Rabu, 23 Juli 2014

News /

Ikopin Magangkan Mahasiswa ke Jepang

Rabu, 23 Januari 2008 | 19:04 WIB

BANDUNG, RABU – Institut Manajamen Koperasi Indonesia atau Ikopin Jatinangor mulai tahun ajaran 2007/2008 membuka program studi Penciptaan Sarjana Pengusaha. Melalui program studi setingkat sarjana ini, mahasiswa dapat melakukan kuliah magang di Jepang di tahun ketiga kuliah.

Hal itu disampaikan Rektor Ikopin Prof. Rully Indrawan di sela-sela kunjungan ke Kantor Kompas Biro Jawa Barat Jalan R.E. Martadinata Nomor 46. Rully dan rombongan pejabat institut maupun fakultas Ikopin lainnya diterima Kepala Biro Kompas Jabar Dedi Muhtadi, Rabu (23/1).

Rully menjelaskan, prodi Penciptaan Sarjana Pengusaha ini merupakan sebuah ide terobosan dari Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Departemen Tenaga Kerja. Prodi yang terutama ditujukan lulusan pria Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) ini memadukan aspek kuliah formal (akademis) dengan kerja praktik di negara sakura.

”Di Ikopin, mereka akan dididik terlebih dahulu selama tiga semester. Lalu, pada semester berikutnya, selama 3 tahun, mereka dimagangkan di Jepang. Di sana, mereka akan melakukan adopsi budaya. Bagaimana mengenal etos kerja mereka dan menularkan di sini,” ucapnya.

Menurut Rully, program ini dimunculkan atas latar belakang terus meningkatnya laju pengangguran lulusan perguruan tinggi dan dunia kerja yang kian selektif memilih calon pekerjanya. Program ini pada intinya bertujuan mengasah pengalaman calon SDM di Jepang agar selanjutnya mereka bisa mengaplikasikan ilmu dan menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia. Mereka diwajibkan mengikuti perjanjian dan ikatan institusi.

Modal Rp 52 juta
Selama di Jepang, kebutuhan hidup dan biaya pendidikan ditanggung perusahaan dari tempat magang. Tunjangan pelatihan mencapai 80.000 Yen (Rp 7 juta) hingga 100 ribu Yen (Rp 8,7 juta) per mahasiswa. Sementara, besarnya nilai usaha mandiri (modal) mencapai 600 ribu Yen (Rp 52 juta)-bagi yang menyelesaikan program tepat tiga tahun. Masing-masing mahasiswa juga akan mendapat satu unit laptop pada semester ketiga. 

Prodi ini merupakan kerjasama antarpemerintah. Adapun perusahaan tempat magangnya ditentukan Departemen Tenaga Kerja setempat. Di tahun pertamanya, jumlah mahasiswa prodi ini baru 30 orang dari total pendaftar 134 orang. ”Kuotanya sebetulnya jauh lebih besar. Sedikit karena yang lolos seleksi hanya segitu,” ucapnya. Syarat-syarat pesertanya termasuk ketat. Antara lain, lulusan SMK. Jika SMA, maka ia harus memiliki sertifikat keterampilan dari Balai Latihan Kerja (BLK).


Editor :