Kompas.com - 20/01/2022, 19:39 WIB
Penulis Mutia Fauzia
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Luar Negeri mendorong Uni Emirat Arab (UAE) untuk melakukan beragam upaya untuk melepaskan 11 anak buah kapal (ABK), termasuk di dalamnya satu WNI, yang ditahan milisi Al Houthi, Yaman.

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu Judha Nugraha mengatakan, kapal yang ditumpangi WNI dengan inisial SHP (Surya Hidayat) tersebut berbendera UAE dan perusahaan pemilik kapal tersebut pun berasal dari UAE.

"Dalam konteks ini kami mendorong UAE sebagai negara bendera kapal dan tempat perusahaan pemilik kapal mengupayakan berbagai macam upaya untuk melepaskan seluruh ABK kapal yang ditahan kelompok Houthi," kata Judha dalam press briefing secara virtual, Kamis (20/1/2022).

Baca juga: Kecelakaan Kapal Pengangkut WNI Kembali Terjadi, Kemenlu: Bila Ingin ke Malaysia Gunakan Jalur Resmi

Dalam kesempatan tersebut, Judha pun menjelaskan, ABK WNI melakukan kontak terakhir dengan keluarga pada 18 Januari lalu.

Pada komunikasi terakhir tersebut, Surya menyampaikan kondisinya dalam keadaan baik dan mendapatkan perlakukan baik oleh kelompok Houthi.

"Jadi pada tanggal 18 Januari lalu sudah ada komunikasi yang difasilitasi oleh kelompok Houthi antara SHP dengan keluarga," kata Judha.

Baca juga: Kemenlu: Ada 6 WNI di Tonga, Semuanya Selamat

Untuk melepaskan Surya dari Houthi, Kemenlu juga telah melakukan kontak dengan berbagai pihak, yakni KBRI Abu Dhabi, Muscat, dan Riyadh.

Pada press briefing pekan lalu, Judha sempat mengatakan alasan penyanderaan kapal oleh kelompok Houthi masih samar.

Baca juga: Kemenlu: Ada 6 WNI di Tonga, Semuanya Selamat

Ia mengatakan, hingga saat ini belum ada informasi mengenai isi kargo kapal tersebut sehingga menyebabkan Surya disandera oleh kelompok Houthi.

Namun demikian, ia memastikan, pemerintah tengah berupaya untuk bisa memastikan keselamatan ABK yang saat ini sudah berada di darat dan masih diawasi oleh kelompok milisi tersebut.

"Masih simpang siur informasi mengenai isi kargonya seperti apa. Ada yang bilang peralatan medis, ada yang bilang peralatan militer. Kita dalam konteks ini tidak masuk ke arah sana karena fokus kita adalah bagaimana memastikan keselamatan ABK," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.