pedalaman Mahakam di Samarinda, Sabtu mengaku bahwa perburuan dan perdagangan Belibis Kembang masih terjadi. Belibis Kembang menjadikan kawasan pedalaman Mahakam, khususnya Danau Malintang (11.000 Ha), Danau Jempang (15.000 Ha) dan Danau Semayang (13.000 Ha) serta danau-danau kecil di daerah itu sebagai habitatnya.
      
"Pedagang umumnya berasal dari Banjarmasin, warga lokal kurang menyukai daging Belibis Kembang," kata Samedi, warga pedalaman Mahakam. Ia menuturkan perburuan burung langka itu terus terjadi karena permintaan dagingnya dari sejumlah pedagang juga tinggi. Daging burung ini bisa dikonsumsi seperti daging unggas peliharaan yang lain, seperti ayam, bebek dan itik.
      
Pedagang daging Belibis Kembang menjualnya lagi ke warung-warung yang menjual menu daging satwa dilindungi itu. Rasa daging Belibis Kembang seperti rasa daging bebek sehingga ada yang menggemarinya, namun sebagian lagi tidak suka dengan alasan  bau daging kurang sedap.
      
Cara pemburu liar menangkap Belibis Kembang dengan cara menjaring atau menggunakan belibis pemikat (belibis yang sudah jinak). "Ketika ke kawasan pedalaman belum lama ini, memang satwa ini masih diburu karena tingginya permintaan dari pedagang daging Belibis Kembang," kata Hardy Purnama, salah seorang petugas  BKSDA (Balai Konservasi Sumber Sumber  Daya Alam) Kaltim ketika dikonfirmasikan.     
      
Ia menjelaskan bahwa apabila tingkat penangkapan melebihi ambang batas berkelanjutan, maka jenis ini diduga akan menjadi punah, sehingga  secara ekologis dalam beberapa waktu akan datang dampaknya akan dirasakan langsung oleh puluhan ribu nelayan di kawasan perairan darat dan danau itu.
      
Dampak dari terancamnya kelestarian Belibis Kembang akan dirasakan langsung nelayan, mengingat satwa ini berfungsi sebagai motor produktifitas danau Mahakam dengan menyebarkan biji-biji rumput serta berkontribusi memberikan nutrisi (kotoran) terhadap ikan.
       
Ia menilai memang perlu aturan mengenai kuota tentang populasi Belibis Kembang yang bisa diburu agar  tidak menganggu keseimbangan ekosistem.
        
Peneliti dari Universitas Amsterdam pada 2004, yakni  Gabriella Fredriksson bersama teman-temannya  sudah menemukan bukti bahwa  ada kegiatan penangkapan dan perdagangan burung Belibis Kembang dalam jumlah yang sangat besar di tiga danau besar di pedalaman Mahakam.
       
Populasinya saat itu, diperkirakan banyak, yakni mencapai puluhan hingga ratusan ribu ekor, hal ini dilihat dari jumlah hasil tangkapan dari para penangkap Belibis Kembang.
       
Data BKSDA menyebutkan bahwa pada 2004, tercatat  tiga pedagang belibis yang mempekerjakan lebih dari 50 penangkap secara permanen yang berasal dari Banjarmasin dengan jumlah tangkapan mencapai antara 120.000 sampai 165.000 ekor per tahun.
      
Sedangkan jumlah Belibis Kembang yang ditangkap dan diperdagangkan selama 17 bulan pada  2005-2006 berkisar 27.379 ekor. Pada musim kemarau (Juni-Oktober) antara tahun 2005 dan 2006 terjadi penurunan hasil tangkapan, hanya 42,16 persen atau sebesar 6.018 ekor.
       
Distribusi perdagangan belibis yang dilakukan empat kelompok penangkap/pedagang meliputi Samarinda, Bontang, Sangata, dan Loa Kulu (Kalimantan Timur), sedangkan distribusi ke Kalimantan Selatan adalah ke daerah Banjarmasin yang merupakan daerah penerima terbesar mencapai 95 persen.


Editor :
Sumber: