Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kerap Menangis di Sidang, Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Dinilai Ingin buat Hakim Berempati

Kompas.com - 13/01/2023, 05:50 WIB
Fitria Chusna Farisa

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Hibnu Nugroho menduga, bukan tanpa sebab Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi menangis dalam beberapa kali persidangan.

Pasangan suami istri terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J itu dinilai sedang berupaya membuat hakim berempati terhadap mereka.

"Saya kira itu bentuk upaya agar hakim memberikan empati," kata Hibnu kepada Kompas.com, Kamis (12/1/2023).

Baca juga: Hakim Singgung Karier Sambo Tamat akibat Kasus Brigadir J: Enggak Habis Pikir Itu Lho

Menurut Hibnu, sah-sah saja jika terdakwa menangis di persidangan. Namun demikian, tangisan tersebut hanya akan dianggap sebagai luapan emosi.

Sekalipun disampaikan dengan tangisan, keterangan terdakwa tidak bisa menjadi alat bukti jika pengakuan itu memang tak disertai bukti.

"Empati itu sebagai bentuk nonhukum karena kalau kita bicara bukti itu based on evidence, apa yang dibuktikan dalam persidangan. Nah, menangis bukan bagian dari pembuktian," ujar Hibnu.

Seharusnya, kata Hibnu, hakim tak boleh terpengaruh dengan luapan emosi yang tidak disertai bukti. Namun, bagaimanapun terdakwa akan berupaya keras membuat majelis berempati.

Apalagi, dalam memutuskan suatu perkara, majelis hakim tak hanya mempertimbangkan keterangan terdakwa, saksi, ahli, dan alat bukti saja, tetapi juga aspek sosiologis dan nonsosiologis.

Baca juga: Putri Candrawathi ke Brigadir J: Dek, Saya Ampuni Perbuatanmu yang Keji, tapi...

"Di sinilah kekuatan seorang hakim untuk tidak terpengaruh pada ekspresi-ekspresi yang sedih yang akan membuat suatu hukumannya tergoyahkan," kata Hibnu.

Selain itu, lanjut Hibnu, motif Ferdy Sambo dalam kasus ini juga akan dipertimbangkan hakim.

Menurut pengakuan Sambo, motif perkara ini didasari dari emosi mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri itu setelah mendengar pengakuan sang istri yang menjadi korban kekerasan seksual dari Brigadir J.

Memang, kata Hibnu, sejauh ini tak ada bukti konkrit mengenai kekerasan seksual yang diklaim Putri Candrawathi. Namun, hakim akan tetap mempertimbangkan motif perkara tersebut.

"Jadi bukan karena tidak ada bukti, motif itu tidak ada. Pertimbangan secara logikanya seperti itu," kata Hibnu.

Hibnu pun memprediksi, hakim bakal menjatuhkan vonis berat terhadap Sambo lantaran mantan jenderal bintang dua Polri itu dianggap sebagai aktor intelektual atau dalang dari kasus ini.

Adapun dalam kasus ini lima orang didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yosua. Kelimanya yakni Ferdy Sambo; istri Sambo, Putri Candrawathi; ajudan Sambo, Richard Eliezer atau Bharada E dan Ricky Rizal atau Bripka RR; dan ART Sambo, Kuat Ma'ruf.

Halaman:


Terkini Lainnya

Komisi X Rapat Bareng Nadiem Makarim, Minta Kenaikan UKT Dibatalkan

Komisi X Rapat Bareng Nadiem Makarim, Minta Kenaikan UKT Dibatalkan

Nasional
Menaker Ida Paparkan 3 Tujuan Evaluasi Pelaksanaan Program Desmigratif

Menaker Ida Paparkan 3 Tujuan Evaluasi Pelaksanaan Program Desmigratif

Nasional
ICW Dorong Dewas KPK Jatuhkan Sanksi Berat, Perintahkan Nurul Ghufron Mundur dari Wakil Ketua KPK

ICW Dorong Dewas KPK Jatuhkan Sanksi Berat, Perintahkan Nurul Ghufron Mundur dari Wakil Ketua KPK

Nasional
Prabowo Disebut Punya Tim Khusus untuk Telusuri Rekam Jejak Calon Menteri

Prabowo Disebut Punya Tim Khusus untuk Telusuri Rekam Jejak Calon Menteri

Nasional
Reformasi yang Semakin Setengah Hati

Reformasi yang Semakin Setengah Hati

Nasional
Lemhannas Dorong Reaktualisasi Ketahanan Nasional Lewat 'Geo Crybernetic'

Lemhannas Dorong Reaktualisasi Ketahanan Nasional Lewat "Geo Crybernetic"

Nasional
Dewas KPK Tetap Bacakan Putusan Sidang Etik Nurul Ghufron Hari Ini

Dewas KPK Tetap Bacakan Putusan Sidang Etik Nurul Ghufron Hari Ini

Nasional
Sukseskan WWF 2024, Pertamina Group Paparkan Aksi Dukung Keberlanjutan Air Bersih

Sukseskan WWF 2024, Pertamina Group Paparkan Aksi Dukung Keberlanjutan Air Bersih

Nasional
ICW Dorong Dewas KPK Tetap Bacakan Putusan Kasus Nurul Ghufron, Sebut Putusan Sela PTUN Bermasalah

ICW Dorong Dewas KPK Tetap Bacakan Putusan Kasus Nurul Ghufron, Sebut Putusan Sela PTUN Bermasalah

Nasional
Anies Dinilai Sulit Cari Partai yang Mau Mengusungnya sebagai Cagub DKI Jakarta

Anies Dinilai Sulit Cari Partai yang Mau Mengusungnya sebagai Cagub DKI Jakarta

Nasional
PAN Klaim Dapat Jatah 4 Menteri, Zulkifli hingga Viva Yoga Mauladi

PAN Klaim Dapat Jatah 4 Menteri, Zulkifli hingga Viva Yoga Mauladi

Nasional
SYL Klaim Tak Pernah 'Cawe-cawe' soal Teknis Perjalanan Dinas

SYL Klaim Tak Pernah "Cawe-cawe" soal Teknis Perjalanan Dinas

Nasional
Ribut dengan Dewas KPK, Nurul Ghufron: Konflik Itu Bukan Saya yang Menghendaki

Ribut dengan Dewas KPK, Nurul Ghufron: Konflik Itu Bukan Saya yang Menghendaki

Nasional
Kemenag Kecewa 47,5 Persen Penerbangan Haji yang Gunakan Garuda Indonesia Alami Keterlambatan

Kemenag Kecewa 47,5 Persen Penerbangan Haji yang Gunakan Garuda Indonesia Alami Keterlambatan

Nasional
Klarifikasi Korps Marinir soal Kematian Lettu Eko, Akui Awalnya Tak Jujur demi Jaga Marwah

Klarifikasi Korps Marinir soal Kematian Lettu Eko, Akui Awalnya Tak Jujur demi Jaga Marwah

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com