Ishaq Zubaedi Raqib
Mantan Wartawan

Keluar masuk arena Muktamar, Munas, dan Konbes NU. Dari Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, hingga Jombang, Jawa Timur, serta Munas dan Konbes NU Jakarta.

Sudut Pandang Lain Kasus Menteri Agama Yaqut: Kemenag Hadiah untuk NU

Kompas.com - 27/10/2021, 12:38 WIB
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan pemaparan saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/5/2021). Rapat kerja tersebut membahas tindak lanjut persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1442 H dan isu-isu aktual lainnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak AMenteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan pemaparan saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/5/2021). Rapat kerja tersebut membahas tindak lanjut persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1442 H dan isu-isu aktual lainnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.

Awal kata

Ketika nama Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi diumumkan sebagai Menteri Agama dalam kabinet Jokowi-Ma'ruf, dada kaum nahdliyin bergemuruh.

Sejumlah aktivisnya meriang. Dunia maya nyaris dipenuhi gugatan, keberatan, bahkan kecaman. Jokowi dianggap tidak mendengar suara NU. Bahkan disebut tak pandai balas jasa karena KH Ma'ruf Amin dengan gerbong NU-nya, mereka yakini sebagai faktor determinan kemenangan Jokowi.

Bulan pertama sebagai Menteri Agama, mantan Wakil Panglima TNI asal Aceh itu, disibukkan dengan kegiatan pengenalan diri ke lumbung-lumbung NU. Jawa Timur, misalnya.

Sangat boleh jadi Fachrul Razi merasa "salah tempat" sehingga dia juga sering salah tingkah.

Fachrul baru agak bisa lepas dari situasi tak nyaman setelah Jokowi memberinya Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid, seorang kader NU. Mantan Wakil Ketua Umum MUI Pusat. Secara politik, dari faksi PPP.

Sampai di sini, apakah urusan kelar?

Ternyata tidak. Bahkan, posisi Wakil Presiden belum membuat mereka senang. Jabatan itu dirasa hanya memenuhi kemenangan emosi. Mereka butuh kursi yang lebih "maslahah" bagi NU.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari pusat hingga ke ranting, perasaan kurang happy masih menggantung hingga akhirnya Presiden Jokowi melepas Fachrul dan mengangkat anak kandung NU, cicit muassis NU, salah seorang kader teras, Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas.

Soal Kementerian Agama

Nah, tempo hari, di sebuah webinar yang diakui Gus Menteri, demikian sapaan teman-teman Gus Yaqut di Ansor, adalah temu internal sesama kader NU, muncul "klaim" soal Kementerian Agama (Kemenag).

Sebagaimana wataknya yang suka blak-blakan, Gus Menteri berusaha mengangkat pride santri: anak-anak muda NU. Memanfaatkan momentum Hari Santri Nasional. Ia ingin berbagi kabangaan sebagai sesama warga NU. Jam'iyyah yang punya sejarah panjang mengabdi pada negeri.

Bisa diyakini, Gus Menteri tidak sacara denotatif ingin mengklaim bahwa Kemenag adalah hadiah untuk NU an sich. Ia pasti paham sejarah. Ia tidak mungkin berniat melukai rekan organisasi Islam dan agama lain yang juga punya peran besar bagi Republik.

Ia tidak akan berkata sebodoh itu, jika locus-nya di forum terbuka. Seperti diakui bahwa konstatasi itu lebih pada upayanya mengajak para santri untuk berkhidmah maksimal.

Di luar forum internal itu, berkembang beragam tafsir. Bahkan cenderung liar. Itu sepenuhnya tidak bisa disalahkan. Hanya saja, ketika arahnya melenceng jauh dari substansi, terbuka ruang saling gugat, saling tuding dan saling menyalahkan.

Lebih-lebih sejumlah pihak mendekati perkara ini dari sisi historis. Sisi ini merupakan ruang paling terbuka untuk melahirkan sejumlah varian tafsir yang kian subjektif dan bias.

Ada yang menyebut, jika dua orang ahli hukum bertemu, bisa jadi akan lahir paling tidak tiga pandangan hukum. Padahal, hukum termasuk ranah ilmu yang paling ketat kaidah-kaidahnya.

Tapi jika dua sejarawan bertemu, sangat boleh jadi akan muncul sedikitnya sepuluh sudut pandang tentang sebuah peristiwa. Tafsir atas sebuah peristiwa, jangankan soal sejarah Republik ini, bahkan tafsir atas sirah Nabi pun melahirkan gerakan revisionis.

Sudut pandang santri

Tentu tersedia banyak pisau bedah untuk menganalisis pernyataan Gus Menteri. Demi tujuan melokalisir ke hal-hal terkait semantik dan semiotika, kita akan melihatnya hanya dari sudut pandang ilmu ushul.

Jika menggunakan pendekatan ini, maka akan tersaji sejumlah kaidah Ushul Fiqh untuk melihat pernyataan tersebut dari "sudut pandang" santri.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wapres: Ekonomi dan Keuangan Syariah Jangan Hanya Dilihat dari Sisi Syariah Saja

Wapres: Ekonomi dan Keuangan Syariah Jangan Hanya Dilihat dari Sisi Syariah Saja

Nasional
Demi Pelayanan Publik Transparan dan Efektif, Pemerintah Hadirkan Sistem e-Government

Demi Pelayanan Publik Transparan dan Efektif, Pemerintah Hadirkan Sistem e-Government

Nasional
Kasus Bupati Nonatif Banjarnegara Budhi Sarwono, KPK Panggil Wakil Ketua DPRD

Kasus Bupati Nonatif Banjarnegara Budhi Sarwono, KPK Panggil Wakil Ketua DPRD

Nasional
Kasus Bupati Nonaktif Bintan, KPK Dalami Penjatahan Kuota Rokok dan Minuman Beralkohol

Kasus Bupati Nonaktif Bintan, KPK Dalami Penjatahan Kuota Rokok dan Minuman Beralkohol

Nasional
KPU Uji Coba 5 Jenis Pemilihan dalam Tiga dan Satu Surat Suara

KPU Uji Coba 5 Jenis Pemilihan dalam Tiga dan Satu Surat Suara

Nasional
PSI Minta Sahroni Lepas Jabatan Ketua Pelaksana Formula E, Waketum Nasdem: Lancang

PSI Minta Sahroni Lepas Jabatan Ketua Pelaksana Formula E, Waketum Nasdem: Lancang

Nasional
KPK Buka Peluang Kembangkan TPPU Terkait Kasus Bupati HSU Abdul Wahid

KPK Buka Peluang Kembangkan TPPU Terkait Kasus Bupati HSU Abdul Wahid

Nasional
Menpan RB Sebut PNS Bisa Pindah Antar-Kementerian Maupun ke BUMN

Menpan RB Sebut PNS Bisa Pindah Antar-Kementerian Maupun ke BUMN

Nasional
Jaksa Agung Resmikan Tim Insiden Siber Kejagung

Jaksa Agung Resmikan Tim Insiden Siber Kejagung

Nasional
12 Kereta Api Jarak Jauh dari Stasiun Gambir Dialihkan ke Stasiun Jatinegara Antisipasi Arus Dialihkan Terkait Reuni 212

12 Kereta Api Jarak Jauh dari Stasiun Gambir Dialihkan ke Stasiun Jatinegara Antisipasi Arus Dialihkan Terkait Reuni 212

Nasional
Kunjungi Bali, Jokowi Tinjau Sejumlah Fasilitas dan Infrastruktur KTT G20

Kunjungi Bali, Jokowi Tinjau Sejumlah Fasilitas dan Infrastruktur KTT G20

Nasional
Respons Kemenlu soal Isu China Protes Pengeboran di Laut China Selatan dan Latihan Garuda Shiled

Respons Kemenlu soal Isu China Protes Pengeboran di Laut China Selatan dan Latihan Garuda Shiled

Nasional
Kemenkes: Eropa Jadi Penyumbang Tertinggi Kasus Covid-19 di Tingkat Global

Kemenkes: Eropa Jadi Penyumbang Tertinggi Kasus Covid-19 di Tingkat Global

Nasional
KPK Selisik Aset Milik Bupati HSU Abdul Wahid yang Diduga Berbeda dari LHKPN

KPK Selisik Aset Milik Bupati HSU Abdul Wahid yang Diduga Berbeda dari LHKPN

Nasional
Kemenkes Sebut Varian Omicron Tak Tingkatkan Keparahan bagi Masyarakat yang Sudah Divaksinasi

Kemenkes Sebut Varian Omicron Tak Tingkatkan Keparahan bagi Masyarakat yang Sudah Divaksinasi

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.