Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Adi W
Tukang Ngopi

Tukang Ngopi di Java Friar Angkringan Ngopi BSD

Hidup Bersama Covid-19 ala Nietzsche

Kompas.com - 09/10/2021, 19:59 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI SEBUAH angkringan ngopi di Nusaloka, BSD, pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tahap II, ada seorang pembeli yang ketika datang tidak langsung memesan kopi, tetapi menanyakan tempat cuci tangan.

Penjaga angkringan dengan sigap menunjukkan wastafel di bagian belakang kios angkringan. Setelah mencuci tangan, sambil berdiri pembeli itu mengusap tangan memakai sapu tangan yang ia simpan di saku celana.

Tak cukup mencuci tangan, si pembeli lantas membersihkan tangan menggunakan cairan pembersih tangan (hand sanitizer). Di meja angkringan sudah tersedia beberapa botol pembersih tangan, tetapi si pembeli menggunakan pembersih tangan miliknya.

Pembeli itu kemudian mengelap kedua tangan menggunakan tisu yang ia bawa, padahal di meja angkringan sudah tersedia tisu. Masih sambil berdiri, si pembeli lalu menyemprot meja dan kursi angkringan menggunakan cairan pembersih tangan yang ia bawa tadi.

Setelah selesai dengan “ritual” protokol kesehatan itu, ia baru duduk dan memesan kopi. Setelah kopi tersaji, si pembeli paruh baya itu membuka masker N95, lalu mulai menyeruput kopi robusta yang panas itu. Mantab!

Beberapa hari sebelumnya, penjaga angkringan kedatangan pemilik kios yang menanyakan perihal keluhan terkait kios.

Ketika penjaga angkringan mendekat dan baru mengucapkan satu-dua kata, pemilik kios yang memakai masker N95 itu, sambil melangkah mundur, meminta penjaga angkringan supaya tidak mendekatinya.

Penjaga angkringan yang tidak memakai masker itu tampak tercekat, terpaku sejenak, kemudian melangkah mundur untuk menjaga jarak.

Di sudut lain angkringan, para pengojek online duduk berdekatan dengan bahu-siku dan lutut kaki bersentuhan. Ketika datang pengojek yang baru bertemu hari itu, mereka pun tidak segan berjabat tangan.

Canda, tawa, sindiran, umpatan, dan obrolan ringan keluar dari mulut yang tanpa tèdhèng aling-aling alias tak tertutup masker itu. Asap rokok menguar ke mana-mana.

Begitulah serepih roti kehidupan dalam ruang dan waktu yang tengah limbung didera pageblug Covid-19.

Dua realitas kontras—pembeli kopi/pemilik kios dan pengojek online/penjaga angkringan—itu memang tidak cukup merampatkan kehidupan yang berubah gegara pandemi.

Namun, dua realitas kontras itu dapat menjadi gambaran untuk meneroka relasi manusia dalam kungkungan pandemi.

Realitas kontras dan potensi konflik

Yang dapat dicandra dari relasi dua adegan kontras di panggung angkringan tersebut tiada yang lain adalah potensi konflik antara kubu yang mempertahankan protokol kesehatan dan kubu yang menanggalkan protokol kesehatan.

Tampak bahwa kubu yang mempertahankan protokol kesehatan begitu memedulikan kesehatan diri sendiri dan liyan. Mereka menegakkan protokol kesehatan dengan harapan mendapatkan keselamatan dan terlindungi dari ancaman Covid-19.

Ilustrasi virus Corona dan wabah Covid-19SHUTTERSTOCK/ONGSA S Ilustrasi virus Corona dan wabah Covid-19

 

Kubu ini cenderung tetap mempertahankan protokol kesehatan sekalipun, misalnya, pihak yang berwenang nanti mencabut aturan tentang protokol kesehatan itu.

Singkatnya, bagi mereka, kesehatan itu penting. Maka, jika vaksin hadir guna melindungi manusia dari Covid-19, kubu ini dengan riang gembira menggamitnya. 

Sebaliknya, kubu yang menanggalkan protokol kesehatan seolah-olah tidak menaruh perhatian terhadap kesehatan. Mereka terkesan mengabaikan protokol kesehatan yang menjadi haluan keselamatan hidup bersama itu.

Kesehatan, bagi mereka, seakan-akan tidak penting. Maka, sikap acuh tak acuh seperti itu menimbulkan kesan bahwa mereka belum divaksin, padahal faktanya tidaklah selalu demikian. 

Banyak pengojek online itu sudah divaksin karena vaksinasi merupakan aturan wajib dari salah satu perusahaan transportasi online. 

Dengan mengandaikan bahwa kedua kubu sama-sama sudah divaksin, konflik dengan sendirinya muncul ketika satu kubu—yang dengan gigih mempertahankan pendiriannya untuk selalu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan—bertemu dan berinteraksi dengan kubu lain yang yakin bahwa vaksinasi mampu membebaskan mereka dari cengkeraman pandemi sehingga menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan tidak diperlukan lagi.

Dengan menggenggam erat argumen masing-masing, mereka hanya menangguk kebenaran di atas diri mereka sendiri.

Selain dua kubu tersebut, juga ada kubu lain yang memang sejak awal skeptis bahkan “ateis” terhadap hiruk pikuk pageblug ini. Kubu ini tidak termasuk dalam semesta dua kubu di atas.

Mereka bahkan tidak sampai menanggalkan protokol kesehatan karena menjalankan protokol kesehatan saja tidak. Bagi mereka, pageblug ini tidak ada. Jadilah vaksinasi angin lalu saja.

Jika kubu ini bertemu dan berinteraksi dengan kubu yang mempertahankan protokol kesehatan, dapat dibayangkan potensi konflik yang akan tercipta.

Potensi konflik yang muncul terkesan menakutkan, bisa dalam wujud perang mulut ataupun kontak fisik. Bagaimanapun, konflik di antara mereka—yang mempertahankan protokol kesehatan, menanggalkan protokol kesehatan, atau bahkan tidak mendaku dua-duanya—merupakan keniscayaan.

Konflik ini niscaya karena Covid-19 sendiri juga sebuah keniscayaan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2.

Lebih lanjut WHO menjelaskan bahwa SARS-CoV-2 adalah sejenis virus. Pemahaman tentang SARSCoV-2 yang adalah virus ini sekarang sudah menjadi pengetahuan publik yang biasa menyebutnya dengan coronavirus atau virus Corona

Pelajaran Biologi di sekolah pun mengajarkan bahwa yang disebut virus ada di mana-mana di ekosistem dunia ini.

Covid-19 yang mulai mendera sejak akhir 2019 dan ditetapkan oleh WHO sebagai pandemi sejak Maret 2020 dengan jumlah terinfeksi sebanyak 236.599.025 kasus dan angka kematian sebanyak 4.831.486 jiwa hingga 8 Oktober 2021 pukul 18.49 CEST membuktikan bahwa virus Corona saat ini tengah melayang-layang di udara atau hinggap di permukaan
benda-benda, entah meja, kursi, gagang pintu, uang, ataupun tuts-tuts ATM, dan tak terkecuali telapak tangan manusia.

Maka, masuk akal bahwa siapa pun yang hidup di ekosistem dunia ini telah terpapar virus Corona dan dalam terminologi hari ini tergolong OTG (orang tanpa gejala). Hanya mereka yang sedang dalam kondisi tubuh tidak sehatlah yang jika terpapar virus Corona rentan terserang Covid-19.

Hidup berdampingan dengan Covid-19

Pemahaman tentang virus Corona yang ada di mana-mana ini sejalan dengan pandangan Profesor Dale Fisher, pakar penyakit menular di National University Hospital, Singapura, yang mengatakan bahwa virus Corona tidak mungkin dibasmi mengingat penyebarannya sudah begitu luas. Yang dapat dilakukan adalah belajar untuk hidup dengannya.

Menteri Keuangan Singapura Lawrence Wong dalam jumpa pers pada 28 Mei 2021 pun mengatakan, ”Kita tengah mempersiapkan skenario setelah para ilmuwan di seluruh dunia sampai pada kesimpulan bahwa sangatlah tidak mungkin membasmi virus Corona. Virus ini tidak akan pernah pergi sehingga kita harus belajar hidup bersamanya.”

Pemerintah Singapura akhirnya mulai mempersiapkan roadmap untuk hidup normal bersama Covid-19 sejak 18 Juni 2021. Singapura sadar bahwa Covid-19 adalah keniscayaan.

Di hadapan keniscayaan Covid-19, yang diperlukan adalah sikap rendah hati untuk menerimanya. Dengan menerima Covid-19, Singapura juga siap menerima segala keniscayaan yang mengikutinya.

Pejalan kaki melintasi grafiti ajakan vaksinasi. Gambar diambil pada 29 April 2020 di Beijing, China. AFP/NICOLAS ASFOURI Pejalan kaki melintasi grafiti ajakan vaksinasi. Gambar diambil pada 29 April 2020 di Beijing, China.

Salah satu contoh keniscayaan itu ialah hari-hari ini Singapura tengah berjibaku dengan virus Corona varian Delta. Delta hanyalah salah satu varian dari sekian banyak varian Corona yang bermutasi di ekosistem dunia ini. Ada varian Lambda, varian Mu, dan entah varian apa lagi nanti.

Di hadapan segala varian Corona itu, Singapura terus memupuk sikap penerimaan, salah satunya dengan vaksinasi. Sampai 7 Oktober 2021, sekitar 85 persen penduduk Singapura telah menerima vaksin.

Sikap penerimaan lain yang ditunjukkan Singapura ialah menggunakan masker. Pemerintah Singapura membuat aturan yang mewajibkan siapa pun yang berada di “the Asian business hub” ini untuk memakai masker.

Siapa saja yang melanggar aturan ini dapat dikenai sanksi denda ataupun penjara. Aturan ini, misalnya, memperlihatkan tajinya dalam kasus seorang warga Singapura yang kedapatan tidak memakai masker di lingkungan tempat tinggalnya.

Pada 30 Juli 2021, dia dibawa ke pengadilan untuk menghadapi dakwaan dengan ancaman hukuman denda maksimal 10.000 dollar Singapura dan penjara maksimal enam bulan. 

Warga tersebut kedapatan berkali-kali tidak memakai masker dan tetangga yang merasa terganggu juga sudah berkali-kali mengingatkan dan menegurnya.

Perbuatan yang dilakukan secara sadar dan berulang kali ini menunjukkan bahwa dalam pemahaman warga tersebut, memakai masker bukanlah hal penting. Adapun bagi tetangga, memakai masker merupakan hal penting untuk melindungi keselamatan hidup diri sendiri dan liyan, selain juga merupakan aturan yang wajib dijalani.

Fenomena ini merupakan salah satu gambaran riil dari potensi konflik yang muncul ketika hidup bersama Covid19.

Transmutasi spiritual ala Nietzsche

Singapura memperlihatkan bahwa hidup bersama Covid-19 berarti hidup bersama konflik. Konflik tidak ditolak, tetapi diterima sebagai bagian dari hidup.

Jika menolak konflik, menurut Friedrich Nietzsche, artinya menolak hidup itu sendiri. Bagi Nietzsche, hidup itu putih sekaligus hitam, baik sekaligus jahat, damai sekaligus konflik atau perang. Hidup adalah dua-duanya.

Jika manusia menginginkan atau menolak hanya salah satu, damai saja atau perang saja, artinya ia menolak hidup ini. Di hadapan perang, filsuf Jerman itu mengafirmasi dan menerimanya karena “Apa yang tidak membunuhku menguatkanku,” ujar Nietzsche dalam aforisme § 8 di buku Twilight of the Idols.

Perang yang dimaksud Nietzsche tentu bukan perang dalam adagium Latin Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum—yakni adu kekuatan fisik atau senjata.

Perang dalam pandangan Nietzsche adalah adu pemikiran atau argumen. Adu argumen ini dalam praktiknya bisa hadir dalam bentuk debat, dialog, “perang” tulisan, bahkan perang mulut seperti dalam kasus warga Singapura di atas.

Nietzsche tidak menulis buku yang secara khusus berbicara tentang wabah, pageblug, pandemi, atau epidemi seperti Albert Camus dengan The Plague atau Giorgio Agamben dengan Where Are We Now? The Epidemic as Politics.

Meski demikian, Nietzsche yang hidup pada 1844-1900 menyinggung pageblug kolera pada abad XIX dalam penggalan aforisme § 36 di buku Twilight of the Idols yang diterbitkan pada 1889.

Pageblug kolera menghantam dunia mula-mula di India pada 1817 kemudian menyebar ke banyak negara tak terkecuali Indonesia dan Jerman.

Pada 1820 di Jawa (Indonesia) saja, korban meninggal karena kolera lebih dari 100.000 jiwa. Adapun pada 1892 di Hamburg (Jerman), 1,5 persen populasinya lenyap disapu kolera.

Nietzsche menengarai bahwa angka kematian akibat kolera tidak berubah dari tahun ke tahun. Tengara Nietzsche ini salah karena faktanya angka kematian akibat kolera berubah setiap tahun.

Meskipun salah, tengara Nietzsche ini hendak menunjukkan bahwa penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae ini tidak dapat dienyahkan.

Vibrio cholerae hidup bebas di alam, terutama di daerah perarian, seperti sungai, danau, rawa, sawah, sumur, ledeng, dan mata air.

Manusia butuh air. Dari bangun pagi sampai istirahat malam hari, manusia tidak lepas dari air: mandi, minum kopi, cuci sayuran, cuci tangan, cuci pakaian, cuci piring, cuci kendaraan, menyirami tanaman, ataupun mengolah sawah.

Ilustrasi badan manusiaSHUTTERSTOCK/EVA KALI Ilustrasi badan manusia

 

Sains pun membuktikan bahwa lebih kurang 60 persen tubuh manusia tersusun dari air. Thales, filsuf pra-Socrates, bahkan meyakini bahwa hakikat segala sesuatu adalah air.

Gaya hidup sehat masyarakat dan kemajuan teknologi fabrikasi pengolahan air secara signifikan mengurangi dampak penyebaran Vibrio cholerae.

Namun, terlepas dari gaya hidup sehat dan kecanggihan teknologi, tidak dapat dinafikan bahwa “hantu” Vibrio cholerae sampai detik ini masih gentayangan.

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa dari September 2019 sampai September 2020, wabah kolera melanda 16 negara dengan total lebih dari 450.000 kasus yang merenggut nyawa 900 jiwa.

Para ilmuwan, sebagaimana dikutip WHO, memperkirakan bahwa setiap tahun terdapat 1,3 juta sampai 4 juta kasus kolera dengan korban meninggal 21.000-143.000 jiwa.

Nietzsche adalah anak zamannya. Andaikan ia hidup pada zaman ini dan saat ini, ia akan merekam Covid-19 seperti kolera pada zamannya.

Kolera memang lebih “senior” karena lahir mendahului Covid-19. Namun, seturut penyebabnya, kolera dan Covid-19 sebenarnya berbagi ruang dan waktu yang sama, yakni penyakit yang senantiasa menemani hidup manusia, kapan pun dan di mana pun.

Bagi Nietzsche, penyakit—tidak terbatas pada kolera dan Covid-19—adalah elan kehidupan.

Kehidupan Nietzsche tidak dapat dilepaskan dari penyakit. Banyak analis berpendapat bahwa Nietzsche mengidap sifilis. Karena penyakit inilah, Nietzsche terpaksa meninggalkan dunia akademik di Universitas Basel, Swiss.

Selepas dari dunia akademik, Nietzsche hidup mengembara bersama penyakit yang terus mendera. Lebih dari separuh hidupnya, Nietzsche ditemani penyakit yang merenggut nyawanya itu.

Ketika para dokter tidak mampu mengobati penyakitnya, Nietzsche tidak putus asa lantas menolaknya dengan bunuh diri. Dengan bijak, ia justru menerima dan membawanya ke dalam alam psiko-filosofis.

Di tataran ini, Nietzsche melakukan semacam transmutasi spiritual atas keniscayaan penyakit yang pada saat itu belum ada obatnya itu. Transmutasi spiritual ini terjadi dalam dua fase, yaitu fase psikologis dan fase filosofis.

Fase psikologis terjadi ketika Nietzsche menyadari bahwa ia mesti hidup bersama penyakit, sementara fase filosofis terjadi ketika kesadaran tentang penyakit itu telah melingkupi seluruh kebertubuhan dirinya.

Sekilas tampak bahwa fase psikologis mendahului fase filosofis. Faktanya, Nietzsche berfilsafat sebelum penyakit itu menghinggapinya.

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa penyakit semakin membawa Nietzsche pada pemikiran filosofis yang tajam, dalam, bernas, pedas, dan mengasyikkan.

Penyakit, dengan demikian, berperan ganda sebagai elan kehidupan yang semakin mendorong Nietzsche berfilsafat sekaligus sebagai obyek pemikiran filosofisnya.

Pemikiran filosofis tentang penyakit, misalnya, Nietzsche hadirkan dalam aforisme § 395 di buku The Will to Power. Saduran atas penggalan aforisme itu kira-kira berbunyi:

“Penyakit membuat manusia lebih baik. Mereka yang sakit adalah manusia bermoral, sedangkan mereka yang sehat tergolong manusia imoral. Tidak ada yang lebih bernilai dibandingkan dengan keutamaan karena manusia pada akhirnya akan mengubah dunia menjadi rumah sakit sehingga keutamaan yang berlaku adalah manusia menjadi perawat bagi sesama. Manusia akan memiliki ‘kedamaian di bumi’ yang sangat diinginkan itu! Jika kedamaian tercapai, betapa sedikitnya ‘kegembiraan yang dimiliki satu sama lain’ karena betapa sedikitnya keindahan, semangat, keberanian, dan bahaya! Betapa sedikit 'perbuatan' yang membuat kehidupan di bumi bernilai! Akhirnya, tidak ada lagi 'perbuatan' apa pun! Semua karya dan perbuatan yang tersisa dan belum hanyut oleh air waktu, bukankah itu semua dalam arti yang paling dalam adalah imoralitas?”

Penyakit dalam penggalan aforisme tersebut tentu bukanlah penyakit dalam makna harfiah. Penyakit yang dimaksud merupakan metafora yang Nietzsche sematkan kepada manusia yang lemah, dekaden, dan bermoral budak.

Dalam kaca mata Nietzsche, mereka yang berpenyakit justru manusia yang bermoral. Bagi manusia bermoral, keutamaan hidup yang paling tinggi adalah kedamaian.

Mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk menggapai kedamaian dan menyingkirkan segala rintangan untuk menggapainya.

Namun, bagi Nietzsche, dunia ini campur aduk antara damai dan perang, kegembiraan dan kesedihan, semangat dan kelesuan, berani dan pengecut, aman dan bahaya. Semuanya bercampur menjadi satu. Itulah hidup.

Nietzsche menyebut hidup yang seperti itu sebagai imoral, yaitu melampaui yang baik dan jahat. Artinya, manusia tidak dapat membelah hidup menjadi dua, yaitu baik dan jahat, sehingga menginginkan yang baik saja atau yang jahat saja.

Nietzsche berbicara tentang manusia yang baik dalam aforisme § 351 di The Will to Power. Ia mengibaratkan manusia yang baik itu sebagai keutamaan yang lumpuh separuh (hemiplegia).

Disebut hemiplegia karena manusia yang baik hanya menginginkan yang baik dan menolak yang jahat. Padahal, hidup merupakan kesatuan antara ya dan tidak, kuat dan lemah, cinta dan benci, rasa syukur dan dendam, sabar dan marah, sikap afirmatif dan reaktif.

Manusia dapat mengetahui apa yang disebut baik ketika dia mengetahui apa yang disebut jahat. Manusia disebut jahat supaya ia dapat memahami bagaimana menjadi baik.

Dengan kata lain, hidup itu baik sekaligus jahat. Jika kebaikan dianggap sebagai nilai tertinggi, artinya manusia menolak kehidupan.

Manusia dapat menolak hidup yang sekaligus baik dan jahat itu. Namun, manusia tidak dapat menolak sakit.

Sakit datang tanpa diundang, kapan pun dan di mana pun. Selain itu, manusia sendiri pada dasarnya juga sakit. Manusia sakit karena menolak hidup yang sekaligus baik dan jahat. Manusia sakit karena lebih menginginkan kehidupan lain yang entah-berentah.

Nietzsche mengatakan bahwa yang sakit dan lemah lebih memiliki rasa simpati, lebih manusiawi, lebih bersemangat, lebih mampu beradaptasi, dan lebih menarik jika dibandingkan dengan yang sehat.

Namun, dari yang sakit dan lemah inilah, kehendak yang cacat tercipta. Dengan kehendak yang cacat ini, mereka mampu menaklukkan dunia dan menjadi pemenang zaman setidaknya sampai saat ini (Aforisme § 864 di The Will to Power).

Adapun penyakit dalam arti harfiah Nietzsche sajikan, misalnya, dalam aforisme § 778 dan § 1003 di The Will to Power. Nietzsche mengatakan bahwa manusia membutuhkan sesuatu yang abnormal, yaitu hidup yang penuh sesak dengan segala penyakit.

Penyakit, oleh manusia, dipandang sebagai stimulus dan élan vital. Manusia tahu bagaimana memanfaatkan segala peluang buruk. Dia tumbuh lebih kuat melalui kesialan-kesialan hidup yang mengancam dan membahayakan dirinya.

Di tengah pageblug Covid-19, kiranya analisis Nietzsche tentang penyakit ini dapat memberikan sedikit cakrawala untuk mempersiapkan diri hidup bersama Covid-19.

Sebagai sebuah keniscayaan, Covid-19 tidak dapat dihindari, ditolak, apalagi disingkirkan. Covid-19 telah hadir dan hidup di alam bebas di ekosistem jagat raya ini.

Ia akan menjadi kawan sekaligus lawan dalam hidup keseharian pribadi manusia. Pun ia akan menciptakan kawan dan lawan dalam relasi dengan liyan.

Laku yang bijaksana untuk menerima Covid-19 merupakan salah satu praksis dalam mengafirmasi hidup yang plural, putih-hitam, baik-jahat, damai-perang, alias campur aduk ini.

Laku Nietzsche yang menggendong penyakit sampai akhir hayatnya memperlihatkan bahwa penyakit, apa pun itu, dalam realitasnya adalah keniscayaan yang menemani hidup dan dapat mengakhiri hidup.

Di hadapan penyakit itu, Nietzsche bersikap rendah hati dan tidak gegabah menerimanya, pun ia tidak menolak atau menyingkirkannya. Sikap rendah hati di hadapan penyakit itu terbukti memampukan Nietzsche menghasilkan banyak karya filosofis yang berpengaruh sampai hari ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.