Kompas.com - 26/09/2022, 17:45 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Survei Centre for Strategic and International Studies menunjukkan, ada 43,9 persen pemilih muda berusia 17-39 tahun yang merasa tidak bebas menyampaikan kritik kepada pemerintah.

Berdasarkan survei ini, hanya ada ada 54,3 persen responden yang merasa bebas mengkritik pemerintah, sedangkan 1,8 persen lainnya menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.

"Ada satu indikator yang publik di populasi muda ini terbelah, terutama soal kebebasan dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah," kata Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandes, Senin (26/9/2022).

Baca juga: Survei CSIS: Elektabilitas PDI-P Tertinggi di Kalangan Pemilih Muda

Menurut Arya, angka tersebut merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kepuasan publik pada praktik demokrasi di Indonesia.

Arya menyebutkan, beberapa indikator kebebasan sipil lainnya tergolong cukup baik di mana responden yang merasa bebas menyampaikan pendapat di muka umum ada sebanyak 71,1 persen.

Kemudian kebebasan pers (71,1 persen), bebas berekspresi di ruang publik (73,7 persen), bebas berserikat, berkumpul, dan berorganisasi (82 persen), serta kebebasan akademik (82,7 persen).

Baca juga: Survei CSIS: Pemilih Muda Inginkan Pemimpin yang Jujur dan Tak Korupsi

Merespons temuan tersebut, Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahen menilai, hal itu semestinya menjadi bahan koreksi oleh pemerintah.

"Meskipun ada 54 persen yg merasa tidak takut atau merasa bebas tapi ada angka yg signifikan 43,9 persen itu harus menjadi perthatian bersama. Ya mungkin (ada) upaya-upaya intimidasi, kekerasan, atau bahkan kriminalisasi," ujar Herzaky.

Menurut Herzaky bentuk intimidasi yang dialami saat ini berbeda dari masa Orde Baru, di mana kini intimidasi dilakukan dengan melakukan doxing maupun peretasan.

"Kalau zaman dulu zaman Orba mungkin ketakutannya adalah mendadak ada intel datang atau pakai senjata secara langsung, kalau sekarang kan enggak. Sekarang yang paling menakutkan adalah doxing, ada doxing di media sosial, kemudian diretas," kata dia.

Baca juga: Survei CSIS: Di Kalangan Pemilih Muda, Anies Unggul secara Head to Head Lawan Prabowo dan Ganjar

Ia menegaskan, maraknya aksi doxing maupun peretasan akhir-akhir ini tidak boleh dianggap remeh karena menurut dia tidak ada orang yang mau data-data pribadinya diumbar ke publik, terutama data pribadi.

Adapun survei ini diselenggarakan CSIS pada 8-13 Agustus 2022 kepada 1.200 responden berusia 17-39 tahun di 34 provinsi se-Indonesia.

Survei ini memiliki margin of error +/- 2,48 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.