Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 30/11/2022, 15:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J menyeret banyak anggota kepolisian.

Sedikitnya, enam anak buah Ferdy Sambo turut menjadi terdakwa dalam kasus perintangan penyidikan atau obstruction of justice.

Selain itu, puluhan polisi dimutasi dari jabatannya karena dinilai melanggar kode etik lantaran tidak profesional dalam menangani kasus kematian Yosua.

Tak bisa dipungkiri, rasa kecewa, kesal, dan sesal kini membayangi mereka yang terlibat kasus ini dan harus menanggung akibatnya.

Baca juga: Eks Kasat Reskrim Polres Jaksel ke Ferdy Sambo: Kenapa Kami Harus Dikorbankan?

Kesalnya Hendra dan Agus

Dua mantan bawahan Ferdy Sambo, Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria, tak mampu menutupi rasa geram begitu tahu mereka kena tipu atasannya sendiri dalam kasus kematian Yosua.

Ini diungkap Agus saat hadir sebagai saksi dalam sidang kasus pembunuhan berencana Brigadir J dengan terdakwa Richard Eliezer atau Bharada E, Ricky Rizal, dan Kuat Ma'ruf yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Senin (28/11/2022).

Agus mengaku, mulanya dia dan Hendra tak tahu bahwa baku tembak antara Yosua dan Richard Eliezer hanya skenario Sambo semata. Oleh karenanya, keduanya bersedia membantu Sambo dalam urusan CCTV.

Begitu mengetahui kejadian sebenarnya, Agus dan Hendra sama-sama mengumpat kesal.

"Pak Hendra telepon saya, Pak Hendra bilang, 'Gus, kita dikadalin'," kata Agus mengingat percakapannya dengan Hendra saat itu.

Baca juga: Hendra Kurniawan ke Agus Nurpatria Ketika Tahu Dibohongi Ferdy Sambo: Kita Dikadalin

"Maksudnya apa, Pak, dikadalin?" kata kuasa hukum Richard Eliezer, Ronny Talapessy, dalam persidangan.

"Dibohongi," jelas Agus.

Agus begitu kesal karena Sambo tega membohongi dirinya dan Hendra yang saat itu merupakan anak buahnya sendiri.

"Waktu itu saya sempat mengumpat juga, 'kampret, masa kita dikadalin, Bang. Tega sekali, sih, Bang'," ucap Agus kepada Hendra saat itu.

Dua mantan perwira polisi tersebut baru mengetahui tipu muslihat Sambo sesaat sebelum keduanya menjalani prosedur penempatan khusus (patsus) karena diduga melanggar etik atas kasus kematian Brigadir J.

Kini, Agus dan Hendra harus menanggung akibatnya. Keduanya menjadi dua dari tujuh terdakwa obstruction of justice.

Brigjen Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (5/10/2022).Tangkapan layar YouTube Kompas TV Brigjen Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (5/10/2022).

Kekecewaan Eks Kasatreskrim

Mantan Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Rhekynellson Soplanit, juga tak mampu menutupi kekecewaannya terhadap Sambo.

Saat hadir sebagai saksi dalam sidang dengan terdakwa Bharada E, Ricky Rizal, dan Kuat Ma'ruf, Senin (21/11/2022), Ridwan mengaku dirugikan dalam kasus ini.

Meski tak ikut terseret sebagai terdakwa, Ridwan dikenai sanksi etik karena dimutasi ke Markas Pelayanan (Yanma) Polri.

Dia dianggap tidak profesional dalam menangani kasus kematian Yosua. Ridwan merupakan polisi pertama yang datang ke TKP penembakan di rumah dinas Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2022).

Baca juga: Minta Maaf karena Tak Jujur, Ricky Rizal: Itu Semua Perintah Ferdy Sambo

"Sekarang Saudara merasa rugi enggak?" tanya Ketua Majelis Hakim Wahyu Iman Santoso dalam sidang.

"Rugi, Yang Mulia," ujar Ridwan.

Kekecewaan juga kembali ditunjukkan Ridwan saat hadir sebagai saksi dalam sidang pembunuhan berencana Yosua dengan terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi, Selasa (29/11/2022).

Kepada Sambo, Ridwan bertanya, mengapa dia mengorbankan banyak orang dalam kasus ini. Menurutnya, banyak aparat kepolisian yang mulanya tidak tahu apa-apa soal kematian Yosua, tapi kini harus menanggung akibatnya.

"Pertanyaan kami ke senior saya, Pak Sambo, kenapa kami harus dikorbankan?" kata Ridwan sambil menatap mata Sambo.

Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Soplanit  di Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis (21/4/2022).Kompas.com/Cynthia Lova Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Soplanit di Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis (21/4/2022).

Maaf Sambo

Masih dalam sidang yang digelar di PN Jaksel, Selasa (29/11/2022), Sambo meminta maaf ke para mantan anak buahnya.

Mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri itu bilang, sejak awal dirinyalah yang bersalah dalam kasus ini. Sambo mengatakan, para bawahannya tidak bersalah.

"Terkait dengan pertanyaan mengapa saya harus mengorbankan para penyidik saya, ini saya menyampaikan permohonan maaf," kata Sambo dalam persidangan.

"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf, Yang Mulia, kepada adik-adik saya karena saya sudah memberikan keterangan yang tidak benar," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Baca juga: Richard Eliezer Ungkap Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Pisah Rumah, Hanya Bertemu Akhir Pekan

Sambo menyebutkan, dalam sidang kode etik Polri beberapa waktu lalu, dia telah menyampaikan bahwa para anak buahnya tak bersalah. Namun, mereka tetap mendapat hukuman karena dianggap mengetahui kasus kematian Yosua ini.

"Sekali lagi saya atas nama pribadi dan keluarga menyampaikan permohonan maaf kepada adik-adik saya sehingga harus terhambat," ujar Sambo.

Sambo mengaku menyesali perbuatannya. Dia juga memastikan bakal bertanggung jawab atas kasus ini.

Dalam kesempatan yang sama, istri Sambo yang juga menjadi terdakwa kasus pembunuhan berencana, Putri Candrawathi, ikut menyampaikan permohonan maaf.

Putri sadar bahwa sejumlah anggota kepolisian terpaksa terhambat kariernya karena kasus ini. Oleh karenanya, dia meminta maaf.

"Saya dan keluarga mohon maaf kepada bapak-bapak anggota Polri yang hadir pada hari ini sebagai saksi sehingga harus melalui semua ini dan harus mengalami hambatan dalam berkarier dan juga menempatkan penempatan khusus," kata Putri.

"Sekali lagi saya dan keluarga mohon maaf," lanjutnya.

Baca juga: Richard Eliezer Sebut Tembakan Ferdy Sambo Hentikan Erangan Kesakitan Brigadir J

Banyak nama

Seperti diketahui, kasus kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat menyeret banyak nama. Sedikitnya, 34 polisi dimutasi dari jabatannya karena dianggap tidak profesional dalam menangani kasus ini.

Beberapa dari mereka ada yang dipecat dari Polri, ada pula yang dijatuhi hukuman demosi.

Kemudian, tujuh orang menjadi terdakwa perintangan penyidikan atau obstruction of justice. Mereka yakni Ferdy Sambo, Hendra Kurniawan, Agus Nurpatria, Arif Rachman Arifin, Baiquni Wibowo, Chuck Putranto, dan Irfan Widyanto.

Selain itu, lima orang didakwa perkara pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yosua. Kelimanya yakni Ferdy Sambo; istri Sambo, Putri Candrawathi; ajudan Sambo, Richard Eliezer atau Bharada E dan Ricky Rizal atau Bripka RR; dan ART Sambo, Kuat Ma'ruf.

Berdasarkan dakwaan jaksa penuntut umum, pembunuhan tersebut dilatarbelakangi oleh pernyataan Putri yang mengaku telah dilecehkan oleh Yosua di rumah Sambo di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (7/7/2022).

Pengakuan yang belum diketahui kebenarannya itu lantas membuat Sambo marah hingga menyusun strategi untuk membunuh Yosua.

Disebutkan bahwa mulanya, Sambo menyuruh Ricky Rizal atau Bripka RR menembak Yosua. Namun, Ricky menolak sehingga Sambo beralih memerintahkan Richard Eliezer atau Bharada E.

Baca juga: Turuti Skenario Ferdy Sambo, Bharada E Takut Bernasib seperti Yosua

Brigadir Yosua dieksekusi dengan cara ditembak 2-3 kali oleh Bharada E di rumah dinas Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2022). Setelahnya, Sambo menembak kepala belakang Yosua hingga korban tewas.

Mantan jenderal bintang dua Polri itu lantas menembakkan pistol milik Yosua ke dinding-dinding rumah untuk menciptakan narasi tembak menembak antara Brigadir J dan Bharada E yang berujung pada tewasnya Yosua.

Atas perbuatan tersebut, para terdakwa didakwa melanggar Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 56 ke-1 KUHP.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Nikah di KUA 2023

Cara Nikah di KUA 2023

Nasional
Syarat dan Cara Membuat Akta Kematian Terbaru

Syarat dan Cara Membuat Akta Kematian Terbaru

Nasional
Tanggal 12 Februari Hari Memperingati Apa?

Tanggal 12 Februari Hari Memperingati Apa?

Nasional
Tak Hanya Safari ke Golkar, PKS Bakal Sambangi Gerindra dan PKB

Tak Hanya Safari ke Golkar, PKS Bakal Sambangi Gerindra dan PKB

Nasional
Golkar Bilang Tak Ada Manuver Ubah Haluan Dukung Pemilu Proporsional Tertutup

Golkar Bilang Tak Ada Manuver Ubah Haluan Dukung Pemilu Proporsional Tertutup

Nasional
Baleg Setuju Bawa RUU Kesehatan Omnibus Law ke Paripurna sebagai Usulan Inisiatif DPR

Baleg Setuju Bawa RUU Kesehatan Omnibus Law ke Paripurna sebagai Usulan Inisiatif DPR

Nasional
Ramlan Surbakti: KPU Langgar Etika dan Tak Hormati Hukum karena Enggan Tata Ulang Dapil

Ramlan Surbakti: KPU Langgar Etika dan Tak Hormati Hukum karena Enggan Tata Ulang Dapil

Nasional
Anggotanya Diduga Bunuh Sopir Taksi 'Online', Densus 88: Tak Ada Toleransi

Anggotanya Diduga Bunuh Sopir Taksi "Online", Densus 88: Tak Ada Toleransi

Nasional
Pengacara Sebut Ada Korban Obat Praxion di Solo, Alami Demam dan Muntah

Pengacara Sebut Ada Korban Obat Praxion di Solo, Alami Demam dan Muntah

Nasional
BERITA FOTO: Jokowi Jadikan Penurunan Indeks Persepsi Korupsi Masukan Kinerja Pemerintah

BERITA FOTO: Jokowi Jadikan Penurunan Indeks Persepsi Korupsi Masukan Kinerja Pemerintah

Nasional
Survei LSI Denny JA: 7 Partai Lolos Ambang Batas Parlemen

Survei LSI Denny JA: 7 Partai Lolos Ambang Batas Parlemen

Nasional
Hendri Satrio: Dalam Perjanjian, Anies Kembalikan Semuanya jika Kalah, tetapi Selesai jika Menang

Hendri Satrio: Dalam Perjanjian, Anies Kembalikan Semuanya jika Kalah, tetapi Selesai jika Menang

Nasional
Ada Kasus Baru Gagal Ginjal, Kewenangan BPOM Dianggap Perlu Diperkuat seperti FDA

Ada Kasus Baru Gagal Ginjal, Kewenangan BPOM Dianggap Perlu Diperkuat seperti FDA

Nasional
BERITA FOTO: Wapres Kunjungi Smelter Terbesar di Dunia Milik Freeport di Gresik

BERITA FOTO: Wapres Kunjungi Smelter Terbesar di Dunia Milik Freeport di Gresik

Nasional
Tak Hanya ke KIB, Golkar Juga Tawarkan Airlangga sebagai Capres ke Nasdem dan PKS

Tak Hanya ke KIB, Golkar Juga Tawarkan Airlangga sebagai Capres ke Nasdem dan PKS

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.