Indonesian Insight Kompas
Kelindan arsip, data, analisis, dan peristiwa

Arsip Kompas berkelindan dengan olah data, analisis, dan atau peristiwa kenyataan hari ini membangun sebuah cerita. Masa lalu dan masa kini tak pernah benar-benar terputus. Ikhtiar Kompas.com menyongsong masa depan berbekal catatan hingga hari ini, termasuk dari kekayaan Arsip Kompas.

Misteri Kecelakaan Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJY 182 Belum Berjawab

Kompas.com - 17/01/2022, 08:33 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Terkini, KNKT menerbitkan dokumen pernyataan sementara pertama atas kecelakaan Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air SJY 182 yang jatuh pada 9 Januari 2021. Misteri masih belum berjawab. KNKT menjanjikan laporan akhir investigasi akan terbit maksimal Januari 2023.

==

PESAWAT Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air SJY 182 jatuh pada 9 Januari 2021 pukul 14.40 WIB. Lima menit mengudara, pesawat ini tiba-tiba hilang dari radar.

Dua puluh detik terakhir penerbangan masih misteri hingga Senin (17/1/2022).

Tak ada satu kali pun seruan mayday. Tak ada laporan gangguan. Komunikasi terakhir adalah permintaan izin sedikit berbelok arah.

Peringatan untuk tak menaikkan ketinggian pesawat karena beririsan lintasan dengan penerbangan lain pun sudah tak berjawab.

Dua puluh detik terakhir sejak pesawat diketahui berbelok arah hingga pesawat hilang dari pantauan radar berlalu dalam senyap.

Berselang hampir empat jam setelah hilang kontak, pesawat dipastikan jatuh ke Laut Jawa.

Pesawat hilang kontak saat telah melewati titik kritis awal penerbangan—yaitu saat lepas landas—dan sudah berada di ketinggian jelajah penerbangan yang lazimnya menggunakan mode autopilot.

Satu tahun berlalu. Misteri jatuhnya pesawat Sriwijaya Air berkode penerbangan SJY 182 yang merenggut 62 korban jiwa masih belum berjawab.

Laporan sementara (preliminary report) yang dilansir Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pada 9 Februari 2021 memunculkan sejumlah pertanyaan tambahan atas kecelakaan ini. Misteri. 

KNKT kemudian menerbitkan pernyataan sementara pertama (1st interim statement) pada 13 Januari 2022. Sejumlah misteri masih belum berjawab juga. 

Apa saja misteri dan temuan sejauh ini dari kecelakaan Sriwijaya Air SJY 182?

Lanjut gulirkan layar, untuk menu konten:

  • Kotak pandora CVR
  • Mungkinkah tak ada suara terekam CVR?
  • Temuan sejauh ini
    • Laporan awal
    • Pernyataan sementara pertama

Kotak pandora CVR

Kotak hitam (black box) rekaman suara kokpit (cockpit voice recorder atau CVR) pesawat Boeing 737-500 penerbangan Sriwijaya Air berkode SJY 182 rute Jakarta-Pontianak ditemukan pada Selasa (30/3/2021) malam. Penemuan diumumkan pada Rabu (31/3/2021).

Sebelumnya, kotak hitam rekaman data penerbangan (flight data recorder atau FDR) pesawat ini sudah lebih dulu ditemukan, yaitu pada Selasa (12/1/2021). FDR dan CVR kerap disebut sebagai kotak hitam pesawat, benda yang selalu disebut dan dicari ketika pesawat mengalami insiden.

 

Di setiap pesawat komersial wajib ada dua instrumen kotak hitam, yaitu FDR dan CVR. Keduanya merekam secara otomatis sejumlah data penerbangan berlangsung. Meski disebut sebagai kotak hitam, kedua instrumen sebenarnya berada di dalam kotak berwarna oranye.

FDR membaca dan merekam segala data dari sensor dan indikator detail teknis penerbangan pesawat, mulai dari kecepatan, ketinggian, lintasan, hingga embusan angin.

Adapun CVR menyimpan data tentang situasi di kokpit dan kabin pesawat, berupa rekaman audio. Tentu, komunikasi dengan menara pengawas penerbangan seharusnya akan turut terekam di CVR, seperti halnya percakapan antara pilot dengan kopilot dan awak kabin.

KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI FDR dan CVR: 2 Kotak Hitam di Pesawat

Pemerhati penerbangan, Yayan Mulyana, menyebut CVR bisa menjadi kotak pandora sekaligus jawaban atas apa yang sesungguhnya terjadi pada 20 detik terakhir penerbangan Sriwijaya Air SJY 182, terutama di dalam kokpit.

Yayan menyebut, misteri terbesar dari kecelakaan pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak berkode penerbangan SJY 182 ini adalah tidak adanya seruan kondisi darurat (mayday), laporan gangguan, apalagi permintaan kembali ke bandara asal (return to base atau RTB).

Padahal, kata Yayan, lintasan penerbangan pesawat adalah ruang tiga dimensi, berbeda dengan lintasan sepeda motor dan mobil di daratan yang merupakan pegerakan dua dimensi (ground speed).

Kecepatan yang terpantau satelit pun masih pergerakan dua dimensi. Dalam dimensi ini, kecepatan adalah jarak dibagi waktu tempuh.

Adapun dalam tiga dimensi, ketinggian yang bertambah atau berkurang akan memperlihatkan jarak yang terlihat lebih pendek jika dilihat dari satelit atau berdasarkan bacaan instrumen berbasis GPS dari transponder pesawat.

Data yang sampai saat ini bisa diakses publik, seperti FlightRadar, pada dasarnya masih menggunakan data berbasis dua dimensi. Meskipun, FlightRadar juga mengembangkan Extended Mode S.

Mode diperluas tersebut diklaim dapat menghadirkan data air true speed sebagaimana data riil di dalam kokpit, bagi pelanggan utama, dengan sejumlah disclaimer tentang kemungkinan keterbatasan data yang didapat. 

Dari data yang tersedia hingga saat ini, Yayan berpendapat insiden Sriwijaya Air SJY 182 tidak melibatkan stall.

Meski angka kecepatan dari data yang ada kemungkinan masih merujuk ke ground speed—memungkinkan true air speed melebihi data yang saat ini tersedia—, terlihat sempat ada penurunan kecepatan seiring berkurangnya ketinggian. 

Dalam peristiwa kecelakaan lain pesawat yang melibatkan stall, kecepatan terpantau dalam tren naik atau malah tiba-tiba melejit tinggi lalu seketika berubah jadi nol di lokasi terakhir terpantau—tanpa diseling tren penurunan kecepatan.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Sriwijaya Air SJ 182 Jatuh di Kepulauan Seribu, Semua Penumpang dan Kru Tewas

Ini pun, sekali lagi bisa jadi karena posisi jatuh tegak lurus tanpa ada pergeseran jarak sama sekali sehingga terbaca ada di posisi nol saat kecepatan masih terbaca tinggi.

"Kalau ada stall, akan ada dimensi z yang besar, untuk x adalah altitude dan y merupakan speed yang terbaca GPS dan satelit, dengan z kencang sekali. Ini bisa dibaca di FDR," ungkap Yayan.

Misterinya, tegas Yayan, ada di CVR yang nantinya butuh dicek ulang dengan rekam jejak maintenance dan masukan dari pabrikan.

"Paket komplet, ending story supaya enggak kejadian lagi," ujar dia. 

Laporan awal KNKT antara lain menyebutkan bahwa kecelakaan diduga karena ada gangguan throttle yang memicu asymmetric throttle, menurut Yayan pun mengundang tanya.

"Itu bisa dimatikan automatic-nya, bisa dikendalikan manual untuk mendapatkan kembali keseimbangan. Mati satu mesin pun masih ada peluang pesawat tetap melayang," ungkap dia.

Yang menjadi misteri terbesar, sebut Yayan, tidak ada komunikasi apa pun pada detik-detik terakhir. Kalau asymmetric throttle terjadi, seharusnya masih ada waktu, entah untuk menyuarakan seruan darurat, laporan insiden, atau permintaan return to base.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.