Kompas.com - 06/11/2021, 18:58 WIB

Pasalnya, pemahaman masyarakat mengenai bahaya HABs yang dapat berdampak pada kematian ikan masih rendah. Untuk itu, perlu adanya sosialisasi untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat.

Kusdiantoro menambahkan bahwa dengan teknologi, optimalisasi sumber daya ikan dapat terlaksana dengan baik. Hal ini sejalan dengan program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang digaungkan Menteri Sakti Wahyu Trenggono.

Salah satu program tersebut adalah penerapan kebijakan penangkapan ikan terukur di setiap Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI).

"Tujuannya, untuk keberlanjutan ekologi, peningkatan kesejahteraan nelayan, dan peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Kusdiantoro dalam siaran tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (6/11/2021).

KKP, lanjut Kusdiantoro, juga memiliki program pengembangan budidaya perikanan untuk peningkatan ekspor yang didukung hasil riset kelautan dan perikanan.

Dari program tersebut, terdapat empat komoditas unggulan di pasar global, yakni udang, lobster, kepiting dan rumput laut.

Program prioritas KKP selanjutnya adalah pembangunan kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal di perairan tawar, payau, dan laut. Program ini bertujuan sebagai pengentasan kemiskinan dan menjaga keberlanjutan ikan-ikan lokal, khususnya yang bernilai ekonomi tinggi.

“Hal tersebut juga sejalan dengan pengelolaan kelautan dan perikanan berbasis ekonomi biru yang mengedepankan keberlanjutan dan menjaga laut tetap sehat. Dengan demikian, kegiatan kelautan dan perikanan dapat melalukan secara berkelanjutan,” tuturnya.

Kusdiantoro berharap, seluruh lapisan masyarakat kelautan dan perikanan dapat berperan aktif dalam memperkuat upaya mitigasi kejadian HABs di pesisir, khususnya di subsektor perikanan budidaya dan perikanan tangkap.

“Caranya, dengan berpartisipasi dalam pengembangan dan pembangunan basis data kejadian HABs di Indonesia melalui aplikasi Alboom,” katanya.

Untuk informasi lebih lanjut terkait Alboom, Anda bisa mengunjungi laman http://alboom.mict.id/gltw-2021.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.