Kompas.com - 29/09/2022, 16:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai total kerugian dalam kasus investasi di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya ditaksir mencapai Rp 106 triliun.

Menurut Kejaksaan Agung (Kejagung), jumlah kerugian itu didapat berdasarkan Hasil Laporan Analisis (HLA) yang dilakukan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dari uang yang dikumpulkan KSP Indosurya dari 23.000 nasabah.

"Korbannya kurang lebih 23.000 orang korban," kata Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Umum (JAM-Pidum) Kejagung Fadil Zumhana di Kejagung, Jakarta, Rabu (29/9/2022).

Fadil mengatakan, angka kerugian tersebut sangat tinggi.

Baca juga: Kejagung Sebut Kerugian Masyarakat di Kasus Indosurya Capai Rp 160 T, Terbanyak Sepanjang Sejarah

"Ini kasus yang menarik perhatian nasional karena kerugian sepanjang sejarah belum ada kerugian yang dialami Rp 106 triliun oleh masyrakat Indonesia," ujar dia.

Saat ini perkara yang melibatkan KSP Indosurya sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Dua terdakwa yang disidang di situ yakni Ketua KSP Indosurya Henry Surya dan Direktur Keuangan KSP Indosurya Cipta June Indria.

Namun, ada satu orang tersangka lainnya, yaitu Suwito Ayub yang masih berstatus buronan atau masuk daftar pencarian orang (DPO) sehingga belum dilimpahkan ke pengadilan.

Fadil juga mengungkapkan, penanganan perkara tersebut sempat tersendat saat prapenuntutan.

Baca juga: Kejagung Sebut Ada 23.000 Korban Kasus Indosurya, Kerugian Capai Rp 106 Triliun

"Kami berupaya bagaimana kerugian korban bisa kami selamatkan sehingga berdasarkan berkas perkara bisa disita Rp 2,5 triliun," kata dia.

Atas perbuatannya, para tersangka didakwa dengan Pasal 46 Undang-Undang Perbankan dengan ancaman pidana 15 tahun dengan kumulatif Undang-Undang Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman pidana 20 tahun.

Kasus wanprestasi atau penipuan yang melibatkan banyak orang dengan jumlah kerugian yang besar, selain KSP Indosurya, sudah beberapa kali terjadi di Indonesia.

Berikut ini deretan kasus penipuan dengan nilai kerugian besar yang dirangkum Kompas.com.

Baca juga: Di Sidang Kasus KSP Indosurya, 8 Korban Mengaku Uangnya Tidak Kembali

1. Golden Traders Indonesia (GTI) Syariah

Kasus yang melibatkan Golden Traders Indonesia (GTI) dimulai ketika mereka menyatakan sebagai perusahaan investasi emas syariah secara sepihak pada 24 Agustus 2011.

PT GTI Syariah menjanjikan para nasabah mendapat bungan tetap 4,5 persen setiap bulan saat kontrak emas dicairkan kembali ke perusahaan itu.

Akan tetapi, ternyata para nasabah tidak pernah menerima bunga yang dijanjikan. Malah para pendiri PT GTI yang merupakan warga Malaysia dilaporkan menggelapkan uang dan emas nasabah.

Salah satu pendiri PT GTI, Ong Han Chun, disebut membawa lari uang dan emas nasabah sebesar Rp 10 triliun.

Baca juga: Bantah Terdakwa Investasi Bodong KSP Indosurya Hanya Terancam Hukuman 4 Tahun, Jaksa: Kita Tuntut Maksimal

2. First Travel

Kasus penipuan biro perjalanan haji dan umrah PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel sempat menghebohkan masyarakat pada 2017 silam.

Awal mula kasus penipuan First Travel terungkap adalah ketika mereka gagal memberangkatkan jemaah umrah pada 28 Maret 2017 dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Saat itu masyarakat banyak yang tertarik karena harga paket perjalanan yang ditawarkan First Travel cukup bersaing dengan menawarkan beragam fasilitas.

Baca juga: Sidang Kasus Investasi Bodong KSP Indosurya, Korban Mengaku Dijanjikan Keuntungan 12 Persen

Akibat kegagalan pemberangkatan jemaah itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai menyelidiki First Travel pada 21 Juli 2017.

Dari penyelidikan terungkap First Travel tidak memberangkatkan 58.682 calon jemaah umrah pada periode Desember 2016 hingga Mei 2017.

Nilai kerugian dalam kasus itu mencapai Rp 905 miliar. Bahkan diduga uang yang dikumpulkan dari para jemaah itu digunakan untuk keperluan pribadi dan pencucian uang para direktur First Travel, yakni Andika Surachman, Anniesa Hasibuan, dan Kiki Hasibuan.

Ketiganya divonis bersalah dan dipenjara.

Andika divonis 20 tahun penjara dengan pidana denda Rp 10 miliar subsider 8 bulan kurungan.

Baca juga: Sidang Kasus Investasi Bodong KSP Indosurya Digelar di PN Jakbar, Jaksa Hadirkan 10 Saksi

Sedangkan Anniesa divonis 18 tahun penjara dan pidana denda Rp 10 miliar subsider 8 bulan kurungan.

Kiki divonis 15 tahun penjara dan pidana denda Rp 5 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Akan tetapi, para korban menyatakan kecewa dengan putusan pengadilan karena aset milik para terpidana tidak digunakan untuk membayar ganti rugi tetapi malah disita untuk negara.

Baca juga: Kejagung: Berkas Perkara Kasus KSP Indosurya Sudah Lengkap

3. PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR)

Kasus ini bermula ketika Ramly Arabi mendirikan usaha pertanian di Kampung Situgunung, Desa Kadudampit Cisaat, Kabupaten Sukabumi dengan lahan seluas 5 hektare pada 1998.

Dia kemudian mendirikan PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) dengan bidang usaha agribisnis. Model usahanya adalah menghimpun dana dari masyarakat yang menanamkan modal dan menjadi investor melalui kerja sama di perusahaan itu.

Ramly kemudian menjanjikan keuntungan bagi pada penanam modal. Akan tetapi, pembayaran keuntungan bagi para pemodal tersendat mulai Januari 2002.

Baca juga: Dua Tersangka KSP Indosurya Dibebaskan, Mahfud: Kasus Ini Tak Akan Dihentikan!

Para penanam modal kemudian melaporkan Ramly ke polisi. Dalam penyidikan polisi, PT QSAR tidak mampu membayar utang sebesar Rp 476 miliar kepada 6.480 investor.

Ramly kemudian diadili dan dijatuhi vonis 8 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.

4. Pandawa Grup

Kasus penipuan investasi Pandawa Grup mulai terungkap pada 2016.

Perusahaan yang berlokasi di Jalan Raya Meruyung, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat itu beroperasi sejak 2015.

Pandawa Grup dipimpin oleh Salman Nuryanto yang dibantu tiga rekannya, yakni Madamine selaku leader dan dua admin Pandawa Group, Tatto dan Subardi.

Baca juga: Tersangka KSP Indosurya Bebas, Ini Strategi Bareskrim Supaya Mereka Kembali Ditahan

Mereka menjanjikan bunga 10 persen bagi investor yang menanamkan uangnya di Pandawa Grup. Alhasil tercatat ada 2.900 orang yang menanamkan uang di Pandawa Grup.

Akibat pembayaran keuntungan yang macet, OJK memutuskan menghentikan kegiatan Pandawa Grup dan menyatakan mereka sebagai perusahaan investasi ilegal pada 11 November 2016. Nilai kerugian ditaksir mencapai Rp 400 miliar.

(Penulis : Rahel Narda Chaterine | Editor : Sabrina Asril)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PPP Sebut Kriteria Capres dari KIB Semakin Mengerucut

PPP Sebut Kriteria Capres dari KIB Semakin Mengerucut

Nasional
Soal Kriteria Capres Ideal Versi Jokowi, Zulkifli Hasan: Itu Airlangga dan Mardiono Kerutan Semua Wajahnya

Soal Kriteria Capres Ideal Versi Jokowi, Zulkifli Hasan: Itu Airlangga dan Mardiono Kerutan Semua Wajahnya

Nasional
Airlangga Lempar Kode, Partai yang Akan Gabung KIB Sewarna Bola Piala Dunia dan Baju Jokowi

Airlangga Lempar Kode, Partai yang Akan Gabung KIB Sewarna Bola Piala Dunia dan Baju Jokowi

Nasional
Bharada E Mengaku Diperintah Putri Candrawathi Hilangkan Sidik Jari Sambo di Barang Brigadir J

Bharada E Mengaku Diperintah Putri Candrawathi Hilangkan Sidik Jari Sambo di Barang Brigadir J

Nasional
Ferdy Sambo ke Bharada E: Skenarionya Ibu Dilecehkan Yosua, Kamu Tembak, Yosua yang Mati

Ferdy Sambo ke Bharada E: Skenarionya Ibu Dilecehkan Yosua, Kamu Tembak, Yosua yang Mati

Nasional
Ganjar: Gara-gara Presiden, Beredar Semua Orang Wajahnya Berkerut dan Pakai Rambut Putih

Ganjar: Gara-gara Presiden, Beredar Semua Orang Wajahnya Berkerut dan Pakai Rambut Putih

Nasional
Bawaslu Akui Keterbatasan Tindak Hoaks karena UU Pemilu

Bawaslu Akui Keterbatasan Tindak Hoaks karena UU Pemilu

Nasional
Keliling Papua, Ma'ruf Amin: Saya Ingin Garuk yang Gatal

Keliling Papua, Ma'ruf Amin: Saya Ingin Garuk yang Gatal

Nasional
Kumpul Bareng Ketum KIB, Zulhas: Biar Kecil Kita Bisa Menang

Kumpul Bareng Ketum KIB, Zulhas: Biar Kecil Kita Bisa Menang

Nasional
Pengamat Nilai Reformasi Peradilan Militer Belum Berjalan

Pengamat Nilai Reformasi Peradilan Militer Belum Berjalan

Nasional
Menkes Ungkap Asal Usul Virus Polio di Aceh, Ternyata dari BAB Anak yang Baru Vaksin

Menkes Ungkap Asal Usul Virus Polio di Aceh, Ternyata dari BAB Anak yang Baru Vaksin

Nasional
Ingin Segera Bertemu PDI-P, Musra: Kalau Enggak Ketemu Agak Lucu

Ingin Segera Bertemu PDI-P, Musra: Kalau Enggak Ketemu Agak Lucu

Nasional
Perawatan dan Pemeliharaan Alutsista Dinilai Harus Jadi Perhatian Panglima TNI

Perawatan dan Pemeliharaan Alutsista Dinilai Harus Jadi Perhatian Panglima TNI

Nasional
Saat Putri Candrawathi Berbisik ke Ferdy Sambo soal CCTV dan Sarung Tangan Sebelum Brigadir J Terbunuh...

Saat Putri Candrawathi Berbisik ke Ferdy Sambo soal CCTV dan Sarung Tangan Sebelum Brigadir J Terbunuh...

Nasional
Jokowi Diminta Tak Banyak Ikut Campur soal Pilpres, Relawan Membela

Jokowi Diminta Tak Banyak Ikut Campur soal Pilpres, Relawan Membela

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.