Rusia Masih Invasi Ukraina, Dino Patti Djalal: Sulit Berharap Jokowi Bisa Hentikan Aksi Militer dalam Sekali Kunjungan

Kompas.com - 02/07/2022, 20:01 WIB
|

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo dianggap gagal mendamaikan Rusia dengan Ukraina. Anggapan ini menyusul masih terjadinya gempuran Rusia terhadap Ukraina usai Jokowi melakukan kunjungan ke Moskow, Rusia, pada Kamis (30/6/2022).

Gempuran tetap terjadi meskipun beberapa pimpinan negara lain sudah lebih dulu berbicara dengan Putin. Mereka adalah Sekjen PBB, Presiden Turki, hingga Kanselir Austria.

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai, tak mudah bagi kepala negara manapun untuk menghentikan invasi.

"Tentu sulit juga berharap Presiden Jokowi (dalam) sekali kunjungan akan bisa menghentikan aksi militer dari Presiden Putin," ucap Dino kepada Kompas.com, Sabtu (2/6/2022).

Baca juga: Analisis Dino Patti Djalal: Zelensky Lihat Jokowi Bawa Misi Damai, Putin Anggap Kunjungan Bilateral Semata

Adapun Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menemui Putin dan Menteri Luar Negeri Rusia pada Selasa (24/4/2022). Sementara itu, Kanselir Austria Karl Nehammer bertemu dengan Putin pada Senin (11/4/2022).

Nehammer sendiri tercatat menjadi pemimpin Eropa pertama yang mengunjungi Putin sejak dimulainya operasi militer Rusia ke Ukraina pada akhir Februari 2022.

"Sekjen PBB enggak tembus, Kanselir Austria juga dulu enggak nembus walaupun sudah datang ke Moskow. Presiden Turki juga, enggak nembus usaha mediasinya," ungkap Dino.

Dianggap kunjungan bilateral

Dino justru menilai, kunjungan Jokowi ke Rusia dianggap oleh Putin sebagai kunjungan bilateral membahas kerja sama ekonomi antar kedua negara.

Baca juga: Oleh-oleh Jokowi Bertemu Zelensky dan Putin: Amankan Pasokan Gandum dan Pupuk

Lebih lanjut Dino menjelaskan, Indonesia memang memiliki hubungan "romantis" dengan Rusia cukup lama. Rusia menjadi salah satu mitra strategis dalam ekspor impor Indonesia.

Namun, porsi ekspor terhadap seluruh barang yang diimpor Indonesia masih relatif kecil, jauh lebih kecil dibanding China dan AS yang merupakan mitra terbesar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.