Kompas.com - 13/03/2022, 09:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekte Children of God (CoG) sempat membuat geger Indonesia setelah ditetapkan sebagai aliran sesat dan dilarang menyebarkan ajarannya dalam bentuk apapun pada 1984.

Sebelum pemerintah melalui Kejaksaan Agung menerbitkan surat keputusan melarang kegiatan dan penyebarluasan ajaran Children of God, kepolisian sudah bergerak terlebih dulu dengan membongkar jaringan kelompok itu di Tanah Air.

Seperti dikutip dari surat kabar Kompas edisi 28 Februari 1984, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Ismail, mengatakan ada 700 orang yang ditangkap polisi terkait kelompok CoG. Mereka berasal dari Purwokerto (300 orang), Semarang (300 orang), dan Pemalang (100 orang).

Menurut Ismail, anggota kelompok CoG yang ditangkap di ketiga kota itu berasal dari kalangan menengah yang menganggur atau keluarga muda. Dia mengatakan anggota kelompok CoG membuat resah masyarakat karena menyebarkan ajaran seks bebas.

Baca juga: Viral, Video Yayasan di Bandung Diduga Ajarkan Aliran Sesat, 8 Pengurusnya Diamankan

"Sebenarnya tidak hanya Jawa Tengah yang terlanda gejala itu. Di kota-kota lain saya kira juga ada. Bahkan di Jakarta mungkin jumlahnya lebih banyak," kata Ismail.

Pada 6 Maret 1984, anggota Polda Metro Jaya dilaporkan menangkap seorang lelaki warga negara asing berinisial D yang diduga menyebarkan ajaran Children of God.

Polisi menyatakan D sempat tinggal bersama seorang lain di sebuah tempat di Jakarta. Namun, ketika polisi menggerebek tempat itu, mereka hanya menemukan D seorang diri.

Baca juga: Dugaan Aliran Sesat Hakekok, 16 Orang Mandi Bersama, MUI Turun Tangan

"Yang jelas dia ditahan supaya perbuatannya tidak semakin berkembang, dan dia tidak mengulangi perbuatannya itu," kata Kadispenpolda Metro Jaya Letkol (Pol) Mulyatno.

Dipancing

Perburuan terhadap penyebar ajaran Children of God juga dilakukan di Bandung, Jawa Barat. Dikutip dari surat kabar Kompas edisi 2 Maret 1984, petugas Polrestabes Bandung saat itu menangkap seorang warga Amerika Serikat berinisial PTR (40) yang diduga menyebarkan ajaran Children of God.

Mulanya polisi mendatangi kediaman PTR di Jalan Setiabudi sekitar pukul 15.00 WIB. Karena sasaran tidak berada di tempat, mereka lantas harus bersiasat untuk menangkap PTR.

Saat itu para polisi yang datang meminta kepada anak PTR yang berinisial J (16) untuk menelepon sang ayah. Polisi meminta J mengatakan mereka akan datang kembali sekitar pukul 10.00 WIB keesokan harinya.

Setelah itu, para polisi itu pamit pukul 19.00 WIB. Namun, tiga anggota reserse diperintahkan bersembunyi di halaman rumah PTR.

Baca juga: Kemenag Dalami Dugaan Aliran Sesat yang Beredar di Kota Palopo

Setelah menunggu, ternyata PTR dan istrinya berinisial E kemudian datang ke rumah itu mengendarai sepeda motor. Mereka lantas disergap dan ditangkap lalu dibawa ke Mapolrestabes Bandung.

Dari tangan PTR polisi menyita sejumlah buku dan rekaman video. Sebelum bermukim di Jalan Setiabudi, PTR disebut kerap berpindah-pindah lokasi tempat tinggal.

Baca juga: Ratusan Jemaah Yayasan Diduga Aliran Sesat di Bandung Dilokalisir, Polisi Koordinasi dengan MUI

PTR dilaporkan pertama kali datang ke Indonesia dan bermukim di Jakarta pada 1976. Dia lantas pindah ke Bandung pada 1981 dan sempat mengontrak rumah di Jalan Gambang. Setelah itu PTR pindah ke Jalan Macan, dan terakhir bermukim di Jalan Setiabudi.

Disebar ke radio amatir

Salah satu cara kelompok Children of God menyebarkan ajarannya di Indonesia adalah dengan memanfaatkan radio amatir. Mereka mengirimkan sejumlah materi berupa kaset berisi lagu-lagu untuk diputar.

Dikutip dari surat kabar Kompas edisi 29 Maret 1984, sejumlah stasiun radio amatir di Makassar saat itu ramai-ramai menyerahkan berbagai materi yang terkait dengan kelompok Children of God. Menurut Kejaksaan Negeri Makassar, berbagai materi yang mengandung ajaran kelompok Children of God itu terdiri dari brosur, stiker, hingga kaset berisi lagu dikirim dari alamat PO Box 36 di Jakarta.

Di antara kaset ajaran Children of God itu diberi judul Alunan Surya dan Music with Meaning Slow. Ada 178 buah kaset yang diserahkan kepada Kejari Makassar saat itu.

Baca juga: Tokoh Yayasan Mengaku Rasul Ke-26, Dianggap Warga Aliran Sesat, Pengurus Diamankan Polisi

Selain itu, aparat penegak hukum juga menggerebek sebuah rumah di Jalan Hati Murni dan menemukan sejumlah materi ajaran kelompok CoG. Barang-barang yang disita itu dalah 250 buah buku berjudul The Mo Letters karya David Moses atau David Berg (pendiri CoG), 300 brosur berisi materi tentang cinta kasih, 192 kaset berlabel Alunan Surya, serta 600 stiker bertema cinta kasih.

Pemilik rumah mengatakan semua barang-barang itu adalah titipan dari dua pasang suami istri berkebangsaan Belanda dan Amerika Serikat. Alhasil kedua pasangan suami istri itu diperiksa penyidik Kejaksaan Negeri dan sempat dicegah untuk tidak bisa bepergian ke luar negeri.

Pencegahan itu dilakukan karena aparat menyatakan ada pasangan suami istri asal Belanda yang diduga menyebarkan ajaran CoG yang kabur sebelum diperiksa.

Secara terpisah, Kapolda Jateng saat itu, Brigjen Soenarjo, juga memaparkan salah satu modus penyebaran ajaran dan perekrutan anggota Children of God. Yakni melalui kursus privat bahasa asing.

Baca juga: 5 Kasus Aliran Sesat dan Mengaku Nabi di Tanah Air, Klaim Setara Yesus hingga Nabi Terakhir

"Tapi, jangan menyamaratakan semua kursus privat lho," kata Soenarjo saat itu.

Kemudian, kata Soenarjo, Children of God kerap menggelar kegiatan di rumah-rumah sewaan atau kamar-kamar hotel. Pertemuannya dilakukan secara berkala tetapi undangannya disampaikan mendadak sekitar satu jam sebelum pertemuan kepada para pengikutnya.

Sumber

Kompas edisi 29 Maret 1984: "178 Kaset CoG Diserahkan".

Kompas edisi 24 Februari 1984: "Kapolda Jateng: Children of God Aliran Moral Bejat".

Kompas edisi 6 Maret 1984: "Penyebar Aliran Children of God Ditangkap Polda Metro Jaya".

Kompas edisi 2 Maret 1984: "PTR, Tersangka Penyebar CoG di Bandung Digerebek".

Kompas edisi 28 Februari 1984: "Pengikut Children of God Ditangkap".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

77 Tahun Indonesia Merdeka, Hasto: 41 Tahun Presiden Berasal dari Kalangan Militer

77 Tahun Indonesia Merdeka, Hasto: 41 Tahun Presiden Berasal dari Kalangan Militer

Nasional
Sidang Korupsi E-KTP, Eks Dirjen Dukcapil Disebut Arahkan agar 3 Konsorsium Lolos Lelang

Sidang Korupsi E-KTP, Eks Dirjen Dukcapil Disebut Arahkan agar 3 Konsorsium Lolos Lelang

Nasional
Pentolan Bonek Harap TGIPF Tragedi Kanjuruhan Kerja Serius dan Obyektif

Pentolan Bonek Harap TGIPF Tragedi Kanjuruhan Kerja Serius dan Obyektif

Nasional
Puan-Airlangga Direncanakan Bertemu Sabtu Ini, PDI-P: Doakan Jakarta Tidak Banjir

Puan-Airlangga Direncanakan Bertemu Sabtu Ini, PDI-P: Doakan Jakarta Tidak Banjir

Nasional
Pakar Sebut Keputusan DPR Pilih Ketua Komnas HAM Bisa Dibatalkan jika Langgar UU

Pakar Sebut Keputusan DPR Pilih Ketua Komnas HAM Bisa Dibatalkan jika Langgar UU

Nasional
Menpora Sebut Audit Akan Diprioritaskan pada Stadion yang Tengah Dipakai

Menpora Sebut Audit Akan Diprioritaskan pada Stadion yang Tengah Dipakai

Nasional
Menpora: Suporter Arema, Persebaya, Persib, Persija Komitmen Perbaiki Ekosistem Sepak Bola Tanah Air

Menpora: Suporter Arema, Persebaya, Persib, Persija Komitmen Perbaiki Ekosistem Sepak Bola Tanah Air

Nasional
Mahfud: Kapolri Akan Umumkan Tersangka Tragedi Kanjuruhan Malam Ini

Mahfud: Kapolri Akan Umumkan Tersangka Tragedi Kanjuruhan Malam Ini

Nasional
Respons Atnike Sigiro soal Penunjukkannya Jadi Ketua Komnas HAM oleh DPR Disebut Salahi Aturan

Respons Atnike Sigiro soal Penunjukkannya Jadi Ketua Komnas HAM oleh DPR Disebut Salahi Aturan

Nasional
Hasto Singgung PSI: Sama-sama Dukung Jokowi, tapi Banyak Manuver Rugikan PDI-P

Hasto Singgung PSI: Sama-sama Dukung Jokowi, tapi Banyak Manuver Rugikan PDI-P

Nasional
TGIPF Tragedi Kanjuruhan Tegaskan Tak Alergi Kritik dan Saran Demi Tuntaskan Masalah

TGIPF Tragedi Kanjuruhan Tegaskan Tak Alergi Kritik dan Saran Demi Tuntaskan Masalah

Nasional
UPDATE 6 Oktober 2022: Tambah 1.831, Kasus Covid-19 di Indonesia Totalnya 6.441.123

UPDATE 6 Oktober 2022: Tambah 1.831, Kasus Covid-19 di Indonesia Totalnya 6.441.123

Nasional
Atasi Perubahan Iklim, Putu Supadma Minta Anggota Parlemen Harus Mengintegrasikan Pendekatan Berbasis HAM

Atasi Perubahan Iklim, Putu Supadma Minta Anggota Parlemen Harus Mengintegrasikan Pendekatan Berbasis HAM

Nasional
Sejumlah Kader Nasdem Keluar Dinilai karena Banyak Pendukung Ahok dan Anti Anies

Sejumlah Kader Nasdem Keluar Dinilai karena Banyak Pendukung Ahok dan Anti Anies

Nasional
Korban Binomo Harap Hakim Vonis Indra Kenz Minimal Sesuai Tuntutan Jaksa

Korban Binomo Harap Hakim Vonis Indra Kenz Minimal Sesuai Tuntutan Jaksa

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.