Kompas.com - 29/04/2022, 16:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tim Advokasi Anti Penyiksaan (TAP) akan melakukan upaya banding atas vonis empat pemuda dalam kasus begal salah tangkap di Tambelang, Kabupaten Bekasi.

Sebelumnya, tim mengecam keras dan menyesalkan putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Cikarang yang menjatuhkan pidana 10 bulan penjara kepada terdakwa Abdul Rohman, dan 9 bulan penjara kepada terdakwa M Fikry, M Rizky, dan Randi Apriyanto.

“Sudah resmi akan banding. Kemarin kami sudah nyatakan ke PN,” kata perwakilan TAP dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Teo Reffelsen, kepada Kompas.com pada Jumat (29/4/2022).

“Setelah Lebaran kami akan masukkan memori bandingnya,” imbuh dia.

Baca juga: Kontras dan LBH Jakarta Heran, Hakim Jadikan BAP Polisi sebagai Alat Bukti dalam Kasus Begal Salah Tangkap di Bekasi

Teo menyatakan, ada beberapa alasan terkait substansi persidangan yang membuat mereka yakin akan mengajukan banding.

TAP menilai majelis hakim keliru dalam menjatuhkan vonis dan mengabaikan fakta-fakta persidangan yang jelas menunjukkan bahwa Fikry cs tidak bersalah karena tidak berada di tempat ketika pembegalan terjadi pada 24 Juli 2021 dini hari.

Pertama, majelis hakim mengesampingkan saksi yang dihadirkan para terdakwa dengan anggapan terdapat konflik kepentingan, padahal seharusnya hakim fokus ke substansi keterangan.

“Terlebih ada keterangan saksi 3 (tiga) orang yang langsung melihat dengan jelas penyiksaan yang dialami oleh para terdakwa. Lalu pemilik Motor Honda Vario B 4956 yang dijadikan barang bukti menjelaskan bahwa motor tersebut berada dalam penguasaan dia sejak tanggal 23 sampai dengan 24 Juli 2021,” jelas Teo.

Baca juga: Kontras dan LBH Jakarta: Vonis Ringan Begal Salah Tangkap di Bekasi Tunjukkan Hakim Ragu-ragu

Keterangan yang diabaikan juga termasuk keterangan ahli telematika Roy Suryo yang memastikan bahwa foto hasil rekaman CCTV pada 24 Juli 2021 dini hari di sebuah musala sinkron dengan foto Fikry.

Teo juga menyampaikan alasan lain, mulai dari barang bukti arit yang tidak dapat dibuktikan hubungannya dengan terdakwa Abdul Rohman yang dituduh membacok korban, digunakannya penyidik sebagai saksi dan BAP sebagai alat bukti, hingga diabaikannya hasil investigasi Komnas HAM yang menemukan terjadinya penyiksaan terhadap para terdakwa oleh polisi supaya mengaku sebagai begal.

“Selain alasan substansi persidangan, dalam memutus perkara ini kelihatan jelas majelis hakim ragu-ragu dan mengetahui bahwa para terdakwa tidak bersalah, namun tetap menghukum dengan bersiasat, tapi yang ditabrak adalah asas dan hukum,” jelasnya.

“Berdasarkan hal tersebut kami menilai selain telah terjadi salah tangkap (error in persona), penyiksaan (torture), penuntutan jahat (malicious prosecution), juga telah terselenggara peradilan sesat (miscarriage of justice) terhadap para terdakwa,” tutup Teo.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rektor Universitas Lampung Diduga Terima Suap Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Mandiri

Rektor Universitas Lampung Diduga Terima Suap Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Mandiri

Nasional
PPP: Koalisi Indonesia Bersatu Siap Lanjutkan Program Jokowi-Maruf

PPP: Koalisi Indonesia Bersatu Siap Lanjutkan Program Jokowi-Maruf

Nasional
Kemendikbud Ristek Tunggu Penetapan KPK Terkait OTT Rektor Unila

Kemendikbud Ristek Tunggu Penetapan KPK Terkait OTT Rektor Unila

Nasional
Tipu Muslihat Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Kelabui Kompolnas hingga Pengacara

Tipu Muslihat Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Kelabui Kompolnas hingga Pengacara

Nasional
Ayah Emil Dardak Meninggal Dunia, AHY Sampaikan Belasungkawa

Ayah Emil Dardak Meninggal Dunia, AHY Sampaikan Belasungkawa

Nasional
Rektor Universitas Lampung Karomani Ditangkap KPK

Rektor Universitas Lampung Karomani Ditangkap KPK

Nasional
Kemendikbud Ristek: Kalau Benar Rektor Kena OTT Sangat Mencederai Misi Perguruan Tinggi

Kemendikbud Ristek: Kalau Benar Rektor Kena OTT Sangat Mencederai Misi Perguruan Tinggi

Nasional
Sekjen KPK Sebut Butuh Tambahan 351 Orang Pegawai Baru

Sekjen KPK Sebut Butuh Tambahan 351 Orang Pegawai Baru

Nasional
Polemik 'Amplop' Kiai, Suharso Monoarfa Minta Maaf

Polemik "Amplop" Kiai, Suharso Monoarfa Minta Maaf

Nasional
Pakar Hukum Curiga Ada Kepentingan Tertentu di Balik Sikap Komnas Perempuan terhadap Istri Ferdy Sambo

Pakar Hukum Curiga Ada Kepentingan Tertentu di Balik Sikap Komnas Perempuan terhadap Istri Ferdy Sambo

Nasional
KPK OTT Rektor Salah Satu Universitas Negeri di Lampung

KPK OTT Rektor Salah Satu Universitas Negeri di Lampung

Nasional
KPK Sebut Dugaan Percobaan Penyuapan Ferdy Sambo ke LPSK Harus Penuhi 3 Syarat

KPK Sebut Dugaan Percobaan Penyuapan Ferdy Sambo ke LPSK Harus Penuhi 3 Syarat

Nasional
Istri Ferdy Sambo Termasuk, Ini 5 Tersangka Kasus Pembunuhan Brigadir J dan Perannya

Istri Ferdy Sambo Termasuk, Ini 5 Tersangka Kasus Pembunuhan Brigadir J dan Perannya

Nasional
Surya Paloh Temui Jokowi di Istana, Nasdem Sebut Tak Bicarakan 'Reshuffle'

Surya Paloh Temui Jokowi di Istana, Nasdem Sebut Tak Bicarakan "Reshuffle"

Nasional
Sikap Komnas Perempuan-Komnas HAM terhadap Istri Ferdy Sambo Usai Jadi Tersangka Dikritik

Sikap Komnas Perempuan-Komnas HAM terhadap Istri Ferdy Sambo Usai Jadi Tersangka Dikritik

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.