Mayjen TNI Rido Hermawan, M.Sc
Pengajar Lemhannas

Tenaga Ahli Pengajar Bidang Kewaspadaan Nasional di Lemhannas

Menuju Indonesia Negara Adidaya

Kompas.com - 07/12/2021, 12:33 WIB
Ilustrasi Indonesian Sky Scanner Drone Garuda. Josaphat Tetuko Sri SumantyoIlustrasi Indonesian Sky Scanner Drone Garuda.
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Mereka perlu tahu bahwa pada akhirnya, untuk memerankan permainan kehidupan ini, kita semua tetap membutuhkan penunjang sejati kehidupan, berupa ruang hidup yang baik; kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan; kebutuhan biologis sebagai upaya keberlanjutan generasi manusia; kebutuhan bersosialisasi dan hubungan antar sesama maupun dengan semesta; dan tentu saja berhubungan secara intim dengan diri sendiri dalam kesederhanaan pola pikir.

Semua itu perlu upaya yang harus kita lakukan sebagai manusia, juga segmentasi peran dalam mengisi kemerdekaan berpikir saintifik yang sedang berlangsung, dan untuk mempersiapkan masa depan yang sarat ketidakpastian. Sisi kepastian sejati itulah yang menjadi tugas mulia kita saat ini.

Evaluasi diri

Kita harus mau mengevaluasi diri dengan mengubah persepsi berpikir terkait peran dalam kehidupan ini, sehingga selaku sebuah bangsa yang merdeka, kita bisa lebih baik dalam berkehidupan serta berkedaulatan. Sudah saatnya kita harus mulai berpikir sebagai subjek dan objek sekaligus, dari sebuah peran dalam berbangsa-bernegara.

Pertama, negara kita dikaruniai Tuhan dengan lahan yang subur dan sinar matahari yang cukup sepanjang tahun. Maka, sudah sepatutnya kita menjadi subjek utama dalam perputaran kebutuhan pangan dunia.

Namun kalau kita selalu mengekor sistem yang ada sekarang dan rakyat Indonesia tidak boleh begini dan begitu, maka kita akan selalu dipaksa mengikuti pola bangsa lain. Padahal justru mereka tidak memiliki ruang hidup sebaik yang kita miliki di sini.

Apabila itu terus berlangsung, alhasil merekalah yang selalu menjadi pemenang karena kecerdikan dan kelicikannya dalam mengendalikan corak peradaban manusia.

Kedua, dalam hal berkeyakinan, kita juga harus berpikir sebagai subjek, jangan lagi menjadi objek yang harus manut pada aturan bangsa asing dengan selalu mengatasnamakan Tuhan.

Karena pada kenyataannya, khalifah Tuhan di dunia ini adalah semua manusia. Pengooptasian kepemilikan “tuhan” seolah itu hanya milik mereka dan menempatkan bangsanya sebagai subjek, dan memosisikan bangsa kita sebagai objek dari sebuah keyakinan, sudah terlalu lama menguntungkan mereka dan sangat merugikan bangsa ini.

Mulailah berpikir sebagai subjek dalam berkeyakinan kepada Tuhan yang sesungguhnya. Tidak terdogmatisasi dalam sistem berketuhanan bangsa asing, yang telah meramu hal itu dalam format dagang dan ekonomi. Cobalah kita merenung tentang jati diri sendiri, agar kita tidak lagi menjadi objek yang seolah tiada sudah dieksploitasi bangsa asing

Ketiga, semua yang terwujud dalam kehidupan ini, bahan dasarnya ada di dalam bumi. Bangsa kita dianugerahi Tuhan memiliki tanah yang kandungannya paling lengkap di seantero dunia. Segala sumber hayati, energi, mineral, logam, bahan bangunan dan senjata, semua tersedia di Indonesia.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kapabilitas Distributif dalam Sistem Politik

Kapabilitas Distributif dalam Sistem Politik

Nasional
Karakteristik Peraturan Pemerintah

Karakteristik Peraturan Pemerintah

Nasional
Kapabilitas Ekstraktif dalam Sistem Politik

Kapabilitas Ekstraktif dalam Sistem Politik

Nasional
Peraturan Pemerintah: Pengertian, Fungsi dan Materi Muatannya

Peraturan Pemerintah: Pengertian, Fungsi dan Materi Muatannya

Nasional
Bareskrim Akan Limpahkan Berkas Perkara dan Tersangka Kasus Sunmod Alkes ke Kejaksaan Pekan Depan

Bareskrim Akan Limpahkan Berkas Perkara dan Tersangka Kasus Sunmod Alkes ke Kejaksaan Pekan Depan

Nasional
Setelah Longgarkan Penggunaan Masker, Pemerintah Akan Hapus Travel Bubble

Setelah Longgarkan Penggunaan Masker, Pemerintah Akan Hapus Travel Bubble

Nasional
Jokowi Klaim Harga Minyak Goreng Turun dan Stok Melimpah Imbas Larangan Ekspor CPO

Jokowi Klaim Harga Minyak Goreng Turun dan Stok Melimpah Imbas Larangan Ekspor CPO

Nasional
Modus Investasi Bodong Sunmod Alkes: Mengaku Dapat Tender Pemerintah dan Janjikan Untung Besar

Modus Investasi Bodong Sunmod Alkes: Mengaku Dapat Tender Pemerintah dan Janjikan Untung Besar

Nasional
Survei Indo Riset: Selera Publik Terhadap Presiden Berubah, dari Merakyat Jadi Antikorupsi

Survei Indo Riset: Selera Publik Terhadap Presiden Berubah, dari Merakyat Jadi Antikorupsi

Nasional
Jokowi: Saya Perintahkan Aparat Hukum Terus Selidiki Dugaan Penyelewengan Minyak Goreng

Jokowi: Saya Perintahkan Aparat Hukum Terus Selidiki Dugaan Penyelewengan Minyak Goreng

Nasional
Polri Tetapkan 4 Tersangka Kasus Investasi Bodong Suntikan Moadal Alkes

Polri Tetapkan 4 Tersangka Kasus Investasi Bodong Suntikan Moadal Alkes

Nasional
M Kece Mengaku Dapat Tekanan Teken Surat Permintaan Maaf kepada Irjen Napoleon

M Kece Mengaku Dapat Tekanan Teken Surat Permintaan Maaf kepada Irjen Napoleon

Nasional
Gubernur Lemhannas Sebut Transformasi Militer Tidak Cukup Hanya Sampai 2045

Gubernur Lemhannas Sebut Transformasi Militer Tidak Cukup Hanya Sampai 2045

Nasional
Langkah Kemenkes Antisipasi Penyebaran Hepatitis Akut di Sekolah

Langkah Kemenkes Antisipasi Penyebaran Hepatitis Akut di Sekolah

Nasional
Jokowi: Dulu Pasokan Minyak Goreng 64.500 Ton Per Bulan, Setelah Ekspor Dilarang Jadi 211.000 Ton

Jokowi: Dulu Pasokan Minyak Goreng 64.500 Ton Per Bulan, Setelah Ekspor Dilarang Jadi 211.000 Ton

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.