JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) membeberkan beberapa kejanggalan dalam vonis bebas yang diterima dua terdakwa tragedi Kanjuruhan.
Begitu juga dengan vonis ringan yang diterima tiga terdakwa lainnya dalam tragedi yang menewaskan 135 suporter sepak bola itu.
"Keganjilan-keganjilan yang kami maksud antara lain aktor yang diproses secara hukum hanyalah aktor lapangan," ujar Divisi Hukum Kontras Andi Rezaldy dalam keterangan tertulis, Jumat (17/3/2023).
Baca juga: 2 Polisi Terdakwa Tragedi Kanjuruhan Divonis Bebas, Berikut Alasannya
Selain itu, kejanggalan dalam sidang juga terlihat ketika akses terhadap pengunjung dan pemantau persidangan sangat dibatasi di awal persidangan.
Kejanggalan berikutnya, terdakwa sempat dinyatakan hanya akan dihadirkan secara daring dan kepentingan anggota Polri sebagai penasihat hukum dalam persidangan yang disebut dapat menimbulkan konflik kepentingan.
Kontras juga mencatat kejanggalan hakim dan jaksa penuntut umum (JPU) yang cenderung pasif dalam menggali kebenaran materil.
"Minimnya keterlibatan saksi korban dan keluarga korban sebagai saksi dalam persidangan (juga menjadi kejanggalan)," kata Andi.
Baca juga: Kontras: Vonis Sidang Tragedi Kanjuruhan Jauh dari Harapan Keadilan
Komposisi saksi didominasi oleh aparat kepolisian sangat janggal, serta intimidasi anggota Polri dengan membuat kegaduhan dalam proses persidangan.
"Adanya pengaburan fakta penembakan gas air mata kebagian tribune penonton, hingga peristiwa kekerasan dan penderitaan suporter baik di dalam maupun di luar stadion yang tidak diungkap secara utuh," tutur Andi.
Sebab itu, Kontras bersama Koalisi Masyarakat Sipil meyakini peradilan yang memberikan vonis bebas terhadap dua terdakwa dan vonis ringan untuk tiga terdakwa tragedi Kanjuruhan sebagai peradilan yang sesat.
"Kami juga turut melihat bahwa proses persidangan tersebut merupakan bagian dari proses peradilan yang sesat (malicious trial process). Dugaan kami turut didorong dengan berbagai keganjilan selama persidangan yang kami temukan," kata dia.
Baca juga: Terdakwa Peristiwa Kanjuruhan Bebas, Komnas HAM: Tidak Mencerminkan Rasa Keadilan
Diketahui tiga terdakwa polisi dalam tragedi Kanjuruhan telah menjalani vonis di Pengadilan Negeri Surabaya, dua di antaranya divonis bebas.
Mereka yang divonis bebas adalah mantan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi dan Mantan Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto.
Sementara terdakwa polisi yang divonis satu tahun enam bulan penjara adalah Mantan Komandan Kompi 1 Brimob Polda Jatim AKP Hasdarmawan.
Dalam perkara yang sama, Ketua Panpel Arema FC Abdul Haris divonis satu tahun enam bulan penjara, oleh Majelis Hakim. Sedangkan terdakwa Security Officer Suko Sutrisno dihukum bui selama 1 tahun.
Baca juga: Terdakwa Peristiwa Kanjuruhan Bebas, Komnas HAM Dukung JPU Ajukan Banding
Adapun tragedi Kanjuruhan merupakan peristiwa kematian masal yang disebabkan oleh lontaran gas air mata yang ditembakan petugas ke tribune penonton Stadion Kanjuruhan saat pertandingan sepakbola Arema FC menjamu Persebaya Surabaya, 1 Oktober 2022.
Gas air mata tersebut kemudian menyebabkan masa panik dan berdesakan keluar sehingga menyebabkan kematian masal. Setidaknya ada 135 korban jiwa akibat peristiwa itu.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanPeriksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.