Sabtu, 1 November 2014

News / Regional

Festival Zapin Nusantara II di Malaysia

Minggu, 29 Juni 2008 | 10:51 WIB


JAMBI, MINGGU - Festival Zapin II di Stadion Johor Baru, Malaysia, akan dilaksanakan pada 1-4 Agustus mendatang. Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan sesama negara berkebangsaan melayu.

Prof M. Anis selaku penyelenggara acara ini, mengatakan, Sabtu (28/6), puluhan penari dalam 14 tim dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura, akan membawakan beragam tarian tradisional zapin khas daerah masing-masing.

Rangkaian pegelaran ini diperkirakan akan menyedot sekitar 6.000 pengunjung. "Ini akan menjadi kegiatan seni yang memuaskan kerinduan orang-orang melayu akan tarian indah zapin yang sempat tenggelam," tuturnya, di sela uji coba empat tari zapin asal Jambi, di Langkan Budaya Teratak, Kota Jambi.

Menurut Anis, meski Tari Zapin tumbuh di banyak daerah, pihaknya hanya mendatangkan tarian yang benar-benar dapat menyuguhkan nuansa melayu, tidak sekadar kreasi tari semata. "Banyak yang bisa berkreasi, namun hanya sedikit yang mampu menampilkan tarian yang lekat nuansa dan roh melayu dengan baik, mulai dari kreasi gerak, musik, melodi, dan kostumnya," katnay.

Selama tiga pekan terakhir, pihaknya telah mengunjungi 23 tim tari di Indonesia. Dari situ, hanya enam tim yang lolos untuk tampil dalam Festival Zapin NUsantara II ini, yaitu kelompok tari dari Jambi, Bengkalis, Pangkal Pinang, Lampung, Pare-pare, dan Wakatobe.

Anis melanjutkan, antusiasme masyarakat melayu kembali tumbuh, setelah diaksanakannya Festival Zapin Melayu . "Kemudian banyak yang meminta supaya kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Bahkan pihak swasta pun turut mendukung. Sejak itulah, zapin kembali bergairah," tuturnya.

Tom Ibnur, koreografer sejumlah tari zapin asal Jambi, mengatakan pihaknya akan menyuguhkan empat tari yang merepresentasi kehidupan masyarakat dari hulu hingga hilir Sungai Batanghari, yaitu Dana (Zapin) Kampung Manggis, Dana Sungai Keruh, Dana Seberang, dan Dana Pelepak. Seluruh tarian ini masih berpanutan pada gaya aslinya, namun mendapat sedikit perbaharuan mengikuti kondisi di masa kini. "Tari-tarian ini diharapkan dapat memberi pandangan dan menjawab perubahan dari masa ke masa terhadap zapin dan dana yang berkembang di Jambi," katanya.

Menurutnya, seiring banyaknya sungai di jambi, begitu jugalah maraknya persebaran tari zapin dan agama Islam di masa lalu. Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak seniman membuat perubahan mengikuti gaya ciptanya masing-masing, seperti zapin kreasi, zapin modern, dan zapinneozapin yang lebih mengarah pada zapin kontemporer. Bahkan telah berkembang pula senam zapin.

Namun, lanjut Tom, tidak dapat dipungkiri ada perkembangan dan pertumbuhan zapin yang dirasa tidak mengena di hati, baik dipandang sebagai estetika maupun etikanya. Latar belakang budaya dan pemahaman terhadap zapin seakan tidak dipedulikan. Ini dapat memberi kerancuan terhadap pemahaman zapin, apalagi ciptaan-ciptaan yang ada masih menggunakan kata zapin sebagai sebuah tari.


Editor :