Kompas.com - 18/01/2022, 07:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Penularan virus corona varian Omicron di Indonesia terus meningkat.

Per 15 Januari 2022, total ada 748 kasus varian Omicron. Sebelumnya, mengacu data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), per 12 Januari 2022 terdapat 572 kasus Omicron di Tanah Air.

Angka ini masih didominasi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) yang baru tiba di Indonesia.

Dari 748 kasus, 569 di antaranya merupakan PPLN. Sementara, 155 sisanya adalah transmisi lokal.

Diprediksi, angka ini masih akan terus merangkak naik hingga mencapai puncak pada Februari-Maret mendatang.

Baca juga: Epidemiolog Prediksi Puncak Kasus Omicron di Jakarta Terjadi Februari 2022

DKI Jakarta pun disebut-sebut akan menjadi medan perang pertama dalam menghadapi varian asal Afrika itu.

"Sekitar 90 persen transmisi lokal (varian Omicron) terjadi di Jakarta," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers daring, Minggu (16/1/2022).

"Kita harus persiapkan khusus DKI Jakarta sebagai medan perang pertama menghadapi Omicron dan harus kita pastikan kita menang," lanjutnya.

Eskalasi situasi pandemi di Tanah Air sejalan dengan meningkatnya angka penularan virus corona di berbagai negara.

Namun, di tengah ancaman gelombang Omicron yang begitu besar, pemerintah justru melakukan pelonggaran dengan mengizinkan seluruh perjalanan internasional masuk ke Indonesia.

Langkah ini seolah menjadi karpet merah bagi meluasnya penyebaran Omicron di Tanah Air.

Buka pintu internasional

Terhitung 12 Januari 2022, pemerintah mencabut daftar 14 negara yang warganya dilarang masuk Indonesia.

Semula, sejak 30 November 2021, ada 11 negara yang masuk dalam daftar larangan. Kesebelas negara itu mencatatkan kasus Omicron dalam jumlah besar.

Rinciannya yakni Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambik, Eswatini, Malawi, Angola, Zambia, dan Hongkong.

Pemerintah lantas menghapus Hongkong dari daftar tersebut dan memasukkan UK (Inggris Raya), Norwegia, Denmark, dan Perancis ke dalam daftar.

Aturan terbaru, pintu perjalanan internasional terbuka bagi semua negara.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, penghapusan daftar 14 negara yang warganya dilarang masuk Indonesia dilakukan karena varian Omicron sudah meluas ke 150 dari total 195 negara di dunia (76 persen negara) per 10 Januari 2022.

Baca juga: Waspada Lonjakan Omicron, Imbauan Kembali WFH hingga Tunda Perjalanan Luar Negeri

Dengan kondisi demikian, pembatasan dinilai menyulitkan pergerakan dan dikhawatirkan berimbas pada stabilitas dan ekonomi negara.

“Jika pengaturan pembatasan daftar negara masih tetap ada, maka akan menyulitkan pergerakan lintas negara yang masih diperlukan untuk mempertahankan stabilitas negara termasuk pemulihan ekonomi nasional," kata Wiku dalam keterangan tertulis, Jumat (14/1/2022).

Lonjakan kasus dunia

Bersamaan dengan dibukanya pintu perjalanan internasional oleh pemerintah RI, banyak negara mencatatkan lonjakan Covid-19 secara tajam.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat adanya kenaikan kasus Covid-19 yang signifikan selama 3-9 Januari 2022 di seluruh dunia.

Berdasarkan laporan mingguan terbaru WHO yang dirilis 11 Januari 2022, Amerika Serikat mencatatkan peningkatan kasus baru Covid-19 tertinggi yakni 4.610.359 kasus atau 73 persen.

Diikuti oleh Perancis yang meningkat 1.597.203 kasus atau 46 persen. Kemudian Inggris bertambah 1.217.258 kasus baru atau naik 10 persen.

Lalu, Italia mencatatkan 1.014.358 kasus baru atau meningkat 57 persen, dan India 638.872 kasus baru atau naik 524 persen.

Baca juga: Perkembangan Omicron Makin Cepat, Evaluasi PPKM Jadi Seminggu Sekali

Selain itu, Arab Saudi juga mencatatkan lonjakan kasus Covid-19. Bahkan, di Indonesia, kasus Omicron paling banyak ditemukan dari pelaku perjalanan luar negeri yang baru tiba di Tanah Air dari Saudi Arabia.

Indonesia sendiri mencatatkan kenaikan kasus Covid-19 beberapa hari terakhir. Setelah menunjukkan penurunan selama 3 bulan, dalam seminggu ini penambahan kasus Covid-19 harian kembali mendekati angka 1.000.

Pada 17 Januari misalnya, bertambah 772 kasus Covid-19 dalam sehari. Sehari sebelumnya atau 16 Januari, bertambah 855 kasus dalam sehari.

Bahkan, pada 15 Januari, bertambah 1.054 kasus dalam 24 jam. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 13 Oktober 2021.

Merujuk data terakhir, total kasus Covid-19 di Indonesia dihitung sejak awal pandemi 2 Maret 2020 mencapai 4.272.421 kasus.

Baca juga: Kepastian Tim Advance Umrah Terpapar Omicron Tunggu Hasil WGS Kemenkes

Sementara, kasus aktif virus corona per 17 Januari mencapai 8.775 kasus. Angka ini terus menunjukkan kenaikan.

Dibandingkan dengan data 1 Januari 2022 misalnya, jumlahnya naik 2 kali lipat. Saat itu, tercatat ada 4.399 kasus aktif Covid-19 di Indonesia.

Terlalu percaya diri?

Dibukanya pintu perjalanan internasional bagi semua negara di tengah eskalasi pandemi pun mengundang tanda tanya.

Seolah terlalu percaya diri, pemerintah belum mengambil kebijakan konkret terkait pengetatan pembatasan.

Pemerintah hanya mengimbau warga untuk sementara tak ke luar negeri jika tidak punya urusan mendesak.

"Presiden meminta agar seluruh masyarakat dapat membatasi diri untuk berpergian ke luar negeri. Hanya kalau betul-betul perlu saja baru pergi ke luar negeri," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers daring, Minggu (16/1/2022).

"Malah, pejabat-pejabat pemerintah sudah dilarang untuk tidak melakukan perjalanan ke luar negeri untuk tiga minggu kedepan ini," lanjutnya.

Pemerintah DKI Jakarta juga hingga kini belum menarik rem darurat. Padahal, sebagian besar kasus Omicron berada di Ibu Kota Negara.

Pemerintah provinsi DKI Jakarta tetap bersikeras menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di tengah melonjaknya Omicron.

Sementara, belasan sekolah telah mencatatkan penularan Covid-19 selama masa pembelajaran tatap muka.

Baca juga: Target Vaksinasi Booster di Kota Tangerang Diperluas, Kini Sasar Pelayan Publik

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah pun menilai, keputusan pemerintah mencabut daftar 14 negara yang dilarang masuk Indonesia kontraproduktif.

Apalagi, kebijakan itu berbasis pada kepentingan ekonomi dan tidak memprioritaskan upaya menekan kasus Omicron.

"Ini istilahnya kontraproduktif, ironi juga ya tetapi memang sesungguhnya lebih menempatkan kepada basis kepentingan ekonomi jadinya, jadi kebijakan itu tidak lagi memprioritaskan pada persoalan yang dihadapi, yang dihadapai ini kan persoalan Covid-19," kata Trubus saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (15/1/2022).

Trubus mengatakan, keputusan penghapusan daftar 14 negara karena pertimbangan pemulihan ekonomi tersebut sangat tidak konsisten.

Langkah itu menurutnya justru akan mempercepat masuknya varian Omicron dan varian virus Corona lainnya.

Baca juga: Pemerintah Buka Pintu untuk Semua Negara, Epidemiolog Sarankan Vaksinasi Booster Jadi Syarat Masuk RI

Sementara, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman berpandangan, untuk mencegah penyebaran Omicron penting mewaspadai seluruh negara tanpa terkecuali. Oleh karenanya, syarat masuk RI harus diperketat.

Misalnya, mewajibkan pelaku perjalanan luar negeri untuk vaksin dosis lengkap atau bahkan booster, menunjukkan hasil negatif tes PCR sebelum dan saat tiba di Indonesia, serta menerapkan karantina.

"Memang sulit membatasi, artinya pemulihan ekonomi kan penting, tapi yang harus juga diingat, yang harus kita cegah adalah perburukan situasi kesehatan yang akan berdampak pada semua sektor," kata Dicky kepada Kompas.com, Selasa (18/1/2021).

"Untuk mengurangi potensi lebih jauh, yang mobile, yang berinteraksi dalam aspek ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya adalah orang-orang yang memiliki status imunitas yang lengkap dan aktif, sudah divaksin dua kali dan sudah 7 bulan disuntik lengkap," tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.