Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ikrama Masloman
Strategic Manager KCI LSI

Peneliti Senior Lingkaran Survei Indonesia

Ilusi Kampanye Membeludak Pilpres 2024: Besar di Lapangan, Ciut di Survei

Kompas.com - 07/11/2023, 05:45 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Kampanye di ruang gema dan psikologi timses

Selain soal jumlah, ada faktor motif dan faktor segmen massa yang hadir dalam kampanye, yang membuat kerumunan bukanlah prediktor tepat dalam mengukur keterpilihan (elektabilitas).

Dari faktor segmen, massa yang berkumpul cenderung seragam, atau berkarakter sama, yaitu mereka yang telah mendukung capres-cawapres atau barisan simpatisan partai pengusung.

Massa yang datang tidak secara acak (random), ia cenderung homogen, maka dia tidak dapat menggambarkan populasi.

Kerumunan ibarat berada di Ruang Gema (Echo Chamber). Mereka yang datang tanpa dimobilisasi adalah mereka yang telah menjadi pendukung simpatisan capres-cawapres.

Seperti puluhan ribu massa yang mendengar pidato capres Ganjar Pranowo di GBK, Jakarta, yang notabene adalah kader PDIP perjuangan.

Artinya massa yang datang tidak menambah ceruk pemilih baru, karena sejak awal mereka pendukung. Kerumunan lebih sebagai euforia ajang unjuk gigi dan ritus penebalan iman politik para pendukung.

Tidak bisa disampingkan juga bahwa kerumunan tercipta karena adanya mobilisasi. Dalam mobilisasi, faktor motif peserta yang hadirpun beragam. Ada yang dijanjikan uang, tertarik dengan aneka door prize seperti rumah, umroh, motor dan banyak hadiah lain seperti pada kegiatan jalan santai pasangan Anies-Muhaimin di banyak wilayah.

Faktor hiburan yang disediakan penyelenggara juga jadi alasan. Bahkan ada terpicut karena ikut-ikutan atau sekadar penasaran hingga tidak enak menolak ajakan kawan.

Artinya selain daya tarik capres-cawapres, yang tak kalah dominan adalah kontribusi organizers.

Dalam menghimpun massa tidak selalu bersyarat, cukup mereka mau ikut berkerumun, sehingga kerumunan tidak totalitas cerminan elektabilitas.

Mereka di balik layar yang mengumpulkan kerumunan adalah yang paling perlu diapresiasi.

Dalam matematika politik, ketimbang berkerumun dalam ruang gema yang diisi barisan pendukung semata, lebih punya daya dobrak ketika capres-cawapres masuk ke ceruk pemilih baru dengan masuk di kantong-kantong pemilih lawan.

Siapkan dua tiga gimmick menarik, sentimen yang merangkul dan tawaran program memikat.

Meski upaya itu belum tentu melahirkan kerumunan, namun apalah arti kerumunan di sisa-sisa masa kampanye yang pendek.

Maka jangan risaukan massa yang datang meski kecil, yang terpenting isunya bisa menggelegar.

Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

[POPULER NASIONAL] SYL Ajak Makan Biduan Nayunda | Surya Paloh Dilaporkan Kegiatan Organisasi Sayap Nasdem Didanai Kementan

[POPULER NASIONAL] SYL Ajak Makan Biduan Nayunda | Surya Paloh Dilaporkan Kegiatan Organisasi Sayap Nasdem Didanai Kementan

Nasional
Kemenlu RI: 24 WNI yang Ditangkap Palsukan Visa Haji, 22 di Antaranya Akan Dideportasi

Kemenlu RI: 24 WNI yang Ditangkap Palsukan Visa Haji, 22 di Antaranya Akan Dideportasi

Nasional
124.782 Jemaah Calon Haji RI Sudah Tiba di Tanah Suci, 24 Orang Wafat

124.782 Jemaah Calon Haji RI Sudah Tiba di Tanah Suci, 24 Orang Wafat

Nasional
Istana Mulai Bahas Peserta Upacara 17 Agustus di IKN

Istana Mulai Bahas Peserta Upacara 17 Agustus di IKN

Nasional
Kejagung Tetapkan 6 Eks GM PT Antam Jadi Tersangka Korupsi Emas 109 Ton

Kejagung Tetapkan 6 Eks GM PT Antam Jadi Tersangka Korupsi Emas 109 Ton

Nasional
Terima Aduan Keluarga Vina, Komnas HAM Upayakan 'Trauma Healing' dan Restitusi

Terima Aduan Keluarga Vina, Komnas HAM Upayakan "Trauma Healing" dan Restitusi

Nasional
SYL Beri Kado Kalung Emas Buat Penyanyi Dangdut Nayunda Nabila

SYL Beri Kado Kalung Emas Buat Penyanyi Dangdut Nayunda Nabila

Nasional
Febri Diansyah Jadi Saksi di Sidang SYL Senin Pekan Depan

Febri Diansyah Jadi Saksi di Sidang SYL Senin Pekan Depan

Nasional
SYL Pesan 'Wine' saat Makan Siang, Dibayar Pakai Uang Kementan

SYL Pesan "Wine" saat Makan Siang, Dibayar Pakai Uang Kementan

Nasional
Kementan Kerap Tanggung Biaya Makan Bersama SYL dan Eselon I

Kementan Kerap Tanggung Biaya Makan Bersama SYL dan Eselon I

Nasional
Draf Revisi UU Polri: Perpanjangan Usia Pensiun Jenderal Polisi Ditetapkan dengan Keputusan Presiden

Draf Revisi UU Polri: Perpanjangan Usia Pensiun Jenderal Polisi Ditetapkan dengan Keputusan Presiden

Nasional
Bayar Cicilan Apartemen Biduanita Nayunda, SYL: Saya Merasa Berutang Budi

Bayar Cicilan Apartemen Biduanita Nayunda, SYL: Saya Merasa Berutang Budi

Nasional
Kehadirannya Sempat Buat Ricuh di MK, Seorang Saksi Mengaku Tambah Ratusan Suara PAN di Kalsel

Kehadirannya Sempat Buat Ricuh di MK, Seorang Saksi Mengaku Tambah Ratusan Suara PAN di Kalsel

Nasional
Gerindra: Negara Rugi jika TNI-Polri Pensiun di Usia 58 Tahun

Gerindra: Negara Rugi jika TNI-Polri Pensiun di Usia 58 Tahun

Nasional
Kemenkominfo Galang Kolaborasi di Pekanbaru, Jawab Tantangan Keberagaman untuk Kemajuan Bangsa

Kemenkominfo Galang Kolaborasi di Pekanbaru, Jawab Tantangan Keberagaman untuk Kemajuan Bangsa

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com