Ari Junaedi
Akademisi dan konsultan komunikasi

Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama.

Humor Politik dan Politik Humor ala Anies Baswedan dan Kiky Saputri

Kompas.com - 12/11/2021, 12:02 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diroasting komika Kiky Saputri di acara Lapor Pak, Trans7, Selasa (9/11/2021). DOK. Bidik layar YouTube Trans7 OfficialGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diroasting komika Kiky Saputri di acara Lapor Pak, Trans7, Selasa (9/11/2021).

Saat peluru meriam dan tembakan bedil tidak mampu mengalahkan musuh
Saat kritik tajam dan kritik halus tidak ditanggapi rezim
Saat demonstrasi tak lagi menjadi alat penekan
Saat itulah humor menjadi pengingat

LARIK-larik kalimat ini saya tulis spontan untuk menggambarkan betapa pentingnya humor dihadirkan dalam ruang politik yang pengap.

Ketika wajah politik menjadi kasar tanpa kompromi, bisa jadi humor merupakan ruang katarsis yang ampuh.

Selain soal kemampuan mengolah kata dan gestur yang menimbulkan kelucuan, humor efektif melenturkan perbedaan tajam di antara pihak yang berkonflik.

Brian Mc Nair (2011) menyebut, dalam komunikasi publik ada cara-cara yang bisa dilakukan untuk menghasilkan respons positif dari audiens.

Dengan kata lain, ada contoh-contoh komunikasi politik yang “baik” dan “buruk” jika dinilai dengan kriteria estetik.

Baca juga: Menilik Gaya Komunikasi Politik Sontoloyo ala Jokowi dan Tampang Boyolali ala Prabowo

Humor Indonesia dari masa ke masa

Kedigdayaan Soeharto yang selama 31 tahun menjadi presiden tidak terusik, suatu saat “luluh” saat penceramah yang diundang Istana, KH Zainuddin MZ, membuat “joke” yang menyentil Soeharto.

Dai sejuta umat itu mampu menghadirkan kritik dalam bentuk humor dalam kotbahnya tanpa si penerima kritik merasa terkritik. 

Selama Soeharto memimpin “daripada” Indonesia, pelawak-pelawak kita lebih mengekspolitasi tubuh untuk menghadirkan kelucuan ketimbang bermain kata-kata untuk menyentil kondisi sosial politik terkini. Pilihan itu diambil mungkin karena Orde Baru sangat alergi terhadap kritik. 

Grup lawak Srimulat sangat jago menghadirkan kelucuan dengan eksploitasi tubuh. Gepeng yang yang memakai bedak, Tessy yang berdandan ala perempuan, Asmuni yang menarik kursi Tarzan hingga jatuh, dan lain-lain mampu membuat penonton terbahak.

Ini adalah cara melawak yang aman. Pasti lolos tampil karena tidak menyinggung stabilitas politik.

Baca juga: Kisah Hidup Tessy Srimulat, 6 Bulan Menganggur dan Diselamatkan Jenderal

Grup lawak Warkop yang awalnya bermain kata-kata dan menyentil sana-sini saat tampil di Radio Prambors di awal karier mereka, mengubah gayanya menjadi mengeksploitasi tubuh di film-film mereka.

Mimik wajah jenaka dan tubuh perempuan adalah salah satu resep kelucuan film-film Warkop. Kalau pun ada "kata-kata", biasanya menyinggung satirnya kehidupan di masa itu.

Saya yakin materi-materi lawakan mereka sebetulnya ingin menertawakan keadaan yang terjadi pada saat itu tetapi tentu harus disesuaikan dengan selera penguasa.

Pemain ludruk legendaris Kartolo kerap memasukkan lirik “bekupon omahe dhoro, melu nippon tambah sengsoro”. Artinya, kandang kecil rumahnya burung merpati, ikut penjajah Jepang tambah sengsara.

Kata-kata itu menjadi adegan pembuka ludruk di RRI dan TVRI di periode 1970–1980. Penonton kerap memaknai ucapan itu dengan makna beragam. Ada yang menganggap, hidup di masa Soeharto tambah susah dan sengasara.

Satu dekade terakhir, kelucuan-kelucuan hadir dalam sosok para stand up comedy yang mampu mengemas kata dan membalikkan logika. 

Ir Lies Hartono alias Cak Lontong menjadi populer karena salam lontongnya kerap menertawakan kondisi terkini tanpa membuat pihak-pihak yang dijadikan bahan lawakannya tersinggung.

Brazil, Italia, Jerman boleh kampiun di bidang sepakbola karena mereka bertiga bergantian menjadi juara Piala Dunia, kata Cak Lontong.

Faktanya, tidak satupun dari tiga negara ini bisa mengalahkan PSSI karena kenyataannya memang PSSI tidak pernah berjumpa di laga kompetisi internasional.

Agar prestasi PSSI tidak pernah kalah dari Brazil, Italia dan Jerman, menurut Cak Lontong, cegah PSSI untuk bertanding.

Baca juga: Kisah Cak Lontong dan Sepotong Roti untuk Mengadu Nasib di Jakarta

Demikian juga dengan Butet Kartaredjasa yang mendahului era Cak Lontong. Ia sudah memelopori gaya humor yang menirukan gaya bicara semua presiden. Monolog Butet sarat dengan kritik berani dan menohok jantung kekuasaan.

Ketika butet menirukan gaya bicara Soeharto, penonton merasa era kekuasaan yang koersif kembali hadir. Saat Butet menjadi Habibie, kita melihat kejeniusan ternyata mengandung canda.

Demikian juga ketegasan ala SBY dimainkan Butet dengan humor tingkat tinggi. Ketika Butet memainkan peran sebagai Gus Dur, para pendukung Andurrahman Wahid atau Gus Durian juga tidak tersinggung.

Gaya Butet terbilang cerdas. Sekat antara humor dan politik menjadi begitu tipis.

Sejarah mencatat, dalam sebuah rapat Sarekat Islam (SI), Haji Agus Salim saling ejek dengan Musso tokoh SI yang belakangan menjadi petinggi di Partai Komunis Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jaksa Agung Naikkan Kasus Dugaan Korupsi Garuda ke Tahap Penyidikan

Jaksa Agung Naikkan Kasus Dugaan Korupsi Garuda ke Tahap Penyidikan

Nasional
Kemendikbud Tegaskan PTM Terbatas Menyesuaikan Tingkat PPKM

Kemendikbud Tegaskan PTM Terbatas Menyesuaikan Tingkat PPKM

Nasional
Ryamizard Ryacudu, Veteran Perang di Pusaran Kasus Proyek Satelit Kemenhan

Ryamizard Ryacudu, Veteran Perang di Pusaran Kasus Proyek Satelit Kemenhan

Nasional
Mahfud: Presiden Beri Arahan Slot Orbit 123 Diselamatkan Tanpa Langgar Aturan, tapi...

Mahfud: Presiden Beri Arahan Slot Orbit 123 Diselamatkan Tanpa Langgar Aturan, tapi...

Nasional
Arteria Dahlan Perlu Minta Maaf soal Copot Kajati Berbahasa Sunda, Saan Mustopa: Itu yang Terbaik

Arteria Dahlan Perlu Minta Maaf soal Copot Kajati Berbahasa Sunda, Saan Mustopa: Itu yang Terbaik

Nasional
Wamenhan Soroti Pentingnya Kolaborasi untuk Perbarui Kebijakan Pertahanan Negara

Wamenhan Soroti Pentingnya Kolaborasi untuk Perbarui Kebijakan Pertahanan Negara

Nasional
Lima Mobil Mewah Diduga Milik Anggota DPR Pakai Pelat Mirip Polisi, Punya Siapa?

Lima Mobil Mewah Diduga Milik Anggota DPR Pakai Pelat Mirip Polisi, Punya Siapa?

Nasional
Surpres Calon Anggota KPU-Bawaslu Sudah Diterima, Komisi II Rencanakan 'Fit and Proper Test' Awal Februari

Surpres Calon Anggota KPU-Bawaslu Sudah Diterima, Komisi II Rencanakan "Fit and Proper Test" Awal Februari

Nasional
KSAU Serahkan 182 Kendaraan Dinas ke Satuan TNI AU

KSAU Serahkan 182 Kendaraan Dinas ke Satuan TNI AU

Nasional
Bareskrim Ungkap Total Kerugian Sementara Kasus Investasi Bodong Sunmod Alkes Capai Rp 503 Miliar

Bareskrim Ungkap Total Kerugian Sementara Kasus Investasi Bodong Sunmod Alkes Capai Rp 503 Miliar

Nasional
Pimpinan DPR Minta Pemerintah Konsisten, Proyek Ibu Kota Tak Bebani APBN

Pimpinan DPR Minta Pemerintah Konsisten, Proyek Ibu Kota Tak Bebani APBN

Nasional
Soal Kabar Kunjungan ke Israel, Kepala BNPB: Itu Hoaks

Soal Kabar Kunjungan ke Israel, Kepala BNPB: Itu Hoaks

Nasional
Formasi Guru PPPK di Daerah Terpencil Sepi Peminat, Nadiem Sebut Masalahnya Bukan Hanya Uang

Formasi Guru PPPK di Daerah Terpencil Sepi Peminat, Nadiem Sebut Masalahnya Bukan Hanya Uang

Nasional
Kian Melesatnya Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Usai Omicron Ditemukan di Jakarta

Kian Melesatnya Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Usai Omicron Ditemukan di Jakarta

Nasional
Saat Saksi Minta Munarman Bersabar Hadapi Perkara

Saat Saksi Minta Munarman Bersabar Hadapi Perkara

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.