Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 29/11/2022, 06:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

CARA dan laku berpolitik Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang beda, rapi tapi juga tak tersembunyi. Seperti bermain kesantunan ala “telik sandi”, padahal bisa saja awam dengan mudah membaca pertanda itu sebagai pesan.

Bahkan ketika media mencecarnya sebagai sebuah sinyal dukungan ke Prabowo Subianto, dengan tenang Jokowi mempersilakan pernyataannya itu diartikan begitu.

"Ya diartikan sinyal ya boleh, tapi kan saya ngomong juga nggak apa-apa," kata Jokowi.

Apa yang muncul dari pernyataan Jokowi dalam acara Gerakan Nusantara Bersatu yang diikuti oleh ribuan relawan dari berbagai daerah di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Sabtu (26/10/2022), juga membawa pesan yang sama.

Boleh dibilang Jokowi tak lagi sama seperti dulu jika sedang bermain-main dengan politik.

Apakah ini momentum “endorse” kedua, setelah sebelumnya secara terbuka Jokowi seperti memberi angin kepada Prabowo.

Ketika dengan bercanda Jokowi mengatakan setelah ini kemungkinan Pilpres 2024 jatahnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang merupakan rivalnya di dua pilpres sebelumnya. Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan di acara HUT Perindo di iNews Tower, Jakarta Pusat, Senin (7/11).

Ketika itu Jokowi menyebut, "Saya ini dua kali wali kota di Solo menang, kemudian ditarik ke Jakarta, gubernur sekali menang".

"Kemudian dua kali di pemilu presiden juga menang. Mohon maaf, Pak Prabowo," ujar Jokowi ketika itu. "Kelihatannya setelah ini jatahnya Pak Prabowo," sambung Jokowi.

Dan memang Jokowi diusung untuk maju pilpres dan dua kali berhasil memenangkan kontestasi politik tersebut.

Kode rambut putih versus Istana dan muka “cling”

Narasi menarik dari Jokowi ketika menyebut seorang pemimpin bisa terlihat dari bagaimana penampilannya. Ketika itu Jokowi mengatakan, "Perlu saya sampaikan. Perlu saya sampaikan, pemimpin, pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan dari mukanya."

Pertama, menurut Jokowi, seorang pemimpin yang memikirkan rakyatnya akan terlihat dari rambutnya, sebagai tanda pemimpin yang memikirkan rakyat.

"Ada juga yang mikirin rakyat sampai rambutnya putih semua ada. Ada itu," kata Jokowi disambut riuh para relawan.

Kedua, Jokowi meminta relawan untuk hati-hati memilih pemimpin yang berwajah 'cling'. Jika pemimpin tak ada kerutan di wajah, Jokowi meminta relawan hati-hati.

Dan sinyal kedua ini ditujukan kepada rival yang mana, tentu saja dengan mudah para relawan Jokowi maupun awam dapat membaca sinyalnya.

"Saya ulang. Jadi, pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan dari penampilannya, dari kerutan di wajahnya. Kalau wajahnya cling, bersih, tidak ada kerutan di wajahnya hati-hati. Lihat juga, lihat rambutnya kalau putih semua 'wah mikir rakyat ini'," bebernya.

Begitu juga ketika menyebut “kode” istana. Selanjutnya Jokowi menambahkan, "Jangan pilih sosok yang hanya senang duduk di istana. Jangan sampai, jangan sampai...kita memilih pemimpin yang nanti hanya senangnya duduk di istana yang AC-nya dingin. Jangan sampai, saya ulang, jangan sampai kita memilih pemimpin yang senang duduk di istana yang AC-nya sangat dingin," ungkap Jokowi.

Ketika menyebut sinyal ini seolah Jokowi tak lagi punya beban politik, seperti harus manjaga unggah-ungguh kepada siapa.

Di balik narasi politiknya yang santai, Jokowi sebenarnya sedang bermain “pesan telik sandi”, melempar tanda-tanda yang mudah ditafsirkan secara politik, tapi bikin para rival berkeringat dingin seketika.

Ini adalah pesan semiotika. Rasanya tak perlu mengundang pakar pembaca pesan, atau ahli sandi rahasia, ahli pembaca mimik wajah, karena semiotika umumnya digunakan untuk membedah pertanda, bisa saja berupa simbol, atau ikon, bisa juga digunakan untuk menafsirkan bacaan komunikasi verbal maupun non-verbal.

Tapi ketika Jokowi melemparkan dua sinyal, “istana dan rambut putih” kepada ribuan relawannya, itu seperti memberi “pesan langsung”, bahwa pemimpin dari istana yang dimaksud adalah penguasa elite yang meskipun berusaha merakyat akan terlihat dari caranya yang terlalu formalitas dan dipaksakan. Sehingga ketika merakyat, justru makin tidak popular.

Begitu juga ketika mengatakan pertanda agar wanti-wanti dengan pemimpin yang “cling”, berwajah tanpa kerutan, memasang wajah senang tanpa sedikitpun ada tekanan di garis wajahnya.

Seperti kata Jokowi secara tidak langsung sebagai pertanda pemimpin yang tidak pernah memikirkan rakyatnya. Siapapun boleh berbeda pendapat dan tidak setuju, tapi sinyal itulah yang coba dimainkan Jokowi melalui pesan semiotikanya itu.

Dengan mudah akan diarahkan pada siapa, tentu saja akan mudah ditebak. Inilah enak dan serunya ketika “pesan anonim” dilempar ke publik dengan tanda yang mudah dikenali.

Ketika tafsir publik dengan cepat mengarah kepada rival politik lain, bisa saja dengan mudah Jokowi akan berkata, “bukan saya lho yang bilang begitu, tapi kalian sendiri yang menafsirkan”.

Kurang lebih seperti pernah di bilang Jokowi saat memberi kode keras untuk Prabowo. "Ya diartikan sinyal ya boleh tapi kan saya ngomong juga nggak apa-apa," kata Jokowi.

Sinyal dukungan Prabowo-Ganjar

Sinyal kuat itu sangat membantu para relawan Jokowi untuk bertindak di lapangan. Kepada siapa dua pesan Jokowi itu hendak diarahkan, dan siapa sebenarnya yang menjadi pilihan Jokowi dalam Pilpres 2024 mendatang.

Apalagi kemarin menjadi teka-teki, dan menjadi diskursus agar Jokowi fokus saja menyelesaikan tugas kepresidenannya daripada mengurusi politik pilpres 2024.

Karena pesan itu dengan mudah dapat diterima oleh relawan Jokowi yang kelak juga dapat menjadi relawan baru bagi dua tokoh yang menjadi pilihan Jokowi.

Dukungan Jokowi pada Pilpres ke depan, setidaknya mengarah dua tokoh, yakni Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, lantaran kedua tokoh tersebut dianggap loyal dan komitmen terhadap program Jokowi yang berkepentingan dengan legacy hasil kerja dan kepemimpinannya.

Inilah mengapa Jokowi bolak-balik mendukung Prabowo dan Ganjar melalui kode politiknya untuk menduetkan Prabowo-Ganjar di Pilpres 2024.

Kondisi politik ini semakin membuka lebar peluang Ganjar yang selama ini merasa “dianaktirikan” oleh partai politiknya. Dan menjadi bentuk perlawanan halus melawan dua rivalitas lain yang berpeluang maju dengan elektabilitas yang juga meyakinkan.

Tentu dinamika politik akan menghangat atau bahkan memanas dengan seketika, tapi yang menarik adalah bagaimana strategi para rival “membalas” kode keras tersebut.

Apakah kekuatan partai, konsolidasi, kekuatan tokoh dan bukti kerja selama memimpin, cukup menjadi “bargaining power” melawan sinyal kode keras tersebut.

Atau sebaliknya sinyal itu justru dapat menjadi bomerang yang akan digunakan lawan untuk mencari titik lemahnya.

Karena masih ada barisan partai di luar kekuatan itu yang dapat bermain koalisi, dan itu menjadi peluang baru untuk mereka merapatkan barisan baru. Jaga pemilu damai 2024.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bripka Madih Diperas Sesama Polisi, Wakil Ketua Komisi III DPR: Segera Gelar Sidang Etik

Bripka Madih Diperas Sesama Polisi, Wakil Ketua Komisi III DPR: Segera Gelar Sidang Etik

Nasional
Soal Usulan Penghapusan Jabatan Gubernur, Komisi II Cari Tahu Apakah Perlu Amendemen UUD 1945

Soal Usulan Penghapusan Jabatan Gubernur, Komisi II Cari Tahu Apakah Perlu Amendemen UUD 1945

Nasional
KontraS Soroti Banyak Peserta Seleksi Hakim Ad Hoc HAM Malah Tak Punya Pengetahuan Mendasar soal HAM

KontraS Soroti Banyak Peserta Seleksi Hakim Ad Hoc HAM Malah Tak Punya Pengetahuan Mendasar soal HAM

Nasional
Sidang Vonis Irfan Widyanto Terkait Perintangan Penyidikan Kematian Yosua Digelar 24 Februari

Sidang Vonis Irfan Widyanto Terkait Perintangan Penyidikan Kematian Yosua Digelar 24 Februari

Nasional
Gerindra Anggap Ketidaktahuan Prabowo soal Cawapres Cuma 'Jokes'

Gerindra Anggap Ketidaktahuan Prabowo soal Cawapres Cuma "Jokes"

Nasional
Indeks Persepsi Korupsi Turun, Jokowi Rapat dengan Kapolri hingga Jaksa Agung

Indeks Persepsi Korupsi Turun, Jokowi Rapat dengan Kapolri hingga Jaksa Agung

Nasional
Jokowi Pesan Pers Jangan Hanya Bicara Soal Kebebasan, tapi juga Tanggung Jawab

Jokowi Pesan Pers Jangan Hanya Bicara Soal Kebebasan, tapi juga Tanggung Jawab

Nasional
Fadli Zon Buka Suara Soal Perjanjian Prabowo-Anies-Sandi

Fadli Zon Buka Suara Soal Perjanjian Prabowo-Anies-Sandi

Nasional
Muncul Kasus Baru Gagal Ginjal, Kuasa Hukum Korban Dorong Penetapan KLB

Muncul Kasus Baru Gagal Ginjal, Kuasa Hukum Korban Dorong Penetapan KLB

Nasional
Prabowo: Jangan Kau Rongrong Nahkoda yang Sedang Arahkan Kapal, Ganggu dari Kanan dan Kiri

Prabowo: Jangan Kau Rongrong Nahkoda yang Sedang Arahkan Kapal, Ganggu dari Kanan dan Kiri

Nasional
Turunkan 5.000 Orang, Partai Buruh Gelar Demonstrasi di Depan Gedung DPR, Minta Apa?

Turunkan 5.000 Orang, Partai Buruh Gelar Demonstrasi di Depan Gedung DPR, Minta Apa?

Nasional
Indonesia Ekspor Ikan Segar tetapi Impor Tepung Ikan, Jokowi: Lucu Sudah...

Indonesia Ekspor Ikan Segar tetapi Impor Tepung Ikan, Jokowi: Lucu Sudah...

Nasional
Soal Rencana Surya Paloh Kunjungi Megawati, Politisi PDI-P: Harus Diatur Waktunya, Ibu Ketum Sangat Disiplin

Soal Rencana Surya Paloh Kunjungi Megawati, Politisi PDI-P: Harus Diatur Waktunya, Ibu Ketum Sangat Disiplin

Nasional
Dikritik, KPU Anggap Keterwakilan Perempuan 23 Persen di Timsel Provinsi Sudah Cukup

Dikritik, KPU Anggap Keterwakilan Perempuan 23 Persen di Timsel Provinsi Sudah Cukup

Nasional
Bertemu Jokowi, Dewan Pers Laporkan Ada 690 Aduan Soal Pemberitaan

Bertemu Jokowi, Dewan Pers Laporkan Ada 690 Aduan Soal Pemberitaan

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.