Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 27/07/2022, 22:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengungkapkan ada sejumlah isu yang akan dihadapi calon pemimpin Indonesia, pasca pergantian kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2024.

Isu pertama adalah soal lingkungan di mana juga menjadi sorotan dunia, utamanya negara-negara di Eropa.

"Sekarang ini negara-negara, terutama negara-negara di Eropa sangat concern pada isu lingkungan. Bahkan misalnya dalam pertemuan G20 dan kita menjadi presidensi G20, ada kebijakan untuk mendorong deforestasi," kata Arya dalam diskusi bertajuk "Memaknai Mandat Politik untuk Puan Maharani", di Cikini, Jakarta, Rabu (27/7/2022).

Baca juga: CSIS: Ada 1.221 Kekerasan Kolektif di Indonesia pada 2021, Terbanyak di Jatim

Ia mengatakan, calon pemimpin Indonesia juga mesti memahami persoalan lingkungan dunia ke depan.

Dia menyebutkan, misalnya di Portugal terjadi gelombang panas yang menyebabkan hampir ribuan orang meninggal dunia.

"Indonesia, kita beberapa tempat bahkan di kota besar, mengalami banjir. Jadi tantangan lingkungan, perubahan iklim, ke depan akan semakin berat. Dan kita sedang menghadapi itu," ujarnya.

Isu kedua yang mesti dihadapi calon pemimpin yaitu mengenai kesehatan.

Baca juga: CSIS Soroti Terbentuknya Koalisi Pemilu 2024 yang Cenderung Lebih Awal

Dia mengingatkan, persoalan kesehatan karena pandemi Covid-19 masih menjadi tantangan Indonesia dan dunia ke depan.

Terlebih, situasi Covid-19 dinilai kerap berubah. Kasus aktif di Indonesia contohnya, kadang mengalami kenaikan atau penurunan.

"Enggak menutup kemungkinan ke depan isu-isu kesehatan, krisis kesehatan masih terjadi," terang Arya.

"Beberapa waktu lalu misalnya, tiga hari lalu badan kesehatan dunia atau WHO mengumumkan soal cacar monyet jadi darurat kesehatan global," sambungnya.

Baca juga: CSIS: Pilpres 2024 Berpotensi Terjadi Dua Putaran

Untuk Indonesia, tantangan bidang kesehatan juga masih seputar gizi buruk dan stunting pada anak.

Kemudian, isu berikutnya adalah soal ancaman krisis ekonomi yang kini juga tengah dihadapi oleh beberapa negara di dunia.

Dia mencontohkan beberapa negara maju juga tak luput dari ancaman krisis ekonomi akibat inflasi.

"Nah di kita sekarang bagusnya inflasi kita terkendali, tapi kan tantangan ke depan kita enggak tahu seperti apa," kata dia.

Baca juga: Survei CSIS: 51,8 Persen Ahli Tak Puas dengan Kinerja Anies-Riza

"Nah begitu juga soal isu isu ketimpangan itu masih terjadi dan juga soal bonus demografi, akan terjadi urbanisasi, orang akan berpindah dari desa ke kota karena di desa tidak tersedia lapangan kerja," tambah Arya.

Atas hal-hal tersebut, Arya menilai bahwa situasi tantangan dunia ke depan akan semakin berat.

Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki visi ke depan.

"Kita tentu butuh pemimpin yang teruji. Nah teruji itu maksud saya begini, apakah dia dengan situasi yang berat seperti itu, bagaimana pemimpin tersebut mampu memimpin dalam situasi krisis," nilai Arya.

Baca juga: Survei CSIS: Ridwan Kamil di Posisi Teratas sebagai Calon Pemimpin Jakarta Pasca-pemindahan Ibu Kota

Selain itu, Arya berpandangan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu berkolaborasi, tidak hanya antar sesama elite politik, tetapi juga dengan pihak swasta.

"Karena ke depan, negara memang enggak bisa kalau kita kerja sendiri. Negara harus kolaborasi dengan sektor swasta," pungkas Arya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kementerian KP Latih Peserta Didik lewat Festival Kewirausahaan

Kementerian KP Latih Peserta Didik lewat Festival Kewirausahaan

Nasional
Anak Buah Sambo Beberkan Budaya Sulit Tolak Perintah Atasan, Kompolnas: Sekarang Bukan Zaman Orde Baru

Anak Buah Sambo Beberkan Budaya Sulit Tolak Perintah Atasan, Kompolnas: Sekarang Bukan Zaman Orde Baru

Nasional
IDAI: Kelebihan Nutrisi Tingkatkan Risiko Kanker pada Anak

IDAI: Kelebihan Nutrisi Tingkatkan Risiko Kanker pada Anak

Nasional
Gelar International Collaboration: Students Industry Networking, Kementerian KP Perkuat Jejaring Internasional untuk Pendidikan

Gelar International Collaboration: Students Industry Networking, Kementerian KP Perkuat Jejaring Internasional untuk Pendidikan

Nasional
Kasatgas Penyidikan KPK Tri Suhartanto kembali ke Polri

Kasatgas Penyidikan KPK Tri Suhartanto kembali ke Polri

Nasional
Terjebak Asmara dengan Pemohon Cerai, Hakim MY Diberhentikan dengan Tidak Hormat

Terjebak Asmara dengan Pemohon Cerai, Hakim MY Diberhentikan dengan Tidak Hormat

Nasional
Pengamat Sebut Peluang Anies-RK Terbuka Setelah Ketum Nasdem dan Golkar Bertemu

Pengamat Sebut Peluang Anies-RK Terbuka Setelah Ketum Nasdem dan Golkar Bertemu

Nasional
Jaksa Agung Ingatkan Jajarannya Disiplin dan Terapkan Pola Hidup Sederhana

Jaksa Agung Ingatkan Jajarannya Disiplin dan Terapkan Pola Hidup Sederhana

Nasional
Tiga 'Streamer' Pornografi Ini Raup Rp 30-40 Juta Per Bulan

Tiga 'Streamer' Pornografi Ini Raup Rp 30-40 Juta Per Bulan

Nasional
Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Turun, Wapres: Tentu Akan Kita Teliti

Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Turun, Wapres: Tentu Akan Kita Teliti

Nasional
Sampaikan Pembelaan, Anak Buah Sambo: Saya Hanya Anak Buruh Pabrik, Bermimpi Jadi Polisi pun Tak Berani

Sampaikan Pembelaan, Anak Buah Sambo: Saya Hanya Anak Buruh Pabrik, Bermimpi Jadi Polisi pun Tak Berani

Nasional
Didatangi 3 Kali Keluarga Lukas Enembe, Komnas HAM Lakukan Koordinasi dengan KPK

Didatangi 3 Kali Keluarga Lukas Enembe, Komnas HAM Lakukan Koordinasi dengan KPK

Nasional
Anak Buah Sambo Peraih Adhi Makayasa Klaim Jadi yang Pertama Bongkar Kasus 'Obstruction of Justice'

Anak Buah Sambo Peraih Adhi Makayasa Klaim Jadi yang Pertama Bongkar Kasus "Obstruction of Justice"

Nasional
Setelah Bos Indosurya Divonis Lepas, Pemerintah Ajukan Kasasi, Buka Penyelidikan Baru, hingga Buru 1 DPO

Setelah Bos Indosurya Divonis Lepas, Pemerintah Ajukan Kasasi, Buka Penyelidikan Baru, hingga Buru 1 DPO

Nasional
Dinamika Komunikasi Politik Nasdem: Bertemu Jokowi, Kunjungi Gerindra-PKB dan 'Mesra' dengan Golkar

Dinamika Komunikasi Politik Nasdem: Bertemu Jokowi, Kunjungi Gerindra-PKB dan 'Mesra' dengan Golkar

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.