Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ari Junaedi
Akademisi dan konsultan komunikasi

Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama.

Saat Mantan (Pejabat) Susah "Move On"

Kompas.com - 30/01/2023, 08:36 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Mantan itu seseorang yang pernah ada dan sekarang tetap ada meski tidak sama.” – anonim

POSISI mantan itu kerap dianggap “menyakitkan” serta terbuang. Dia dianggap “bekas” yang tidak terpakai lagi. Jasa-jasa dan kebaikan masa lalu hilang begitu saja, seolah tidak dianggap pernah ada.

Mantan dianggap pelengkap dan “kecelakaan” sejarah. Mantan adalah “sampah” yang harus dijauhkan.

Padahal jika dinilai dengan “baik-baik saja” tidak sedikit mantan yang begitu berjasa dalam penggal kehidupan. Mantan berjasa dalam mengantarkan tahap kebaikan mengingat apa yang ada di era sekarang tidak terlepas dari kontribusi masa lalu.

Mantan malah bisa membimbing penggantinya untuk paham kesalahan di masa lalu. Meneruskan apa yang sudah dilakukan mantan dan memperbaiki ke arah yang lebih baik. Mantan harus seiring sejalan dengan penggantinya.

Kisah mantan yang tidak “legowo” dengan penggantinya, tidak saja dalam kisah percintaan, tetapi juga berlaku di ranah politik.

Bekas Wali Kota Blitar Samanhudi Anwar mencoreng terminologi “mantan” menjadi negatif usai dirinya “membimbing” para residivis di Lembaga Pemasyarakatan Sragen untuk menggangsir rumah dinas wali kota penggantinya, 12 Desember 2022 lalu.

Mantan Wali Kota Blitar Samanhudi Anwar ditangkap polisi karena menjadi otak perampokan rumah dinas Wali Kota Blitar Santoso.

Samanhudi Anwar padahal masih berstatus bebas bersyarat usai menjalani masa hukuman 4 tahun 4 bulan penjara di Lapas Sragen.

Samanhudi Anwar sepertinya melupakan kisah persahabatan dirinya dengan wali kota penggantinya yang bernama Santoso. Ikatan mereka terpatri sejak Samanhudi Anwar menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Blitar dan Santoso mengemban sebagai Sekretaris Dewan periode 2014-2015.

Hubungan itu terus berlangsung ketika Samanhudi Anwar yang di Blitar dikenal memiliki simpatisan militan di PDIP menggaet Santoso menjadi wakil wali kota Blitar selama dua periode, dari 2010 hingga 2015 dan 2015 – 2019.

Hubungan romantisme antara ke duanya harus usai saat Samanhudi Anwar “dicokok” Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK pada 2018 karena tersandung kasus suap proyek pembangunan gedung baru SMPN 3 Blitar.

Santoso “naik” menjadi pengganti wali kota dan Samanhudi melanjutkan “karir" di hotel prodeo.

Relasi Samanhudi Anwar dengan Santoso menjadi saling ”ghosting” terlebih Samanhudi terlanjur susah “move on” usai putranya Henry Pradipta Anwar tidak mendapat rekomendasi dari PDIP untuk maju di Pemilihan Walikota (Pilwali) Blitar 2019 (Detik.com, 29 Januari 2023).

PDIP yang menjadi basis massa Samanhudi Anwar selama berkarir di politik justru memberikan “restu” untuk maju di Pilwali kepada Santoso.

Padahal di awal Samanhudi maju di Pilwali bersama Santoso, hampir semua partai politik memberikan suaranya untuk pasangan tersebut.

PDIP yang berkoalisi dengan Gerindra, Demokrat PPP dan Hanura berhasil memenangkan Pilwali Blitar 2019 dan putra Samanhudi Anwar yang berpasangan dengan Yasin Hermanto serta di-back up Golkar, PKB dan PKS justru “keok”.

Tidak itu saja, Henry Pradipta Anwar yang diharapkan Samanhudi bisa melanjutkan karir politik ayahnya di kandang Banteng juga “kandas” di perebutan kursi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Blitar.

Samanhudi merasa kesal karena tidak ada bantuan dari Santoso. Ada bara “kekesalan” dan semacam dendam politik dari Samanhudi Anwar sang mantan terhadap penggantinya, Wali Kota Santoso (Detik.com, 29 Januari 2023).

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com