Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 15/02/2023, 15:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

MENTERI Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Prof. Mahfud MD pada Senin, 13 Februari 2023, di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur, bersama sejumlah perwakilan partai politik (parpol) mengumandangkan salawat.

Kegiatan bersalawat itu dalam rangka mendinginkan suhu politik menjelang Pemilu 2024.

Salawat yang dikumandangkan adalah syiir tanpo waton, berbahasa Jawa. Inti dari salawat ini antara lain menyampaikan nasihat dan menguatkan kasih sayang. Pas, ketika ditarik relevansinya untuk aktualitas polik dewasa ini.

Pada konteks ini juga ketika pada Selasa, 14 Februari 2023, banyak kalangan merayakan Hari Valentine, Hari Kasih Sayang. Maka ini juga dapat direfleksikan untuk aktualitas dinamika perpolitikan.

Dengan demikian tampak jelas bahwa dinamika politik jelang Pemilu 2024 yang semakin menghangat, dibutuhkan pembasuhnya bernama kasih sayang atau cinta.

Terlebih bahasa cinta penuh kasih sayang dibutuhkan kalangan muda, maka relevan ketika jumlah pemilu Pemilu 2024 kalangan muda lebih banyak.

Dalam diskusi bertajuk "Pentingnya Pemilih Pemula dan Pemilih Muda Mengenal Bentuk dan Jenis Pelanggaran Pemilu", Jumat (10/2/2023), Koordinator Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat KPU RI August Mellaz menilai bahwa Pemilu 2024 akan jadi momen krusial bagi kalangan muda untuk menentukan arah masa depan Indonesia.

KPU menyebut bahwa Pemilu 2024 bakal didominasi oleh pemilih muda, dalam artian mereka yang berusia maksimum 40 tahun pada hari pemungutan suara 14 Februari 2024.

"Proporsinya sekitar 53-55 persen, atau 107-108 juta dari total jumlah pemilih di Indonesia," ujar Mellaz (Kompas.com, 10/2/2023).

Bahasa cinta

Seorang ulam besar, Buya Hamka, yang petuah-petuahnya memperkaya jiwa menentramkan hati, mengatakan bahwa "Cinta itu perang, yakni perang yang hebat dalam rohani manusia. Jika ia menang, akan didapati orang yang tulus ikhlas, luas pikiran, sabar dan tenang hati. Jika ia kalah, akan didapati orang yang putus asa, sesat, lemah hati, kecil perasaan dan bahkan kadang-kadang hilang kepercayaan pada diri sendiri."

Dengan terminologi semua itu, maka diharapkan agar para pelaku politik Indonesia modern senantiasa “menang” dalam kerohanian itu.

Sehingga dalam “persaingan” politik tidak mudah mumunculkan hoaks, ujaran kebencian, maupun penistaan.

Dalam bahasa syiir tanpo waton disebut “mudah mengafirkan orang lain.” Sedangkan dalam bahasa Hari Valentine, “kehilangan fokus kasih sayang.”

Maka ketika Menko Polhukam Mahfud Md salawat bersama tokoh-tokoh politik antara lain Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat Jawa Barat Dede Yusuf, Waketum PAN Viva Yoga Mauladi, Ketua DPP NasDem Effendy Choirie atau Gus Choi, Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzil, Sekretaris Dewan Pertimbangan DPP PSI Raja Juli, Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, Sekjen PPP Arwani –menandakan bahwa cinta penuh kasih sayang adalah filsafat bersama.

Filsafat bersama ini yang ketika diterapkan dalam agenda-agenda politik, memunculkan statemen yang mendasari cinta penuh kasih sayang.

Maka sebagaimana katakan begitu puitis oleh penyair sufi abad 13, Jalaluddin Rumi, “cinta kasih mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam."

Oleh karena itu, filsafat bersama yang demikian menjadi sentuhan cinta untuk politik, bukanlah semacam tafsir realitas yang menafikan perbedaan dan persaingan.

Dalam dunia politik, perbedaan dan persaingan tidak bisa dinafikan begitu saja. Demi sehatnya demokrasi, hal tersebut harus dikelola.

Faktor mengelola persaingan dan perbedaan yang mempersyarakatkannya, sebagai alternatif yang sehat, adalah cinta penuh kasih sayang.

Dinamika politik yang masih punya daya sentuh cinta, menyimpan semangat perjuangan yang penuh toleransi, yang bisa dibaca sebagai mufat untuk menemui solusi dari keadaan perbedaan dan persaingan yang menegangkan.

Walau politik dalam nilai-nilai kodratiknya adalah proses pembuatan konstitusional, tidak berarti nilai kodratiknya ini menutup sentuhan cinta kasih sayang atas perbedaan dan persaingan yang ada.

Negosiasi-negosiasi atau lobi-lobi politik, secara posistif dalam kontek sentuhan cinta kasih sayang adalah musyawarah untuk mufakat untuk kepastian solusi.

Bahkan akademisi maupun para ilmuwan politik, sudah pada menurunkan disertasi maupun teori-teori konteks solusi politik yang berkompromi dan tanpa kekerasan.

Di sinilah sentuhan cinta untuk semakin memperjelas bahwa politik adalah seni ilmu pemerintahan yang tidak melulu berdiskripsi negatif.

Adanya pemilihan umum (pemilu) sebagai pengejawantahan kedaulatan rakyat, serta bagian implementasi sistim demokrasi yang sehat, mengakomodasi persaingan dan perbedaan secara konstitusional.

Maka dengan adanya sentuhan cinta untuk politik, membuat secara empiris dan normatif bahwa kerjasama lebih diutamkan ketimbang konflik diperpanjang.

Persaingan menjadi buruk

Demokrasi, terlebih menjelang pemilu, memang punya doktrin untuk mengamini persaingan politik. Karena itu diharuskan adanya konstitusi atau aturan hukum yang tegas dan adil untuk menjaga persaingan politik tidak melenceng.

Meski demikian masih saja aturan main yang disepakati itu, disiasati dan dicari celah-celah untuk menerobosnya. Demi menjadi pemenang, demi mengalahkan pesaing lain yang dijadikan lawan-lawan politik.

Persaingan politik yang demikian menjadi berbahaya, sedikitnya tidak bermanfaat. Inilah mengapa Henry Ford (1863-1947) mengingatkan bahwa "Persaingan yang tujuannya hanya untuk bersaing, untuk mengalahkan orang lain, tak pernah mendatangkan banyak manfaat."

Persaingan politik dalam ekosistem demokrasi memang dibenarkan. Namun persaingan ini kesempatan mengeksploitasi power politik, hanya memperjelas ada kekukuhan oligarki politik. Akibatnya, demokrasi jalannya sempoyongan dan menjadi tidak sehat.

Penggambaran yang mengerikan terhadap hal itu, diungkapkan oleh Sir Bernard Rowland Crick (1929 –2008) bahwa "Metode pemerintahan tiran dan oligarki cukup sederhana untuk memaki, memaksa, atau mengalahkan semua atau sebagian besar kelompok lain demi kepentingan mereka sendiri."

Penggambaran dari ahli teori politik Inggris –yang terkenal kredonya "politik adalah etika yang dilakukan di depan umum"– ini patut kita renungkan bersama.

Maka berdasarkan teori, persaingan politik yang ujung-ujungnya memperkuat oligarki, menyebabkan demokrasi tidak sehat dan sekaligus menurutkan kualitas personalitas pelaku politik.

Dan semakin banyaknya politik yang tidak berkualitas, negara bakal mudah memproduksi kekerasan politik secara konstitusional. Lalu negara dalam bahaya, karena kehidupan politiknya sudah tidak lagi rasional.

Pada sudut pandang yang irasional itu, persaingan politik antarparpol maupun antarpersonal, menjadikan persaingan yang kehilangan visi bernegara.

Oleh karena itu kekerasan, dalam segala bentuknya, terangan-terangan atau tersembunyi terus menerus terjadi. Perikehidupan negara yang demikian, tidak ada kedamaian, tidak ada cinta.

Mencegah fanatisme over dosis

Sentuhan cinta penuh kasih sayang dalam dunia politik, membuat para pelaku politik mempunyai sudut pandang positif yang kukuh terhadap “rival” politiknya.

Maka kritik yang terlontar satu sama lain, bukanlah lemparan bara api. Melainkan, benih motivasi untuk perbaikan untuk lebih bagus lagi.

Dari sinilah kemudian adanya perbedaan menjadi sesuatu yang natural. Tak perlu dihindari, tapi jangan dihadapi dengan semangat permusuhan.

Sentuhan cinta dalam politik ini membuat perbedaan politik itu pula dihadapi dengan cara-cara elegan. Cara-cara elegan ini pula yang memperhatikan etika berpolitik.

Bagaimanapun partai politik (parpol), maupun pelaku politik, harus mempunyai etika politik. Karena punya etika inilah dalam politik dua tambah dua tidak lagi hasilnya “mungkin” lima atau “mungkin” tiga.

Etika politik yang selalu bersentuhan dengan cinta kasih sayang pula, menjadi turbin energi untuk bersinergi tanpa adanya menjatuhkan pesaing.

Etika politik yang bersentuhan cinta ini oleh karenanya bisa mengurangi sikap fantasime jadi berdosis normal. Berdosis normal ini dalam bahasa filsuf Ralph Waldo Emerson (1803-1882), adalah "Tidak ada kinerja yang kuat tanpa sedikit fanatisme dalam diri pemain."

Ingat, sedikit fanatis. Karena fanatisme yang over dosis menjadi ancaman bagi suatu keutuhan negara.

Dalam bahasa psikoterapis Albert Ellis (1913-2007), begini: “"Fanatisme yang berlebihan dengan jelas telah menghasilkan, dan kemungkinan besar akan terus menghasilkan, pertengkaran, perkelahian, kekerasan, pertumpahan darah, pembunuhan, permusuhan, perang, dan genosida dalam jumlah besar."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
NASIONAL
"Labelling"
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PDI-P Bakal Hormati Apa Pun Putusan MK soal Sistem Pemilu

PDI-P Bakal Hormati Apa Pun Putusan MK soal Sistem Pemilu

Nasional
Polri Pastikan Promotor Konser Coldplay Tak Terlibat Kasus Penipuan Jastip Tiket

Polri Pastikan Promotor Konser Coldplay Tak Terlibat Kasus Penipuan Jastip Tiket

Nasional
Ada Denda 200 SAR, Jemaah Haji Dilarang Merokok di Kawasan Pemondokan dan Masjid Nabawi

Ada Denda 200 SAR, Jemaah Haji Dilarang Merokok di Kawasan Pemondokan dan Masjid Nabawi

Nasional
Soal Pernyataan Informasi Putusan MK, Denny Indrayana Bantah Bocorkan Rahasia Negara

Soal Pernyataan Informasi Putusan MK, Denny Indrayana Bantah Bocorkan Rahasia Negara

Nasional
KPU Tetapkan 5 Surat Suara dengan Warna Berbeda, Abu-abu untuk Pilpres

KPU Tetapkan 5 Surat Suara dengan Warna Berbeda, Abu-abu untuk Pilpres

Nasional
Dua Tahun Hiatus, Kantin Kontainer Dompet Dhuafa Kembali Bantu Mahasiswa Kurang Mampu di UIN Salatiga

Dua Tahun Hiatus, Kantin Kontainer Dompet Dhuafa Kembali Bantu Mahasiswa Kurang Mampu di UIN Salatiga

Nasional
KPU: Uang Elektronik dan Jasa Akan Masuk Kategori Dana Kampanye

KPU: Uang Elektronik dan Jasa Akan Masuk Kategori Dana Kampanye

Nasional
Hari Ini, Polri Gelar Sidang Etik Teddy Minahasa

Hari Ini, Polri Gelar Sidang Etik Teddy Minahasa

Nasional
Petugas 'Door to Door' Ingatkan Jemaah Haji Lansia Tak Paksakan Diri Salat di Masjid Nabawi

Petugas "Door to Door" Ingatkan Jemaah Haji Lansia Tak Paksakan Diri Salat di Masjid Nabawi

Nasional
KPK Duga Eks Komisaris PT Wika Beton Sering Temui Sekretaris MA di Kantor

KPK Duga Eks Komisaris PT Wika Beton Sering Temui Sekretaris MA di Kantor

Nasional
KPU: Verifikasi Administrasi Bacaleg DPR RI Sudah 32 Persen

KPU: Verifikasi Administrasi Bacaleg DPR RI Sudah 32 Persen

Nasional
Jemaah Haji Wafat Jadi 4 Orang, Sakit 84 Orang hingga 30 Mei

Jemaah Haji Wafat Jadi 4 Orang, Sakit 84 Orang hingga 30 Mei

Nasional
Gaduh soal Bocornya Putusan MK Terkait Sistem Pemilu yang Berujung Kemungkinan Penyelidikan Polisi

Gaduh soal Bocornya Putusan MK Terkait Sistem Pemilu yang Berujung Kemungkinan Penyelidikan Polisi

Nasional
10 Toilet Tambahan Disiapkan di Setiap Maktab Arafah

10 Toilet Tambahan Disiapkan di Setiap Maktab Arafah

Nasional
Komisi II Minta KPU-Bawaslu Hindari Cara Transaksional Saat Rekrut Anggota di Daerah

Komisi II Minta KPU-Bawaslu Hindari Cara Transaksional Saat Rekrut Anggota di Daerah

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com