Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jajaki Koalisi, PKB dan PKS Dinilai Sulit Bersatu Ibarat Air dan Minyak

Kompas.com - 10/06/2022, 17:53 WIB
Ardito Ramadhan,
Krisiandi

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat politik dari Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam menilai, relasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ibarat air dan minyak yang sulit bertemu.

"Dalam berbagai momentum politik, relasi PKB dan PKS ini ibarat air dan minyak. Keduanya sulit bertemu dan para kadernya di lapangan, maupun di jagad maya, juga sering berbenturan satu sama lain," kata Umam kepada Kompas.com, Jumat (10/6/2022).

Umam mengakui, PKB dan PKS sama-sama partai berbasis Islam, tetapi keduanya memiliki paradigma politik Islam yang bertolak belakang.

Baca juga: Pengamat: Capres-Cawapres yang Didukung Koalisi PKB-PKS Berpotensi Menang

Ia menyebutkan, PKB yang lahir dai rahim Nahdlatul Ulama merupakan representasi watak moderatisme yang berasal dari model keagamaan post-tradisionalisme Islam yang ditampilkan kaum santri nusantara.

Sementara, PKS lahir dari gerakan Tarbiyah yang mewadahi segmen muslim kelas menengah-perkotaan yang cenderung konservatif.

Karena perbedaan itulah, menurut Umam, koalisi yang sedang dijajaki oleh PKB dan PKS patut diuji konsistensinya.

"Benarkah wacana koalisi PKB dan PKS itu didasarkan pada hadirnya ruang dialog paradigmatik dan kalkulasi politik yang matang di antara keduanya?" ujar Umam.

"Ataukah hanya strategi kedua partai politik untuk meningkatkan popularitas partainya masing-masing? Besar kemungkinan, ini hanya strategi marketing politik kedua partai belaka," imbuh dia.

Kendati demikian, Umam mengakui, koalisi PKB-PKS memiliki potensi untuk mengantarkan calon presiden yang mereka dukung untuk memenangkan Pilpres 2024 mendatang.

Sebab, PKB dan PKS dapat mengonsolidasikan dan menyapu bersih pemilih dengan latar belakang Muslim, terutama dari segmen muslim moderat maupun konservatif.

"Bahkan, bersatunya mesin politik PKB dan PKS akan jauh lebih efektif dibanding bersatunya PAN dan PPP, karena para kader kedua partai itu memiliki loyalitas dan militansi yang lebih tinggi dibanding yang lain," kata dia.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid menyatakan koalisi yang hendak dibangun PKB dengan PKS membuktikan bahwa kedua partai tersebut bisa mendapatkan titik temu.

Sebab, menurut Jazilul, selama ini masyarakat kerap memandang PKB dan PKS tidak dapat bertemu.

"Memang yang harus kita akui bahwa PKB dan PKS ini sering menjadi framing yang kurang baik di masyarakat, seakan-akan kami tidak bisa bertemu," kata Jazilul di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (9/6/2022).

Jazilul mengakui, PKB pun harus memberi penjelasan kepada konstituen mengenai koalisi yang dibangun PKB bersama PKS.

Sebab, menurut dia, masih ada anggapan bahwa PKB dan PKS memiliki perbedaan akidah.

Baca juga: Menilik Potensi Rintangan dalam Poros Koalisi PKB-PKS

"Ini kan juga harus disampaikan kepada ppublik, bahwa ini urusannya bukan akidah, tapi urusannya bagaimana politik ini memberikan kesejahteraan," ujar dia.

Padahal, menurut Jazilul, PKB dan PKS memiliki banyak kesamaan, salah satunya sama-sama lahir di era Reformasi dan tergabung dalam poros tengah yang mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai presiden pada 1999 lalu.

"Kami berharap di 2024 ini PKB bisa mengambil peran untuk lebih mempersatukan keadaan seperti ketika tahun 1999 dulu. Alhamdulillah gayung bersambut, ini juga dari PKS juga kan, yang menurut saya ketika itu pernah bersama-sama," kata dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron Laporkan Anggota Dewas ke Dewas

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron Laporkan Anggota Dewas ke Dewas

Nasional
Moeldoko Lantik Deputi IV dan V KSP, Isi Posisi Juri Ardiantoro dan Jaleswari Pramodhawardani

Moeldoko Lantik Deputi IV dan V KSP, Isi Posisi Juri Ardiantoro dan Jaleswari Pramodhawardani

Nasional
Jokowi Soroti Minimnya Dokter Spesialis, Indonesia Rangking 147 Dunia

Jokowi Soroti Minimnya Dokter Spesialis, Indonesia Rangking 147 Dunia

Nasional
Defisit Produksi Minyak Besar, Politisi Golkar: Ubah Cara dan Strategi Bisnis

Defisit Produksi Minyak Besar, Politisi Golkar: Ubah Cara dan Strategi Bisnis

Nasional
Airlangga: Jokowi dan Gibran Sudah Masuk Keluarga Besar Golkar

Airlangga: Jokowi dan Gibran Sudah Masuk Keluarga Besar Golkar

Nasional
Terima Kasih ke Jokowi, Prabowo: Pemilu Tertib atas Kepemimpinan Beliau

Terima Kasih ke Jokowi, Prabowo: Pemilu Tertib atas Kepemimpinan Beliau

Nasional
1 Juta Warga Berobat ke Luar Negeri, Jokowi: Kita Kehilangan Rp 180 T

1 Juta Warga Berobat ke Luar Negeri, Jokowi: Kita Kehilangan Rp 180 T

Nasional
Kronologi Ganjar Tak Hadiri Penetapan Prabowo-Gibran, KPU Telat Kirim Undangan

Kronologi Ganjar Tak Hadiri Penetapan Prabowo-Gibran, KPU Telat Kirim Undangan

Nasional
Kala Hakim MK Beda Suara

Kala Hakim MK Beda Suara

Nasional
Usai Penetapan Presiden-Wapres Terpilih, Gibran Sambangi Warga Rusun Muara Baru sambil Bagi-bagi Susu

Usai Penetapan Presiden-Wapres Terpilih, Gibran Sambangi Warga Rusun Muara Baru sambil Bagi-bagi Susu

Nasional
Disebut Bukan Lagi Kader PDI-P, Gibran: Dipecat Enggak Apa-apa

Disebut Bukan Lagi Kader PDI-P, Gibran: Dipecat Enggak Apa-apa

Nasional
PKS Bertandang ke Markas Nasdem Sore Ini

PKS Bertandang ke Markas Nasdem Sore Ini

Nasional
Respons Anies Usai Prabowo Berkelakar soal Senyuman Berat dalam Pidato sebagai Presiden Terpilih

Respons Anies Usai Prabowo Berkelakar soal Senyuman Berat dalam Pidato sebagai Presiden Terpilih

Nasional
Usai Puja-puji Pers, Prabowo Tiadakan Sesi Tanya Jawab Wartawan

Usai Puja-puji Pers, Prabowo Tiadakan Sesi Tanya Jawab Wartawan

Nasional
Jadi Presiden Terpilih, Kekayaan Prabowo Capai Rp 2 Triliun

Jadi Presiden Terpilih, Kekayaan Prabowo Capai Rp 2 Triliun

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com