Kolom Biz
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Home Credit
Home Credit

Kami adalah perusahaan keuangan berbasis teknologi dengan visi untuk memberdayakan masyarakat dengan cara yang bertanggung jawab sebagai #SobatBelanja yang dapat diandalkan untuk bantu wujudkan impian mereka. Hubungi kami melalui e-mail ke care@homecredit.co.id dan akun media sosial kami @HomeCreditID (Facebook/Twitter/Instagram).

Mengatasi Isu Kesenjangan Sosial Melalui Pendekatan ESG

Kompas.com - 08/04/2022, 07:02 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh Stephanus Wisnu Kumarajati

Chief Operations Officer Home Credit Indonesia

 

PRINSIP tidak ada satu pun orang yang tertinggal atau left no one behind sudah sepatutnya diwujudkan sebagai sebuah aksi, bukan sekadar jargon yang diambil dari salah satu prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) atau agenda pembangunan berkelanjutan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Apalagi, krisis global yang berkepanjangan akibat pandemi Covid-19 dapat memicu kesenjangan ekonomi dan sosial justru semakin melebar. Bahkan, krisis ini semakin menegaskan disparitas di tengah masyarakat.

Menurut Global Wealth Report 2020, di masa pandemi Covid-19, Indonesia berada di peringkat keempat sebagai negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia, setelah Rusia, India, dan Thailand.

Dalam kondisi seperti itu, kelompok marginal menjadi golongan yang paling tertinggal. Pasalnya, kelompok masyarakat ini tidak memiliki akses ekonomi yang sama dan layak seperti yang dimiliki oleh kelompok masyarakat lain pada umumnya.

Tidak hanya akses terhadap sumber daya ekonomi, menurut World Social Science Report, berbagai dimensi, mulai dari sosial, politik, budaya, ilmu pengetahuan, kesehatan, hingga lingkungan turut memicu disparitas tersebut.

Namun, upaya untuk mengatasi isu kesenjangan sosial di berbagai aspek kehidupan dengan mendorong inklusivitas dan kesetaraan tentu bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan konsistensi dan kerja keras dari berbagai pihak, termasuk swasta.

Kini, berbagai perusahaan sudah mulai ambil bagian untuk memberikan dampak sosial demi mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan environment, social, and governance (ESG) atau lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.

Sebagai good corporate citizen, terdapat sejumlah upaya yang bisa dilakukan sebuah organisasi atau perusahaan untuk mengimplementasikan ESG demi mengatasi isu kesenjangan sosial.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi target kelompok yang patut untuk dilibatkan. Setelah itu, berupaya untuk memberdayakan mereka melalui serangkaian program yang dapat membuka akses demi kesejahteraan yang merata. Adapun target sasaran dapat ditentukan dari siapa yang paling tertinggal atau yang paling membutuhkan.

Masyarakat terdampak pandemi Covid-19

Dapat kita pahami bahwa pandemi Covid-19 membawa tantangan yang amat besar bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama pada aspek ekonomi dan kesehatan. Dengan demikian, bantuan untuk penanggulangan Covid-19 menjadi salah satu fokus utama dari aktivitas ESG perusahaan.

Contohnya, program penanggulangan Covid-19 yang dilakukan oleh Home Credit Indonesia. Sebagai perusahaan pembiayaan berbasis teknologi, Home Credit berfokus untuk melayani dan membantu masyarakat, termasuk seluruh pelanggan yang terdampak pandemi.

Home Credit Indonesia sendiri telah melayani lebih dari 5 juta pelanggan hingga akhir 2021 melalui layanan pembiayaan untuk konsumen yang dapat digunakan untuk belanja, baik offline maupun online, serta mendukung pemenuhan kebutuhan usaha kecil dan menengah para pelanggan melalui pembiayaan modal kerja.

Adapun sejak 2020 hingga November 2021, Home Credit telah menyalurkan keringanan pembiayaan atau program relaksasi kepada lebih dari 137.000 pelanggan dengan total nilai pembiayaan sebesar Rp 197 miliar. Program ini secara langsung dapat membantu para pelanggan yang sedang mengalami kesulitan secara finansial akibat pandemi.

Selain itu, Home Credit juga turut menyelenggarakan program vaksinasi Covid-19 yang diadakan pada Agustus–September 2021. Peserta yang terlibat mencapai sekitar 4.000 orang, mulai dari karyawan serta anggota keluarganya, pelanggan, mitra, hingga masyarakat sekitar kantor pusat Home Credit di Plaza Oleos, Jakarta.

Selanjutnya, Home Credit pun bekerja sama dengan gerakan solidaritas Sejuta Tes untuk menyalurkan 17 konsentrator oksigen berukuran 10 liter kepada masyarakat yang membutuhkan.

Tak hanya itu, Home Credit juga menyalurkan ratusan alat pelindung diri (APD), masker, sarung tangan, shower cap, serta face shield kepada relawan Sejuta Tes yang menjalankan kegiatan sosial menghadapi pandemi Covid-19. Kegiatan-kegiatan itu dapat dibaca lebih lanjut di tautan ini.

Kelompok penyandang disabilitas

Selain mengupayakan akses kesehatan di kala pandemi dapat tersebar secara merata, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan, Home Credit juga secara konsisten mengembangkan program pemberdayaan untuk para penyandang disabilitas.

Untuk diketahui, menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, sebanyak 37 juta jiwa atau 14 persen dari 267,7 juta masyarakat Indonesia merupakan penyandang disabilitas. Sebanyak 19 juta jiwa di antaranya masuk ke dalam kategori usia produktif. Namun, kebanyakan dari mereka adalah pekerja informal.

Untuk itu, Home Credit mencanangkan sebuah program berkelanjutan demi membantu para penyandang disabilitas agar dapat berkembang dan setara, yaitu program beasiswa coding Android yang bekerja sama dengan Dicoding Indonesia.

Sebanyak 100 orang peserta berpartisipasi pada program beasiswa yang diselenggarakan sejak Mei 2021 hingga Februari 2022 itu.

Program tersebut dilaksanakan secara bertahap dan terdiri dari beberapa tingkatan kelas, mulai dari kelas dasar, pemula, menengah, hingga mahir. Setiap kelas memiliki modul dengan kurikulum berstandar industri global dan berfokus pada praktik langsung. Program ini juga diulas bersama dengan penerima beasiswa di saluran Youtube Home Credit.

Tidak hanya di bidang information technology (IT), Home Credit juga turut memberdayakan para penyandang disabilitas yang ingin menjadi atlet profesional. Bersama peraih medali perak ajang Paralimpiade Tokyo 2020 di cabang angkat besi, Ni Nengah Widyaningsih, Home Credit turut berkontribusi mendirikan tempat berlatih melalui program Zero to Hero untuk atlet penyandang disabilitas di Yayasan Bhakti Senang Hati, Bali.

Home Credit percaya bahwa membangun kesetaraan di tengah masyarakat membutuhkan kerja sama multipihak. Oleh sebab itu, kami berupaya untuk menggandeng berbagai entitas agar setiap aktivitas sosial yang kami jalankan dapat memberikan dampak optimal. Karena kami #AdaUntukIndonesia.

 
Pilihan Untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.