Jumat, 29 Agustus 2014

News / Internasional

Bethlehem di Balik Tembok Kelabu Israel

Rabu, 24 Desember 2008 | 04:19 WIB

Setiap Natal, Bethlehem, kota di Tepi Barat yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Kristus, akan menarik ribuan peziarah. Sebagian besar mungkin tidak akan pergi jauh dari lampu-lampu Lapangan Palungan. Beberapa jalan dari situ, warga Palestina berjuang menghadapi kenyataan keras. Sebagian menemukan cara beradaptasi.

Claire Anastas tinggal di sebuah rumah berlantai tiga yang dikitari di ketiga sisinya dengan penghalang pemisah Israel, sebuah tembok semen kelabu yang mencapai tepat di bawah atap rumahnya. Tembok itu telah mencabut keluarganya dari mata pencarian mereka, sebuah usaha bengkel mobil yang bangkrut karena pelanggan tak bisa lagi mencapainya.

Kini Anastas (39) menggunakan tembok itu untuk mencari uang. Sejak Oktober, dia menjual pahatan kayu zaitun tradisional Bethlehem di internet. Salah satu barangnya yang paling laris adalah sebuah adegan kelahiran Kristus dengan keberadaan sebuah tembok pemisah. Itu adalah desainnya, dengan sebuah tembok yang bisa dilepas kalau-kalau saja pembelinya menginginkan adegan yang lebih meriah.

Anastas mengatakan, sejauh ini dia telah menjual 90 pahatan adegan kelahiran Kristus dengan tembok itu dari 300 buah yang dipersiapkannya. ”Ini melambangkan keadaan sehingga mereka memesannya,” kata Anastas mengenai pelanggannya.

Mulai 2003

Tembok di luar rumahnya berdiri tahun 2003. Itu bagian dari penghalang semen dan pagar yang didirikan di sepanjang Tepi Barat dan baru dua pertiganya selesai. Israel mengatakan, tembok itu dimaksud untuk mencegah masuknya penyerang Palestina. Namun, penghalang itu juga memakan 10 persen wilayah Tepi Barat dalam apa yang menurut warga Palestina disebut pencaplokan tanah.

Penghalang itu tidak hanya memutus Bethlehem dari Jerusalem di dekatnya. Tembok itu dibuat berkelok-kelok melalui Bethlehem untuk memisahkan Makam Rachel, sebuah tempat suci kaum Yahudi, dari bagian kota Bethlehem lainnya.

Beberapa usaha di lingkungan Anastas telah tutup karena tembok itu. Akan tetapi, salah seorang tetangganya, John Hazboun, justru melihat kesempatan. Suatu hari dia membawa sebuah tangga kayu, dua kaleng cat, dan sebuah kuas, lalu menuliskan menu dari Restoran Bahamas Seafood miliknya di tembok itu.

Hazboun mengatakan, pelanggan dan wisatawan telah memesan tempat di restoran yang berpemandangan menara penjaga Israel itu untuk Natal dan Tahun Baru.

Dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit, Anastas berusaha menghibur keempat anaknya yang berusia 11-19 tahun terutama pada masa Natal. Dia memasang pohon natal dan menjanjikan bahwa Sinterklas akan datang membawa hadiah. Keluarga itu akan menikmati konser terbuka di Lapangan Palungan pada Malam Natal. ”Itu membuat kami bahagia,” katanya. ”Kami merasa ada hal indah yang masih tertinggal.” (AP/DI)


Editor :
Sumber: