Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 10/11/2022, 05:45 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BULAN November, tepatnya tanggal 10 November, kita merayakan Hari Pahlawan. Salah satu pahlawan yang patut menerima penghargaan di bidang kedirgantaraan adalah Wiweko Soepono, yang lahir pada 18 Januari 1923 di Blitar, Jawa Timur.

Dia adalah putra dari keluarga “ambtenaar”, pasangan Soepono yang asli Banyumas dengan Boentarmi, seorang wanita asal Solo.

Sejak kecil Wiweko gemar membaca dan menyukai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dia kemudian diketahui sebagai seorang pekerja keras yang tidak pernah kenal kata menyerah.

Di luar waktu sekolah, dia banyak menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang menjadi hobi beratnya, yaitu aeromodelling. Upayanya termasuk merancang sekaligus mencoba menerbangkannya.

Bersama sejumlah teman, termasuk sinyo Belanda, Wiweko membentuk dan memimpin Aeroclub.

Dia juga berlangganan dan sering berdiskusi dengan wartawan majalah Vliegwereld, satu-satunya majalah kedirgantaraan yang terbit dan beredar di Indonesia kala itu.

Semenjak masih bocah, dia telah banyak mendengar dan ikut serta dalam banyak diskusi dengan ayahnya, seorang nasionalis tulen bersama dengan rekan-rekan dalam pergerakan nasional.

Dia telah mengenal sejak usia dini mengenai paham nasionalistis yang mencakup tentang Self Help dan Self determination.

Dia juga sering mendengar dan mengikuti banyak cerita dan pidato dari Ir. Soekarno, yang juga berasal dari Blitar, terutama dalam hal membangun semangat persatuan dan kemerdekaan kepada seluruh rakyat yang tengah terjajah.

Di luar waktu sekolah, Wiweko sering memperhatikan sekelompok remaja berseragam KBI, Kepanduan Bangsa Indonesia yang berdasi merah putih, giat berlatih.

Setelah tumbuh menjadi pemuda dan mendengar berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, dia langsung bergabung dengan kelompok pemuda pejuang Priangan.

Bersama dengan pemuda Suryadarma, Mashudi, Sarbini Somawinata, Abdul Haris Nasution, Sutoyo dan lain-lain, Wiweko mengadakan musyawarah dan memutuskan untuk segera merebut pangkalan udara dari tangan Jepang yang baru kalah perang melawan sekutu.

Mereka sempat menguasai sejumlah pesawat terbang dan berbagai fasilitas penerbangan yang ada di pangkalan udara Andir, meski kemudian terusir oleh pasukan sekutu yang diboncengi tentara Belanda yang memang ingin kembali berkuasa di Indonesia.

Walau dalam keadaan terusir dan harus menyingkir keluar kota, dia tidak pernah berputus asa. Dengan semangat juang, berbekal pengetahuan dan pengalaman di bidang kedirgantaraan walau masih sangat terbatas, dia langsung bergabung dengan TKR, Jawatan Penerbangan yang baru saja terbentuk dan kemudian resmi menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia.

Pada usia yang baru mencapai 25 tahun, Wiweko Soepono berani menyatakan wawasan dan sikapnya dalam bidang kedirgantaraan.

Sewaktu pemerintah perjuangan tahun 1948 mengambil kebijaksanaan tentang Civil Aviation yang cenderung bergantung saja kepada American-Indonesian Corporation dan banyak memberi konsesi kepada pihak asing, dengan tegas dan berani Wiweko Soepono menentangnya.

Menurut dia, perhubungan udara begitu penting bagi satu Negara yang merdeka, terutama dalam bidang politik, strategi, dan perkembangan ekonomi bangsa.

Dia memiliki keyakinan yang sangat besar, bahwa Indonesia sebagai bangsa pasti memiliki kemampuan yang cukup dan tidak kalah dari bangsa lain dalam mengelola sistem dari perhubungan udara nasionalnya.

Wiweko Soepono, tidak hanya berani untuk berbeda dalam visi, dia juga memang pandai dalam menyusun suatu konsep.

Salah satu contoh, pada satu saat, bersamaan dengan protesnya dalam penyelenggaraan perhubungan udara nasional, Wiweko menyertakan juga di dalamnya satu konsep usulan tentang pembentukan sebuah Skadron Transport sebagai unsur operasi penerbangan perintis di tanah air.

Di awal kemerdekaan Republik Indonesia, dia pulalah yang kemudian merealisasikan usulan tersebut dengan mendirikan Djawatan Angkutan Udara Militer atau DAUM.

Secara teratur DAUM terbang menjalankan misi kenegaraan, seperti membawa pejabat militer dan sipil dalam menjangkau wilayah tanah air yang saat itu masih banyak yang terisolasi.

Pandangan dan sikapnya ini merupakan refleksi dari penilaian tentang begitu pentingnya perhubungan udara di Indonesia yang diyakininya akan menentukan kemampuan bangsa dalam mengelola perhubungan udara nasional dalam satu Air Integrity, satu kesatuan wilayah udara nasional.

Kini telah menjadi satu realita dari pemahaman bahwa sarana Angkutan Udara Nasional dalam konteks perhubungan udara yang terintegrasi akan sangat menentukan utuhnya Negara Indonesia sebagai satu Negara Kesatuan yang sekaligus akan banyak membantu perjalanan bangsa menuju kesejahteraan masayarakat.

Kita mengenal Maskapai sang pembawa bendera merah putih, Garuda Indonesian Airways. Di tangan Garuda inilah kehormatan dan kebanggaan serta promosi bangsa Indonesia di panggung global dalam penyelenggaraan angkutan udara dipertaruhkan.

Garuda Indonesia pernah dipimpin oleh seorang Pilot kawakan bernama Wiweko, penerbang Asia pertama yang pernah menembus samudra pasifik (dari Oakland, AS ke Jakarta) seorang diri dengan pesawat terbang.

Itu sebabnya, sebagai pimpinan maskapai dia mampu berorientasi kepada bidang penerbangan secara total. Sebagai Pilot, dia tahu ketika membeli banyak pesawat, maka perlu mempersiapkan sumber daya manusianya.

Wiweko menganalisis dan membahas tuntas dalam hal memilih pesawat terbang yang cocok untuk digunakan di Negara kepulauan bersama dengan pabrik pesawat kenamaan di dunia.

Ia juga merancang disain kokpit pesawat yang sangat spektakuler sepanjang sejarah. Wiweko telah mengubah awak kokpit menjadi hanya dua orang saja. (two men forward facing crew cockpit). Keberhasilan ini dinilai sangat fenomenal.

Yang sangat mengagumkan adalah, konon pihak Airbus ingin menggunakan nama Wiweko sebagai “hak paten” dari penemuan ini, dan ditolak secara halus oleh Wiweko.

Disain yang tadinya ditentang habis-habisan oleh FAA, Federal Aviation Administration, otoritas penerbangan Amerika Serikat, kini justru telah menjadi standar baku dari disain kokpit pesawat angkut internasional.

Disain ini telah mengubah secara revolusioner pengawakan pesawat angkut di dunia, khususnya pesawat sekelas “Jumbo-Jet” yang tadinya hanya bisa diterbangkan dengan tiga orang awak kokpit, sejak saat itu berubah menjadi hanya diawaki dua orang saja.

Ini adalah salah satu kisah sukses Wiweko pada waktu memimpin Garuda, dalam proses penambahan armada udaranya.

Saat itu Garuda sang pembawa bendera melesat maju di angkasa Asia, Eropa dan bahkan pernah sampai ke Amerika Serikat.

Garuda Indonesian Airways tahun 1968-1984, di bawah kepemimpinan Wiweko telah berhasil menguasai tidak hanya pasar domestik, tetapi juga pasar regional.

Di sisi lain sang merah putih juga dibawa oleh si Garuda dengan gagahnya ke Eropa dan bahkan Amerika.

Ketika memimpin Garuda, Wiweko menjadikan “flag carrier” itu menjadi “airlines” kedua terbesar di belahan bumi Selatan, setelah Japan Air Lines, dengan 79 armada jet.

Armada Garuda bahkan lebih besar dari yang dimiliki oleh banyak negara Eropa pada waktu itu. Swiss Air yang beken saat itu, misalnya, konon hanya memiliki 55 pesawat saja.

Kini, dalam era yang penuh dengan tantangan dan persaingan dalam industri penerbangan dunia, sumbangsih dari seorang Wiweko kiranya sangat sulit untuk dapat dilupakan begitu saja.

Wiweko sang Perintis dan Pionir Penerbangan di Indonesia dan juga di kancah global. Nama Wiweko memang tidak terkenal sesuai dengan karya-karya besarnya. Wiweko Sang Pahlawan Dirgantara Indonesia.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sanksi Pidana Pungli dalam Pembuatan Dokumen Kependudukan

Sanksi Pidana Pungli dalam Pembuatan Dokumen Kependudukan

Nasional
Aturan KTP-el untuk Warga Negara Asing

Aturan KTP-el untuk Warga Negara Asing

Nasional
Tanggal 11 Februari Hari Memperingati Apa?

Tanggal 11 Februari Hari Memperingati Apa?

Nasional
Muhaimin Usul Hapus Jabatan Gubernur karena Biaya Politik Tinggi, Ketua Komisi II: Dari Mananya?

Muhaimin Usul Hapus Jabatan Gubernur karena Biaya Politik Tinggi, Ketua Komisi II: Dari Mananya?

Nasional
GKI Sidoarjo Sediakan Tempat Istirahat dan 'Nobar' Puncak Resepsi Satu Abad NU

GKI Sidoarjo Sediakan Tempat Istirahat dan "Nobar" Puncak Resepsi Satu Abad NU

Nasional
KPK Koordinasi dengan Komnas HAM, Pastikan Pemenuhan Hak Lukas Enembe

KPK Koordinasi dengan Komnas HAM, Pastikan Pemenuhan Hak Lukas Enembe

Nasional
Dengarkan Tuntutan Jaksa, Surya Darmadi: Saya Gila, Saya Setengah Gila

Dengarkan Tuntutan Jaksa, Surya Darmadi: Saya Gila, Saya Setengah Gila

Nasional
Dewan Pers: Presiden Jokowi Berkomitmen Terbitkan Perpres 'Media Sustainability'

Dewan Pers: Presiden Jokowi Berkomitmen Terbitkan Perpres "Media Sustainability"

Nasional
Ketua Komisi II: Belum Ada Kondisi yang Haruskan Menunda Pemilu

Ketua Komisi II: Belum Ada Kondisi yang Haruskan Menunda Pemilu

Nasional
Dituntut Seumur Hidup, Surya Darmadi: Kalau Megakoruptor, Saya Enggak Pulang dari Taiwan

Dituntut Seumur Hidup, Surya Darmadi: Kalau Megakoruptor, Saya Enggak Pulang dari Taiwan

Nasional
UPDATE 6 Februari 2023: Kasus Covid-19 Bertambah 169 dalam Sehari, Totalnya Jadi 6.731.304

UPDATE 6 Februari 2023: Kasus Covid-19 Bertambah 169 dalam Sehari, Totalnya Jadi 6.731.304

Nasional
Skema Power Wheeling RUU EBET Tuai Kritik, Komisi VII Sebut Punya Jalan Tengahnya

Skema Power Wheeling RUU EBET Tuai Kritik, Komisi VII Sebut Punya Jalan Tengahnya

Nasional
Saat Muhammadiyah Siapkan 2.000 Nasi Bungkus, 3.000 Bakso, dan Layanan Gratis untuk Satu Abad NU

Saat Muhammadiyah Siapkan 2.000 Nasi Bungkus, 3.000 Bakso, dan Layanan Gratis untuk Satu Abad NU

Nasional
Alat Pendeteksi Tsunami Disebut Mati, Wapres: Penting untuk Diperbaiki

Alat Pendeteksi Tsunami Disebut Mati, Wapres: Penting untuk Diperbaiki

Nasional
Komisi II Heran Muhaimin Ingin Hapus Jabatan Gubernur tapi PKB Setuju 4 Provinsi Baru Papua

Komisi II Heran Muhaimin Ingin Hapus Jabatan Gubernur tapi PKB Setuju 4 Provinsi Baru Papua

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.