Senin, 22 Desember 2014

News / Travel

Makanan Alkali

Senin, 23 Juni 2008 | 09:48 WIB

Kunjungan terakhir saya ke Bali minggu lalu menghasilkan satu "penemuan" baru. Jane Chen, seorang teman yang multibakat, memperkenalkan saya kepada makanan alkali (alkaline foods). Gara-gara teman dekatnya menderita kanker parah, Jane jadi mengenal konsep makanan alkali. “Kapan-kapan kalau ke Bali saya masakin makanan alkali,” janjinya.
Jane memenuhi janjinya ketika saya singgah di rumahnya di Canggu yang tampaknya tidak akan pernah selesai dibangun saking besarnya. Karena waktu yang sangat singkat, Jane hanya membuatkan sup sayur dan tumis kembang kol yang memenuhi standar makanan alkali.

Pada dasarnya, sel-sel sehat tubuh kita bersifat alkali (basa). Semakin asam (acidic) sel-sel itu, kita akan menjadi semakin sakit. Tubuh kita menghasilkan asam sebagai hasil sampingan dari metabolisme normal. Karena tubuh tidak memproduksi alkali, maka kebutuhan akan alkali harus dipasok dari luar. Prinsipnya, agar kita sehat, makanan yang kita konsumsi harus terdiri atas 80 persen alkali dan 20 persen asam.

Khususnya bagi penderita kanker pada stadium awal, mengonsumsi makanan alkali secara ketat berpotensi mujarab untuk menyembuhkan mereka. Secara umum diketahui bahwa dalam keadaan normal, tubuh kita bersifat alkali dengan pH 7,4. Dalam keseimbangan ini, proses kimia tubuh berjalan lancar dan semua kotoran yang ditimbulkan oleh proses ini dapat dengan cepat dilenyapkan.

Tetapi, bila kita terlalu banyak makan makanan asam, maka darah dan tubuh kita pun akan menjadi asam. Akibatnya, hati, limpa, jantung, dan ginjal harus bekerja lebih keras untuk membersihkan darah. Inilah yang mengakibatkan tubuh kita menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit. Padahal, selama ini kita terlalu cepat menuding virus sebagai penyebab semua sakit yang kita derita.

Sampah beracun yang tidak dapat dikeluarkan biasanya mengumpul di persendian, menyebabkan rematik dan gout (penyakit karena asam urat). Bisa juga keluar melalui kulit menjadi jerawat, eksim, bisul, dan lain-lain. Lebih serius lagi, kondisi keasaman darah dan tubuh juga menjadi penyebab berbagai penyakit seperti darah tinggi, wasir, jantung, kanker, dan sebagainya. 

Makanan alkali juga identik dengan makanan tanpa daging. Soalnya, daging, ikan, dan telur bersifat asam. Makanan dan minuman yang mengandung asam antara lain teh, kopi, alkohol, sambal, acar, bumbu, cuka, rempah-rempah, padi-padian (khususnya yang diputihkan atau tepung yang dihaluskan), bawang putih, jamu, minyak, lemak, dan makanan yang mengandung banyak gula.

Makanan alkali yang perlu ditingkatkan jumlahnya dalam diet kita adalah hampir semua sayuran (khususnya yang berdaun hijau), susu, mentega (khususnya ghee dan butter milk), madu, buah, dan sari buah–terutama buah yang mengandung banyak air seperti pepaya, apel, nenas, tomat, dan pisang.

Nasi yang cocok bagi mereka yang menjalani diet alkali adalah nasi merah atau brown rice. Bila tidak tersedia beras merah, bisa dibuat dari beras putih organik yang dimasak dengan kaldu sayur. Kaldu sayur ini dibuat dengan merebus wortel dan seledri dalam waktu lama, sehingga semua sari patinya diserap oleh air rebusan. Penggunaan kaldu sayur mirip demi glace (brown stock yang dibuat dari daging dan tulang sapi) yang banyak dipakai dalam memasak.

Sup sayur yang dibuat Jane sangat mirip gazpacho–sup dingin dari Spanyol. Bahan utamanya adalah bayam, alpokat, paprika, seledri, dicampur dengan kaldu sayur dan sedikit bumbu. Untuk memperkaya teksturnya, Jane memasukkan segenggam kacang almond ke dalam campuran sup. Semuanya kemudian di-blender. Sentuhan akhirnya adalah perasan lemon.

Lho, bukankah lemon itu asam? Ternyata itu adalah salah kaprah. Hanya karena rasanya asam tidak berarti lemon bersifat asam. Kalau kita minum sari lemon, cairan itu akan teroksidasi menjadi air, karbon dioksida, dan berbagai komponen anorganik yang bersifat alkali. Karena itu, lemon adalah salah satu jenis jeruk (citrus) yang bersifat alkali. Demikian pula halnya dengan berbagai jenis buah yang sekalipun rasanya asam–seperti nenas, jeruk, dan anggur–tetapi bersifat alkali.

Tumis kembang kol buatan Jane lebih mirip masakan India dari segi aroma, penampilan, dan cita rasa. Kembang kol dicincang halus, dan ini rupanya merupakan “siasat” agar menyerap sebanyak mungkin cita rasa bumbu yang sesungguhnya minimalis. Untuk menciptakan tekstur yang kontras, cincangan kembang kol ini dicampur dengan cincangan kacang almond. Dibumbui dengan sedikit bawang putih, red onion, kunyit, dan bumbu kari, tumisan cepat ini diselesaikan dengan guyuran sedikit kaldu sayur untuk membuatnya sedikit nyemek.

Saya sungguh menikmati suguhan Jane Chen sore itu di rumahnya. Masakannya sekaligus membuktikan bahwa makanan sehat tidak harus mengorbankan kecerdasan lidah kita. Secara tekstur, aroma, maupun cita rasa, makanan alkali tetap merupakan produk kuliner yang perlu diacungi jempol.

Di Bali, sekarang banyak dijumpai restoran maupun bakery yang menyajikan makanan sehat – baik makanan alkali, makrobiotik, vegetarian, organik, maupun health foods lainnya. Zula, misalnya, sebuah rumah makan di Jalan Dhyanapura yang menyajikan masakan makrobiotik.

Makrobiotik adalah sebuah metodologi diet yang populer di Jepang pada tahun 1980-an. Makro berarti besar atau panjang, dan bio berarti hidup. Artinya, dengan menjalani metodologi ini orang diharapkan akan hidup lebih panjang usia. Pada dasarnya, konsep ini mengajarkan orang untuk makan biji-bijian, kacang-kacangan, dan sayur-mayur. Makanan-makanan yang diproses harus dihindari, dan semua makanan harus dikunyah sampai lembut sebelum ditelan.

Secara garis besar, makrobiotik hampir mirip dengan prinsip makanan alkali, khususnya dalam hal pantangan daging serta pilihan terhadap bahan pangan organik.  Tetapi, makrobiotik malah lebih ketat lagi karena berpegang pada prinsip keseimbangan energi yin dan yang. Makanan menimbulkan energi bagi kita. Tetapi, energi itu harus imbang yin-yang-nya, dan keseimbangan itu hanya dapat dicapai dengan pilihan menu yang tepat. Beberapa jenis makanan yang dianjurkan di makanan alkali–seperti alpokat, bit, bayam– dilarang dalam konsep makrobiotik karena dianggap terlalu condong ke yin. Makrobiotik juga merupakan metodologi diet yang dianjurkan untuk penderita kanker.

Daftar menu di “Zula” yang saya amati selalu menampilkan rumput laut di dalam setiap paket kombo yang ditawarkan. Ini menunjukkan bahwa rumput laut memang merupakan elemen penting sebagai pelengkap menu sehat. “Zula” juga menyajikan teh yang tidak bersifat acidic. Teh yang saya minum rasanya sangat mirip dengan seduan dari beras merah yang disangrai hingga agak gosong.

Apa arti semua pengetahuan baru itu bagi saya? Selama ini saya selalu menekankan pentingnya prinsip “ketahuilah apa yang kau makan” (know what you eat) bagi semua orang yang gemar makan-makan. Ilmu-ilmu baru itu melengkapi pemahaman saya tentang makanan. Sayangnya, profesi yang sedang saya jalani belum memberi kesempatan untuk secara penuh melakukan prinsip-prinsip makrobiotik maupun makanan alkali. Kedua metodologi itu jelas merupakan pilihan masuk akal yang pasti akan saya jalani secara sukarela dalam waktu dekat.

Siapa sih yang tidak ingin hidup sehat lahir dan batin?
 

Editor :