Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/02/2022, 19:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota DPR RI Luluk Hamidah meminta Presiden Joko Widodo memberi perhatian lebih terhadap perang antara Rusia dan Ukraina yang memanas. Kebutuhan WNI di Ukraina pun harus terus dipantau oleh Pemerintah.

"Meminta dan mendukung Presiden Jokowi sebagai ketua G20 untuk menggunakan pengaruhnya untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya krisis lanjutan Rusia," ujar Luluk Nur Hamidah kepada wartawan, Kamis (24/2/2022).

"Serta terus mendorong cara-cara atau upaya non-kekerasan untuk menghentikan invasi militer di Ukraina," tambah Ketua DPP PKB Bidang Luar Negeri ini.

Serangan di Ukraina semakin masif setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer di Ukraina. Invasi Rusia dilakukan karena Moskwa membela separatis di timur Ukraina.

Pada 2014, pasukan elite Rusia juga merebut seluruh Semenanjung Crimea di Ukraina.

Dengan kembali memanasnya serangan Rusia, Luluk mengingatkan agar Pemerintah memastikan perlindungan terhadap WNI di Ukraina dilakukan secara maksimal.

"Pemerintah harus pastikan keselamatan dan keamanan WNI. Kemudian membuka akses atau hotline bagi pihak-pihak yang membetuhkan update atau informasi terkait keluarga yang berada di Ukraina," kata Luluk.

Baca juga: Kemenlu Ungkap Dampak Serangan Rusia ke Ukraina untuk Indonesia

Tak hanya itu, Anggota Komisi IV DPR ini juga berharap North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara menjaga jarak dan kepentingan serta menarik diri dari perbatasan agar tidak menjadi provokasi buruk bagi situasi Rusia dan Ukraina.

"Menyerukan kepada seluruh pimpinan dunia agar Rusia menghentikan invasi terhadap Ukraina dan mendorong PBB untuk melakukan langkah cepat serta terukur untuk menghentikan serangan Rusia terhadap Ukraina dan mencegah tindakan serangan militer dari pihak manapun, termasuk NATO," paparnya.

Luluk menyebut Indonesia harus menegaskan sikap menolak segala bentuk kekerasan dan invasi militer, termasuk yang dilakukan oleh Rusia kepada Ukraina.

"Karena itu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian abadi, serta melanggar semua hukum internasional," tegas Luluk.

Menurutnya, tindakan militer Putin akan menciptakan kesengsaraan bagi kedua negara, terutama rakyat Ukraina. Luluk menilai akan terjadi krisis kemanusiaan yang luar biasa jika invansi Rusia terhadap Ukraina tidak dihentikan.

"Hal tersebut akan melengkapi berbagai krisis kemanusiaan global yang sampai sekarang juga masih terus berlangsung. Invasi militer hanya akan mendorong munculnya bahaya baru yang lebih besar dan berkelanjutan," urai Legislator dari Dapil Jawa Tengah IV itu.

Luluk khawatir, akan terjadi gelombang jutaan pengungsi yang akan membanjiri Eropa dan kawasan sekitarnya jika krisis ini tidak di akhiri dengan damai.

Baca juga: World War 3 Jadi Trending Topic Dunia Usai Rusia Serang Ukraina

Sebagai negara superpower, Rusia disebut memiliki perang sangat penting dalam menjaga perdamaian dan keseimbangan dunia.

"Kiranya kekuatan dan kepemimpinan Rusia dalam menjaga perdamaian dan keseimbangan dunia itu tidak dikorbankan karena nantinya justru akan menciptakan gelombang protes dan permusuhan dari seluruh dunia," kata Luluk.

Ia pun mengingatkan, pandemi Covid-19 yang belum berakhir sudah berdampak terhadap sistem kesehatan dan ketahanan ekonomi masyarakat dunia. Jika persoalan ini ditambah dengan adanya ancaman keamanan global, Luluk khawatir permasalahan global akan semakin kompleks.

"Oleh karena itu kami sangat menyayangkan serta mengingatkan Rusia agar jangan sampai memancing perkara baru di tengah riak gelombang kepedihan mengakhiri pandemi Covid-19," ucap dia.

"Jangan memberi peluang bagi para pihak yang merayakan kekacauan untuk tujuan-tujuan terorisme. Peperangan harus dihindari secara tegas dan bersama kita wujudkan dunia yang lebih berkepastian,lebih damai, lebih manusiawi dan adil untuk setiap orang," imbuh Luluk.

Pengamat sosiologi dari Universitas Nahdatul Ulama, Luluk Nur Hamidah, ketika ditemui di wisma Kemenpora, Jakarta, Senin (29/2/2016).
Ia mengatakan bahwa pernyataan provokatif yang berisi kebencian atas dasar suku, agama, ras dan golongan menjadi faktor pemicu terbesar aksi terorisme.




Kristian Erdianto Pengamat sosiologi dari Universitas Nahdatul Ulama, Luluk Nur Hamidah, ketika ditemui di wisma Kemenpora, Jakarta, Senin (29/2/2016). Ia mengatakan bahwa pernyataan provokatif yang berisi kebencian atas dasar suku, agama, ras dan golongan menjadi faktor pemicu terbesar aksi terorisme.
Sebelumnya, Presiden Jokowi menyerukan untuk menghentikan perang di akun Twitter resminya, @jokowi.

Namun cuitan Jokowi disampaikan secara singkat dan tanpa memberikan konteks terhadap kondisi peperangan mana yang ia maksud.

"Setop perang. Perang itu menyengsarakan umat manusia, dan membahayakan dunia," tulis Jokowi.

Invasi Rusia dan Ukraina makin panas

Perang Rusia vs Ukraina terjadi setelah Presiden Vladimir Putin pada Kamis (24/2/2022) pagi mengumumkan operasi militer untuk membela separatis di timur Ukraina.

Pasukan angkatan darat Rusia pun mulai menyeberang ke Ukraina dari beberapa arah.

Kementerian Pertahanan Rusia hari ini mengatakan telah menghancurkan pangkalan udara militer Ukraina.

 

Suara ledakan juga terdengar di Kiev, ibu kota Ukraina, disusul beberapa kota di dekat garis depan dan sepanjang pantai negara tersebut.

Baca juga: Rusia Serang Ukraina, Warga Kiev Panik Melarikan Diri, Serbu ATM, dan Jalanan Macet

Ukraina kemudian menutup wilayah udaranya untuk pesawat sipil, dan Menteri Luar Negeri Dmytro Kuleba menulis di Twitter bahwa negaranya menghadapi invasi skala penuh.

Persenjataan Ukraina pun masih kalah jauh dibandingkan Rusia meski sudah disuplai senjata dan amunisi dari negara Barat.

Pusat Penjaga Perbatasan Ukraina mengatakan, tank Rusia dan alat berat lainnya melintasi perbatasan di beberapa wilayah utara, serta dari semenanjung Crimea yang dicaplok Kremlin di selatan.

Selain itu, Ukraina juga melaporkan kematian pertama akibat invasi darat.

Diberitakan Al Arabiya, menurut seorang penasihat Menteri Dalam Negeri Ukraina pada Kamis, sedikitnya delapan orang tewas dan sembilan orang mengalami luka-luka akibat serangan Rusia.

Baca juga: Rusia dan Ukraina Juga Perang di Rapat Darurat Dewan Keamanan PBB

Kamis sore waktu Indonesia, Ukraina melaporkan sedikitnya 40 orang telah tewas akibat serangan Rusia.

Laporan tersebut disampaikan salah satu penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Oleksii Arestovich. Selain itu, beberapa puluh orang juga menderita luka-luka, sebagaimana dilansir Associated Press.

Penjaga perbatasan mengatakan, pasukan militer Rusia telah melintasi perbatasan Ukraina ke wilayah Chernihiv, Kharkiv, dan Luhansk.

Ukraina mengatakan pada Kamis bahwa Rusia sedang memindahkan peralatan militer ke negara itu dari Crimea yang dicaplok dan bahwa Rusia menembakinya di seluruh negeri sampai ke wilayah Lviv di Ukraina barat.

“Negara kami juga menghadapi serangan siber tanpa henti,” kata seorang pejabat di Ukraina.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jepang Ingin Kerahkan Pasukan Lintas Udara dan Amfibi dalam Latihan Militer Gabungan Super Garuda Shield 2023

Jepang Ingin Kerahkan Pasukan Lintas Udara dan Amfibi dalam Latihan Militer Gabungan Super Garuda Shield 2023

Nasional
Anies-AHY Duduk Sebelahan Nonton Konser Dewa 19 di JIS

Anies-AHY Duduk Sebelahan Nonton Konser Dewa 19 di JIS

Nasional
Wapres Ingatkan Anggaran Kemiskinan Harus Tepat Sasaran, Jangan Habis untuk Rapat

Wapres Ingatkan Anggaran Kemiskinan Harus Tepat Sasaran, Jangan Habis untuk Rapat

Nasional
Terungkapnya Kasus Judi dan Pornografi 'Bling2': Bermula dari Kasus Asusila Sejumlah Anak dengan Perputaran Uang Triliunan

Terungkapnya Kasus Judi dan Pornografi "Bling2": Bermula dari Kasus Asusila Sejumlah Anak dengan Perputaran Uang Triliunan

Nasional
Wapres Optimistis Target Angka Kemiskinan Ekstrem Nol Persen Tercapai

Wapres Optimistis Target Angka Kemiskinan Ekstrem Nol Persen Tercapai

Nasional
Saat Surat Lukas Enembe untuk Tagih Janji Firli Bahuri Kandas...

Saat Surat Lukas Enembe untuk Tagih Janji Firli Bahuri Kandas...

Nasional
Simsalabim Isi Putusan MK Diubah, Hakimnya Dilaporkan ke Polisi...

Simsalabim Isi Putusan MK Diubah, Hakimnya Dilaporkan ke Polisi...

Nasional
Memudarnya Upaya Konsolidasi Demokrasi dan Semangat Antikorupsi

Memudarnya Upaya Konsolidasi Demokrasi dan Semangat Antikorupsi

Nasional
IDAI: Kanker pada Anak Tak Dapat Dicegah, tetapi Bisa Disembuhkan

IDAI: Kanker pada Anak Tak Dapat Dicegah, tetapi Bisa Disembuhkan

Nasional
KPK: Untuk Penasihat Hukum Lukas Enembe, Stop Narasi Kontraproduktif

KPK: Untuk Penasihat Hukum Lukas Enembe, Stop Narasi Kontraproduktif

Nasional
Lukas Enembe Minta Berobat ke Singapura, KPK: RSPAD Masih Memadai Sejauh Ini

Lukas Enembe Minta Berobat ke Singapura, KPK: RSPAD Masih Memadai Sejauh Ini

Nasional
KPK: Tak Ada yang Dijanjikan ke Lukas Enembe

KPK: Tak Ada yang Dijanjikan ke Lukas Enembe

Nasional
Selain Anies, Prabowo dan Gatot Nurmantyo Akan Diundang ke Rakernas Partai Ummat

Selain Anies, Prabowo dan Gatot Nurmantyo Akan Diundang ke Rakernas Partai Ummat

Nasional
IDAI Ungkap Penyebab Rendahnya Angka Harapan Hidup Anak Pengidap Kanker di Indonesia

IDAI Ungkap Penyebab Rendahnya Angka Harapan Hidup Anak Pengidap Kanker di Indonesia

Nasional
Ini Gejala Umum Kanker pada Anak Menurut IDAI

Ini Gejala Umum Kanker pada Anak Menurut IDAI

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.