Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

LHKPN Eks Kepala Bea Cukai Purwakarta Rp 6,39 M, tapi Beri Utang Rp 7 M, KPK: Enggak Masuk Akal

Kompas.com - 16/05/2024, 14:18 WIB
Syakirun Ni'am,
Dani Prabowo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut, eks Kepala Bea dan Cukai Purwakarta Rahmady Effendi Hutahaean meminjamkan uang Rp 7 miliar, padahal hartanya hanya Rp 6,39 miliar.

Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan mengatakan, keganjilan tersebut merupakan salah satu materi yang diadukan atas dugaan ketidakwajaran Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Rahmady.

“Hartanya Rp 6 miliar tapi kok dilaporkan dia memberikan pinjaman sampai Rp 7 miliar, kan gitu enggak masuk di akal ya,” kata Pahala saat ditemui awak media di Gedung KPK lama, Jakarta Selatan, Kamis (16/5/2024).

Baca juga: KPK Akan Undang Eks Kepala Kantor Bea Cukai Purwakarta untuk Klarifikasi LHKPN

Menurut Pahala, persoalan Rahmady berawal dari perselisihan yang terjadi di internal perusahaan. Istrinya tercatat sebagai pemilik saham pada perusahaan tersebut.

Pihak yang berselisih saling melaporkan satu sama lain. Adapun Rahmady dilaporkan ke KPK atas dugaan kepemilikan harta yang tidak wajar.

Adapun KPK akan mengundang Rahmady untuk menjalani klarifikasi LHKPN pada pekan depan.

“Jadi kita kalrifikasi, nanti kita kasih tahu lah hasilnya apa kira-kira ya. Tapi ini sekali lagi dampak dari karena ada harta berupa saham di perusahaan lain,” ujar Pahala.

Pahala menambahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menerbitkan peraturan yang menentukan bagaimana pegawainya yang memiliki saham atau investasi di suatu perusahaan.

Deputi Pencegahan dan Monitoring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Pahala Nainggolan menyebut eks Kepala Bea dan Cukai Purwakarta Rahmady Effendi Hutahaean meminjamkan uang Rp 7 miliar, padahal hartanya hanya Rp 6,39 miliar, Kamis (16/5/2024).KOMPAS.com/Syakirun Ni'am Deputi Pencegahan dan Monitoring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Pahala Nainggolan menyebut eks Kepala Bea dan Cukai Purwakarta Rahmady Effendi Hutahaean meminjamkan uang Rp 7 miliar, padahal hartanya hanya Rp 6,39 miliar, Kamis (16/5/2024).

Aturan itu merespons surat dari KPK yang meminta agar potensi konflik kepentingan pegawai Kementerian Keuangan ditangani dengan baik.

“Itu diatur detail di situ. Ada yang harus diumumkan, ada yang tidak boleh, ada yang enggak apa-apa,” tutur Pahala.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan membebastugaskan Rahmady dari jabatannya sebagai Kepala Bea Cukai Purwakarta.

Keputusan ini diambil setelah Rahmady dilaporkan pengusaha Wijanto Tirtasana melalui pengacaranya, Andreas atas dugaan LHKPN tak wajar.

Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa DJBC Kemenkeu Nirwala Dwi Heryanto mengatakan, Rahmady dibebastugaskan setelah menjalani pemeriksaan.

Baca juga: Sosok Rahmady Effendi Hutahaean, Eks Kepala Kantor Bea Cukai Purwakarta yang Dilaporkan ke KPK

"Dan hasil pemeriksaan tersebut menemukan indikasi terjadinya benturan kepentingan yang juga turut melibatkan keluarga yang bersangkutan," kata Nirwala, dalam keterangannya.

Berdasarkan penelusuran Kompas.com di situs resmi e LHKPN KPK, kekayaan Rahmadyy tercatat Rp 6.395.090.149 atau Rp 6,39 miliar.

Komponen kekayaannya yang paling dominan adalah harta bergerak lainnya senilai Rp 3.284.000.000.

Selain persoalan utang piutang itu, Rahmady juga disebut memiliki perusahaan dengan aset mencapai Rp 60 miliar.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Heboh Penguntitan Jampidsus, Anggota DPR Minta Panglima Tarik TNI di Kejagung

Heboh Penguntitan Jampidsus, Anggota DPR Minta Panglima Tarik TNI di Kejagung

Nasional
Cek Tempat Penggilingan, Satgas Pangan Polri Pastikan Stok Beras Masih Cukup

Cek Tempat Penggilingan, Satgas Pangan Polri Pastikan Stok Beras Masih Cukup

Nasional
Tanduk Banteng Masih Tajam

Tanduk Banteng Masih Tajam

Nasional
Foya-foya SYL dan Keluarga Ditanggung Kementan, Biaya Makan hingga Klinik Kecantikan

Foya-foya SYL dan Keluarga Ditanggung Kementan, Biaya Makan hingga Klinik Kecantikan

Nasional
Pemerintah Diminta Tak Paksa Pekerja Bayar Tapera

Pemerintah Diminta Tak Paksa Pekerja Bayar Tapera

Nasional
Drone : 'Game Changer' Kekuatan Udara TNI AU

Drone : "Game Changer" Kekuatan Udara TNI AU

Nasional
Kejagung Jelaskan soal Lelang Saham PT GBU yang Bikin Jampidsus Dilaporkan ke KPK

Kejagung Jelaskan soal Lelang Saham PT GBU yang Bikin Jampidsus Dilaporkan ke KPK

Nasional
[POPULER NASIONAL] SYL Ajak Makan Biduan Nayunda | Surya Paloh Dilaporkan Kegiatan Organisasi Sayap Nasdem Didanai Kementan

[POPULER NASIONAL] SYL Ajak Makan Biduan Nayunda | Surya Paloh Dilaporkan Kegiatan Organisasi Sayap Nasdem Didanai Kementan

Nasional
Kemenlu RI: 24 WNI yang Ditangkap Palsukan Visa Haji, 22 di Antaranya Akan Dideportasi

Kemenlu RI: 24 WNI yang Ditangkap Palsukan Visa Haji, 22 di Antaranya Akan Dideportasi

Nasional
124.782 Jemaah Calon Haji RI Sudah Tiba di Tanah Suci, 24 Orang Wafat

124.782 Jemaah Calon Haji RI Sudah Tiba di Tanah Suci, 24 Orang Wafat

Nasional
Istana Mulai Bahas Peserta Upacara 17 Agustus di IKN

Istana Mulai Bahas Peserta Upacara 17 Agustus di IKN

Nasional
Kejagung Tetapkan 6 Eks GM PT Antam Jadi Tersangka Korupsi Emas 109 Ton

Kejagung Tetapkan 6 Eks GM PT Antam Jadi Tersangka Korupsi Emas 109 Ton

Nasional
Terima Aduan Keluarga Vina, Komnas HAM Upayakan 'Trauma Healing' dan Restitusi

Terima Aduan Keluarga Vina, Komnas HAM Upayakan "Trauma Healing" dan Restitusi

Nasional
SYL Beri Kado Kalung Emas Buat Penyanyi Dangdut Nayunda Nabila

SYL Beri Kado Kalung Emas Buat Penyanyi Dangdut Nayunda Nabila

Nasional
Febri Diansyah Jadi Saksi di Sidang SYL Senin Pekan Depan

Febri Diansyah Jadi Saksi di Sidang SYL Senin Pekan Depan

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com