Taufan Teguh Akbari
Dosen

Pengamat dan praktisi kepemudaan, komunikasi, kepemimpinan & komunitas. Saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Rektor 3 IKB LSPR, Head of LSPR Leadership Centre, Chairman Millennial Berdaya Nusantara Foundation (Rumah Millennials), Pengurus Pusat Indonesia Forum & Konsultan SSS Communications.

Kenapa Indonesia Butuh Lebih Banyak Sustainable Leaders?

Kompas.com - 14/06/2022, 08:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

ELECTRUM, perusahaan patungan GO-JEK dan TBS Energi Utama, yang diresmikan pada November tahun 2021 lalu, mendukung upaya Indonesia dalam transisi energi.

Sebagai bukti nyata, Electrum memproduksi kendaraan listrik dan telah mencapai target jarak tempuh satu juta kilometer dalam waktu tiga bulan.

GO-JEK dan Electrum akan menciptakan ekosistem kendaraan listrik, mulai dari manufaktur hingga pembiayaan jika ingin memiliki kendaraan listrik.

Targetnya adalah seluruh armada GO-JEK menggunakan kendaraan listrik pada tahun 2030.

Apa yang dilakukan Electrum mencerminkan tentang pola pikir sustainable leadership (kepemimpinan keberlanjutan).

Mereka mendemonstrasikan bagaimana upaya memelihara lingkungan dan ekosistem agar bisa mencapai keuntungan bisnis.

Masing-masing pemimpin GO-JEK dan TBS Energi Utama memiliki visi yang matang dan mampu membaca peluang bagaimana interaksi pasar dan upaya penyelamatan lingkungan akan membawa dampak yang besar.

Upaya transisi energi ini juga merupakan komitmen menghentikan dampak perubahan iklim. Perubahan iklim merupakan masalah multidimensi yang melibatkan aspek ekonomi, politik, sosial, dan budaya, serta teknologi.

Suara-suara untuk menyelamatkan lingkungan datang dari banyak sisi. Oleh karena itu, model bisnis harus menyesuaikan dengan aksi dampak lingkungan.

Sustainability leadership semakin relevan

Kepemimpinan keberlanjutan adalah sebuah konsep yang berdasarkan pola pikir bahwa pemimpin memiliki komitmen nyata untuk menyelesaikan tujuan yang tertuang dalam 17 Sustainable Development Goals (SDGs).

Dalam SDGs ada isu tentang gender, lingkungan, perekonomian yang adil dan merata, energi, dan lain-lain.

Tujuh belas poin SDGs adalah sebuah bentuk komitmen bersama pemimpin lintas sektor untuk menjadikan Bumi tempat tinggal yang lebih nyaman dan adil bagi seluruh masyarakat global.

Meskipun demikian, pemimpin keberlanjutan juga masih terdengar asing di telinga banyak orang.

Menurut Fabio dan Peiro (2018), gaya kepemimpinan ini berfokus pada keberlanjutan sumber daya manusia yang dapat mendukung pengembangan organisasi yang berkelanjutan.

Selain itu, mereka juga fokus pada promosi sumber daya dan kesejahteraan di tingkat individu dan organisasi yang dapat berkontribusi terhadap pekerja dan organisasi yang lebih produktif dan efisien. Dengan kata lain, mereka bicara dampak jangka panjang.

Hal yang paling penting tentang pemimpin keberlanjutan adalah mereka melihat sebab-akibat secara jangka panjang.

Mereka menginginkan organisasi yang dipimpinnya berperan lebih besar. Alhasil, untuk mencapai peran yang lebih besar, harus ada strategi yang diterapkan untuk memberikan hasil yang memenuhi standar lingkungan, sosial, dan finansial.

Pemimpin keberlanjutan memiliki lima karakter yang sangat baik. Pertama, mereka adalah pemimpin yang moral-driven.

Maksudnya adalah pemimpin ini mempertimbangkan apakah kebijakannya bermanfaat bagi manusia dan seluruh makhluk hidup lainnya, sehingga mereka punya kompas moral yang jelas dan terarah.

Alhasil, garis batas kebijakannya menjadi jelas: kebijakan yang dibuat harus bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup tanpa terkecuali.

Kedua, pemimpin keberlanjutan juga berpikir secara holistik. Mereka berpikir dalam pendekatan sistem.

Mereka percaya bahwa segala sesuatunya terhubung dan jika salah satunya rusak, maka akan menganggu keseluruhan kerja sistemnya.

Karena berpikir dalam sistem, pemimpin keberlanjutan memikirkan dengan sangat matang kebijakannya, sehingga tidak merusak sistem yang sudah terbangun.

Ketiga, berpikiran terbuka juga merupakan karakter yang ada di diri pemimpin keberlanjutan. Dengan era VUCA sekarang, banyak dinamika yang akan memengaruhi kebijakannya.

Oleh karena itu, pemimpin harus mampu mengidentifikasi tren yang sedang terjadi dan mengubahnya menjadi peluang membuat kebijakan yang bisa menjawab tantangan dan berkontribusi terhadap keberlangsungan kehidupan alam semesta (people, profit dan planet).

Keempat, pemimpin keberlanjutan memimpin dengan empati. Mereka punya kecerdasan emosi yang baik, karena pemimpin keberlanjutan memahami dengan baik bahwa mengubah sesuatu membutuhkan kesabaran dan kegigihan.

Selain itu, sosok ‘sustainable leaders’ mampu melihat situasi dari kacamata orang lain. Mereka tidak mudah untuk menilai sesuatu.

Pemimpin keberlanjutan juga tulus dan rendah hati. Mereka melihat value seseorang dan belajar darinya.

Kelima, dan ini salah satu yang paling penting dari sosok ‘sustainable leaders’, mereka berani mewujudkan visinya, mengetahui bahwa perjuangan mereka untuk berdampak pada masyarakat dan planet sambil mendapatkan keuntungan merupakan hal yang menantang.

Oleh karena itu, pemimpin keberlanjutan perlu kreatif dan inovatif dalam menemukan jalan terbaik mewujudkan visinya.

Pentingnya ekosistem

Karena betapa kompleksnya tujuan yang akan dicapai, pembentukan ekosistem menjadi sangat penting.

Setiap entitas memiliki peran masing-masing. Electrum misalnya, telah mengambil peran dalam mengupayakan transisi energi: dari fosil ke energi terbarukan.

Selain itu, banyak pihak juga telah berupaya menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam SDGs, baik itu dalam bentuk sosialisasi ke masyarakat, membuat kebijakan perusahaan yang inklusif, dan tentunya membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya.

Dalam konteks kebijakan organisasi, poin pentingnya adalah bagaimana kepemimpinan dalam organisasi concern terhadap kelangsungan atau keberlanjutan dalam jangka panjang, baik bisnis maupun lingkungan di mana manusia hidup.

Fokus itu nantinya akan terlihat dari pola pikir, yang nantinya termanifestasikan dalam bentuk praktik kebijakan organisasi.

Sebagai contoh, menurut survei Deloitte yang berjudul Deloitte 2022 CxO Sustainability Report menemukan, sekitar dua pertiga eksekutif mengatakan perusahaan mereka sangat prihatin dengan perubahan iklim dan 79 persen melihat dunia pada titik kritis perubahan iklim.

Lebih lanjut, 97 persen perusahaan telah merasakan dampak negatif dari perubahan iklim.

Survei ini sebagai titik awal bagaimana sudah terbentuk pola pikir untuk bisa ikut berkontribusi dalam aksi penyelamatan lingkungan.

Banyak perusahaan juga yang sudah mulai mengubah operasi mereka dengan pendekatan yang sustainable.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jumlah Polisi Tak Profesional yang Tangani Kasus Pembunuhan Brigadir J Bertambah Jadi 35 Orang

Jumlah Polisi Tak Profesional yang Tangani Kasus Pembunuhan Brigadir J Bertambah Jadi 35 Orang

Nasional
Ini 3 Alasan Deolipa Gugat Bharada E hingga Kabareskrim secara Perdata

Ini 3 Alasan Deolipa Gugat Bharada E hingga Kabareskrim secara Perdata

Nasional
Survei LSI Denny JA: Mayoritas Responden yang Tak Puas dengan Kinerja Jokowi Cenderung Memilih Koalisi Gerindra-PKB

Survei LSI Denny JA: Mayoritas Responden yang Tak Puas dengan Kinerja Jokowi Cenderung Memilih Koalisi Gerindra-PKB

Nasional
KPK Kirimkan Dokumen Bukti Dugaan Korupsi Surya Darmadi ke Kejagung

KPK Kirimkan Dokumen Bukti Dugaan Korupsi Surya Darmadi ke Kejagung

Nasional
Jokowi Kukuhkan Paskibraka yang Akan Bertugas pada Upacara 17 Agustus

Jokowi Kukuhkan Paskibraka yang Akan Bertugas pada Upacara 17 Agustus

Nasional
Temukan 'Overbudget' dan 'Overservice', Wapres Minta Penyelenggaraan Haji Lebih Efisien

Temukan "Overbudget" dan "Overservice", Wapres Minta Penyelenggaraan Haji Lebih Efisien

Nasional
Sederet Pengamanan LPSK untuk Bharada E: Pengawal Tambahan hingga Makanan

Sederet Pengamanan LPSK untuk Bharada E: Pengawal Tambahan hingga Makanan

Nasional
Jurnalisme Data dalam Perbincangan Jurnalisme Digital

Jurnalisme Data dalam Perbincangan Jurnalisme Digital

Nasional
Komnas HAM Periksa CCTV-Bekas Tembakan di Rumah Dinas Ferdy Sambo

Komnas HAM Periksa CCTV-Bekas Tembakan di Rumah Dinas Ferdy Sambo

Nasional
Perjalanan Kasus Surya Darmadi: Jadi Buronan KPK-Kejagung hingga Ditahan

Perjalanan Kasus Surya Darmadi: Jadi Buronan KPK-Kejagung hingga Ditahan

Nasional
Hindari Gali Lubang Tutup Lubang, Wapres Nilai Ongkos Haji Harus Naik

Hindari Gali Lubang Tutup Lubang, Wapres Nilai Ongkos Haji Harus Naik

Nasional
Survei LSI: 25,4 Persen Responden yang Puas Kinerja Jokowi Pilih Poros PDI-P

Survei LSI: 25,4 Persen Responden yang Puas Kinerja Jokowi Pilih Poros PDI-P

Nasional
Bawaslu Sebut 275 Pengawas Pemilu Dicatut Namanya Jadi Anggota Parpol untuk Pemilu 2024

Bawaslu Sebut 275 Pengawas Pemilu Dicatut Namanya Jadi Anggota Parpol untuk Pemilu 2024

Nasional
Jokowi Sampaikan Dua Pidato Kenegaraan Besok, Bisa Disaksikan Masyarakat

Jokowi Sampaikan Dua Pidato Kenegaraan Besok, Bisa Disaksikan Masyarakat

Nasional
Komnas HAM Dinilai Lamban Bentuk Tim Ad Hoc Terkait Kasus Munir

Komnas HAM Dinilai Lamban Bentuk Tim Ad Hoc Terkait Kasus Munir

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.