Kompas.com - 11/03/2022, 14:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Kepolisian Negara  Republik Indonesia (Polri)menegaskan, dokter terduga teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI) berinisial SU di Jawa Tengah (Jateng) melakukan perlawanan terhadap petugas saat ditangkap tidak dengan fisiknya tetapi dengan menggunakan kendaraanya. SU tewas ditembak tim Densus 88. 

Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabagbanops) Densus 88 Antit Teror Polri, Kombes Aswin Siregar mengatakan, SU melakukan perlawanan dengan menabrakkan kendaraannya kepada petugas dan kendaraan masyarakat di sekitarnya.

Baca juga: Mengenal Dokter Su, Terduga Teroris yang Ditembak Mati Densus di Jateng

Di media sosial beredar narasi bahwa dokter SU sudah lama sakit stroke dan  saat ini menggunakan tongkat. Dengan demikian  dia diduga sulit melawan saat akan ditangkap.

“Tersangka melakukan perlawanan bukan dengan fisiknya, tetapi dengan menabrakkan kendaraannya kepada petugas,” kata Aswin saat dihubungi, Jumat (11/3/2022).

“Dan kendaraan yang menghentikannya dan beberapa kendaraan masyarakat yang berada di jalan tersebut,” imbuh dia.

Baca juga: Sosok Dokter SU, Terduga Teroris Sukoharjo, Sehari-hari Mengunakan Tongkat karena Kecelakaan hingga Cedera Kaki

Secara terpisah, Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo menyampaikan, tindakan hukum melalui penembakan merupakan upaya terakhir yang bisa dilakukan oleh petugas di lapangan. Menurut dia, para polisi di lapangan juga memiliki diskresi untuk menilai situasi.

"Apabila membahayakan maka dapat dilakukan tindakan untuk melumpuhkan. Sesuai Perkap (peraturan kepala Polri) 1 dan 8 2009 serta secara universal petugas polisi di dunia melakukan hal tersebut,” ujarnya.

Apabila ditemukan pelanggaran, Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri akan melakukan penindakan terhadap polisi yang bertugas.

“Apabila ada pelanggaran yang dilakukan, anggota Propam akan menindak," kata Dedi.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyatakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan menyampaikan, Densus 88 menangkap terduga teroris berinisial SU yang belakangan terkonfirmasi sebagai dokter Sunardi sekitar pukul 21.15 WIB pada Rabu lalu. Ramadhan mengungkapkan, SU tewas dalam proses penangkapan tersebut.

Ia menjelaskan, SU sempat melakukan perlawanan secara agresif saat hendak ditangkap. SU disebutkan menabrakkan mobil ke arah petugas Densus 88 serta kendaraan masyarakat yang sedang melintas.

Karena itu, petugas melumpuhkan SU dengan pertimbangan situasi saat itu sudah membahayakan jiwa petugas dan masyarakat sekitar.

"Dengan melakukan tindakan tegas terukur dengan melumpuhkan tersangka dan mengenai di daerah punggung atas dan bagian pinggul kanan bawah," kata dia.

Belakangan, penembakan terhadap SU menjadi sorotan lantaran ada pihak yang menyebutkan bahwa dokter itu sudah lama mengalami stroke dan sudah menggunakan tongkat untuk beraktivitas.

Fakta....almarhum Sunardi sdh menderita Stroke lama, butuh tongkat utk aktifitas Layakkan beliau dibunuh spt itu ? Kami mengutuk kalian yg jika mmg telah sengaja membunuh seorang pejuang kemanusiaan yg baik @PBIDI ,mengapa bungkam ? #PrayForDokterSunardi,” tulis seorang netizen dalam akun @DokterVall pada 10 Maret 2022.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Prinsip Hukum Internasional dalam Penyelesaian Sengketa Internasional

Prinsip Hukum Internasional dalam Penyelesaian Sengketa Internasional

Nasional
Kasus Pernikahan Dini di Indonesia

Kasus Pernikahan Dini di Indonesia

Nasional
Berkaca AS, Fadli Zon Usul Batas Usia Minimal Capres-Cawapres 35 Tahun

Berkaca AS, Fadli Zon Usul Batas Usia Minimal Capres-Cawapres 35 Tahun

Nasional
Jika Ingin Tinggalkan 'Legacy', Jokowi Ditantang Buat Perppu untuk Hapus Presidential Threshold

Jika Ingin Tinggalkan "Legacy", Jokowi Ditantang Buat Perppu untuk Hapus Presidential Threshold

Nasional
Kiai Sarankan Muhaimin Cawapres, Gerindra: Itu Salah Satu Opsi, Finalnya Tahun Depan

Kiai Sarankan Muhaimin Cawapres, Gerindra: Itu Salah Satu Opsi, Finalnya Tahun Depan

Nasional
Kejagung: Pelimpahan Tahap II Ferdy Sambo dkk Digelar Senin Lusa di Kejari Jakarta Selatan

Kejagung: Pelimpahan Tahap II Ferdy Sambo dkk Digelar Senin Lusa di Kejari Jakarta Selatan

Nasional
UPDATE 1 Oktober 2022: Bertambah 1.639, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 6.433.263

UPDATE 1 Oktober 2022: Bertambah 1.639, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 6.433.263

Nasional
Aswanto Dicopot DPR Gara-gara Batalkan UU, Jimly: Hakim MK Bukan Orang DPR

Aswanto Dicopot DPR Gara-gara Batalkan UU, Jimly: Hakim MK Bukan Orang DPR

Nasional
Jimly Sebut Sekjen MK Dipanggil DPR Mendadak untuk 'Fit and Propet Test' Gantikan Aswanto

Jimly Sebut Sekjen MK Dipanggil DPR Mendadak untuk "Fit and Propet Test" Gantikan Aswanto

Nasional
Presidential Threshold hingga Batas Usia Minimal Capres Kebiri Demokrasi di Indonesia

Presidential Threshold hingga Batas Usia Minimal Capres Kebiri Demokrasi di Indonesia

Nasional
Panasnya Demokrat dan PDI-P, Dua Poros Magnet yang Hampir Mustahil Bersatu

Panasnya Demokrat dan PDI-P, Dua Poros Magnet yang Hampir Mustahil Bersatu

Nasional
Sembilan Eks Hakim MK Berkumpul Soroti Pencopotan Aswanto

Sembilan Eks Hakim MK Berkumpul Soroti Pencopotan Aswanto

Nasional
Sikap DPR yang Tiba-tiba Copot Hakim MK Aswanto Harusnya Batal Demi Hukum

Sikap DPR yang Tiba-tiba Copot Hakim MK Aswanto Harusnya Batal Demi Hukum

Nasional
Politisi Nasdem Harap Usia Minimal Capres 21 Tahun, tapi Jangan Hanya Lulusan SMA

Politisi Nasdem Harap Usia Minimal Capres 21 Tahun, tapi Jangan Hanya Lulusan SMA

Nasional
Tekan Angka Kecelakaan Laut, KKP Gelar Sertifikasi Keselamatan Nelayan

Tekan Angka Kecelakaan Laut, KKP Gelar Sertifikasi Keselamatan Nelayan

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.