Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Pesawat Tempur Andalan TNI AU, Burung Besi Penjaga NKRI

Kompas.com - 06/10/2021, 14:07 WIB
Dian Erika Nugraheny,
Krisiandi

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperingati HUT ke-76 pada Rabu (5/10/2021) kemarin.

TNI yang menjalankan tugas pokok dalam pertahanan negara terus mengembangkan diri, baik dari sisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) maupun pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk tiga matra, yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) serta Angkatan Udara (AU).

Pada tahun ini, laman Global Fire Power menempatkan kekuatan militer Indonesia di peringkat ke-16 dengan skor 0,2684.

Posisi ini mengungguli sejumlah negara tetangga, antara lain Thailand yang berada di peringkat 26 (skor 0.4427), Vietnam dengan peringkat 24 (skor 0.4189) dan Australia yang menduduki peringkat 19 (skor 0.3378).

Global Fire Power sendiri merupakan website berbasis statistik yang berperan dalam memberikan informasi tentang militer suatu negara berdasarkan potensi kemampuannya untuk berperang baik di darat, laut dan udara.

Merujuk data Global Fire Power, TNI AD saat ini mempunyai 332 tank, 1.430 kendaraan lapis baja, 63 unit peluncur roket, 366 towed artillery, dan 153 self-propelled artillery.

Kemudian, TNI AL didukung dengan 7 kapal fregat atau kapal perang, 24 korvet atau kapal perang kecil, 179 kapal patroli, 10 mine warfare, dan 5 kapal selam.

Sementara itu, TNI AU memiliki 15 helikopter serang, 188 helikopter, 1 tanker fleet, 17 unit misi khusus, 109 armada latih, 64 armada transportasi, 38 armada serangan khusus, dan 41 unit pesawat fighters maupun interceptors.

Dalam rangkaian peringatan HUT ke-76 TNI, sejumlah alutsista yang dimiliki Indonesia dipamerkan di sekitar Kompleks Istana Kepresidenan.

Pameran disaksikan Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan sejumlah pejabat terkait.

Selain itu, peringatan hari lahir TNI juga ditandai dengan atraksi 8 helikopter dan 18 pesawat tempur yang melintasi Kompleks Istana Kepresidenan pada Rabu.

Atraksi pesawat TNI AU melintasi istana ini merupakan kedua kalinya yang digelar dalam acara resmi kenegaraan.

Baca juga: TNI AU dan US PACAF Gelar Latihan Bersama, Libatkan Pesawat Pengebom hingga Intai

Sebelumnya, pada peringatan HUT ke-76 RI 17 Agustus 2021 atraksi pesawat tempur F-16 juga melintasi Istana Kepresidenan.

TNI AU memiliki peran penting dalam membela kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satunya, TNI AU bertugas menjaga pertahanan dan pemberdayaan wilayah udara.

Oleh karenanya, TNI AU dilengkapi dengan sejumlah alutsista yang memadai untuk menunjang pertahanan udara, salah satunya pesawat tempur.

Berikut ini enam pesawat tempur andalan TNI AU yang dilansir dari pemberitaan Kompas.com, dokumentasi Harian Kompas, Majalah Angkasa dan TNI:

1. Sukhoi SU-30

Presiden Joko Widodo didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna menguji cockpit pesawat tempur Sukhoi SU-30, sebelum menyaksikan manuver latihan tempur Angkasa Yudha 2016, di Bandar Udara Ranai, Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (6/10/2016). Istana Kepresidenan/Agus Suparto. Istana Kepresidenan Presiden Joko Widodo didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna menguji cockpit pesawat tempur Sukhoi SU-30, sebelum menyaksikan manuver latihan tempur Angkasa Yudha 2016, di Bandar Udara Ranai, Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (6/10/2016). Istana Kepresidenan/Agus Suparto.
Sukhoi Su-30 merupakan pesawat tempur yang dikembangkan Rusia. Pesawat ini efektif digunakan untuk melakukan serangan terhadap medan darat.

Pesawat tempur ini mempunyai panjang 21,9 meter dengan rentang sayap sepanjang 14,7 meter.

Sementara tingginya 6,36 meter yang mampu digunakan untuk 2 orang kru di dalamnya. Sukhoi Su-30 mampu melaju dengan kecepatan maksimum 2.120 kilometer per jam dan mampu menjelajah dengan jangkauan 3.000 kilometer.

Sukhoi Su-30 efektif digunakan untuk melakukan serangan terhadap medan darat.

Sebagai alat tempur, pesawat ini dipersenjatai tembakan GSh-30-1 gun (kaliber 30 mm, 150 peluru) dengan 6 misil antiradar Kh-31P/Kh-31A, 6 misil berpemandu laser Kh-29T/L, 2 × Kh-59ME. Kemudian juga ada bom udara 6 × KAB 500KR, 3 × KAB-1500KR, 8 × FAB-500T, 28 × OFAB-250-270.

Baca juga: 4 Sukhoi TNI Gelar Operasi di Perbatasan, Antisipasi Pencurian Ikan dan Penyelundupan

Pesawat jenis ini dilengkapi dengan sistem radiolocation yang memungkinkan pelacakan hingga 10 target dalam waktu bersamaan.

Selain itu, mempunyai kemampuan penyerangan darat presisi dengan membawa misil dan bom kendali canggih sesuai dengan perlengkapan persenjataan yang ada.

Saat ini jenis pesawat ini dioperasikan oleh Aljazair, China, India, Indonesia, Malaysia, Rusia, Uganda, Venezuela dan Vietnam.

Pesawat tempur jenis ini menjadi yang tercanggih dalam lingkup Angkatan Udara Rusia yang mampu menarik minat beberapa negara dunia.

2. Sukhoi SU-27

Pesawat tempur Sukhoi Su-27 milik TNI Angkatan UdaraTNI AU via tni-au.mil.id Pesawat tempur Sukhoi Su-27 milik TNI Angkatan Udara
Pesawat Sukhoi Su-27 spesifikasinya masih di bawah Sukhoi Su-30. Pesawat tersebut dirancang Biro Desain Sukhoi di Rusia pada 1984.

Pesawat ini mempunyai panjang 21,9 meter dengan rentang sayap 14,7 meter. Tingginya 5,93 meter dan dilengkapi mesin Lyulka AL-31F turbofan.

Sukhoi jenis ini mempunyai keceparan maksimal 2.500 kilometer per jam dengan satu orang kru di dalamnya.

Untuk persenjataan, pesawat ini mempunyai meriam GSh-30-1 30 mm dengan 150 butir peluru, n peluru kendali anti-radiasi X-31, peluru kendali udara ke darat X-29L/T, serta bom KAB-150 dan UAB-500 serta bom KAB-500Kr, KAB-1500Kr, KAB-1500L / 1500F / 1500L-PR dan masih banyak lainnya.

Baca juga: Air Diplomacy, Apa Cukup Beli Empat Pesawat Sukhoi?

Pada saat ini, penggunaan pesawat ini di AS, Angola, Belarus, Ethiopia, Kazakhstan, China, Ukraina, Uzbekistan dan Vietnam.

Berbeda dengan yang lain, pesawat jenis ini mempunyai sayap berbentuk semidelta dan terdapat dua mesin di dalam badan pesawat.

Pada bagian sayap terpasang saluran udara berbentuk kotak dan Mempunyai sistem "airbrakes" yang dipasang di atas bodi pesawat, di belakang kokpit.

3. T50 Golden Eagle

Pesawat tempur milik TNI AU T-50 Golden EagleKompas TV/Dok TNI AU Pesawat tempur milik TNI AU T-50 Golden Eagle
Pesawat ini merupakan jenis trainer supersonik buatan Amerika dan Korea Selatan. Perusahaan yang membuat adalah Korean Aerospace Industries dengan bantuan Lockheed Martin.

Pesawat ini mulai diperkenalkan Angkatan Udara Korea Selatan pada 22 Februari 2005.

Pada 2013, Indonesia memesan jenis pesawat ini sebagai pesawat LIFT (Lead In Fighter Trainer).

Golden Eagle ini memiliki panjang 12.9 meter dan rentang sayapnya 9,17 meter. Pesawat ini memiliki tinggi 4,8 meter dengan kapasitas 2 orang kru di dalamnya.

T-50 menggunakan mesin General Electric F404 afterburning turbofan yang mempunyai kecepatan maksimal 1.728 kilometer per jam.

Baca juga: 3 Pesawat Tempur Golden Eagle Meriahkan Perayaan HUT RI di Kupang

Pesawat ini memiliki persenjataan kanon 20 mm General Electric M61 Vulcan dengan 205 peluru diumpankan linier tanpa sambungan yang bisa dipasang internal tepat di belakang kokpit.

Selain itu terdapat rudal AIM-9 Sidewinder yang terpasang pada tiap ujung sayap. Ada juga peluncur roket peluncur roket LAU-3 dan LAU-68 , bom kluster CBU-58 and Mk-20, dan bom multiguna Mk-82, Mk-83, dan Mk-84.

Saat ini, negara yang menggunakan jenis ini adalah Korea Selatan, Filipina, Thailand dan Irak.

4. EMB-314 Super Tucano

Pesawat EMB-314 Super TucanoTNI AU via tni-au.mil.id Pesawat EMB-314 Super Tucano
Pesawat ini merupakan pesawat trainer yang memiliki kemampuan anti-perang gerilya yang dikembangkan oleh pabrikan pesawat Brasil, Embraer.

Brasil telah mengembangkan pesawat ini sejak 1995. Pesawat ini sangat pas untuk mendukung pengintaian, close air support, dan penumpasan pemberontakan.

Super Tucano memiliki panjang sekitar 11,42 meter dengan rentang sayap 11,14 meter. Tingginya adalah 3,9 meter dan bisa melaju dengan kecepatan maksimal 590 kilometer per jam.

Berkat kemampuannya, pesawat ini memikat TNI AU. Pada 2012 sejumlah pesawat jenis ini dipesan oleh Indonesia untuk membantu tugas dari TNI. Armada baru ini bertugas menggantikan pesawat OV-10F Bronco.

EMB-314 memiliki sejumlah senjata yang bisa dibawa seperti bom jenis MK-81/MK-82, bom cluster, rocket pod FFAR, dan rudal berpemandu laser, sekelas Maverick.

Untuk menghadapi duel di udara, EMB-314 Super Tucano juga dapat membawa rudal anti pesawat jenis AIM-9L Sidewinder atau MAA-A1 Piranha.

Baca juga: Super Tucano, Pesawat Taktis & Mumpuni

Untuk bertahan, pesawat ini memiliki RWR (Radar Warning Receiver), MAWS (Missile Approach Warning System), dan chaff/ flare dispenser. Untuk melindungi awaknya, kabin pilot dilindungi bahan baja kevlar pada sekeliling kokpit. Untuk keselamatan, pilot dilengkapi kursi lontar Martin Baker.

Sistem yang ada dalam Super Tucano memungkinan pengawasan dan penyerangan baik saat siang dan malam hari, serta sanggup menghadapi segala kondisi cuaca.

5. BAE Hawk 209

ILUSTRASI: Pesawat BAE Hawk 209 milik TNI Angkatan UdaraAIRLINERS.NET ILUSTRASI: Pesawat BAE Hawk 209 milik TNI Angkatan Udara
BAE (British Aerospace Hawk) Hawk adalah jet tempur ringan latih (trainer) produksi BAE Hawk sejak 1974. BAE Hawk adalah sebuah perusahaan dari Inggris Raya.

Hawk merupakan sebuah pesawat jet latih untuk pesawat tempur jet generasi 4 seperti F-16, F-15, dan menggunakan radar modern APG-66 ( khusus varian Mk 200 ) dan rudal AIM-9 Sidewinder.

Hawk Mk 109/209 merupakan kode untuk Hawker-Siddeley Hawk yang diekspor ke Indonesia yang mulai melengkapi TNI-AU sejak 1997.

Baca juga: Puan Jajal Jet Tempur TNI AU dan Peroleh Wing Kehormatan\

Adapun, Hawk Mk 209 merupakan varian single seater dari keluarga Hawk. Pesawat jet ini dikhususkan untuk mengemban misi air superiority dan ground attack.

Pesawat ini memiliki panjang 12,07 meter dengan rentang sayap 9,94 meter serta tingginya 9,94 meter. Hawk 209 menggunakan mesin Turbomeca Adour MK.871 yang mampu melaju dengan kecepatan maksimal 1481 kilometer per jam.

6. F-16

Pesawat tempur F-16 milik TNI Angkatan Udara berada di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, dalam rangka menjalani latihan bersama dengan United State Pacific Air Force (USPACAF) AS.Dispenau Pesawat tempur F-16 milik TNI Angkatan Udara berada di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, dalam rangka menjalani latihan bersama dengan United State Pacific Air Force (USPACAF) AS.
Pesawat tempur F-16 atau biasa disebut F-16 fighting falcon dikembangkan Amerika Serikat. Indonesia memiliki pesawat iini sebanyak 12 unit dan telah maempu memperbaharui atau meng-upgradenya secara mandiri.

Baca juga: Dari Ketinggian 1.000 Kaki, 8 Pesawat F-16 TNI AU Ucapkan Selamat HUT Ke-76 RI

Pada Februari 2020, TNI AU sukses melakukan uji coba pesawat tempur F-16 A/B Block 15 hasil pembaruan yang dipiloti Dwayne "Pro" Opella di Apron Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur.

Pesawat tempur F-16 berhasil diperbarui dalam program Enhanced Mid-Life Update (EMLU) – The Falcon Structural Augmentation Rodmap (Falcon STAR) yang dilakukan TNI AU dibantu PT Dirgantara Indonesia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Draf RUU TNI: Pensiun Perwira 60 Tahun, Khusus Jabatan Fungsional Bisa sampai 65 Tahun

Draf RUU TNI: Pensiun Perwira 60 Tahun, Khusus Jabatan Fungsional Bisa sampai 65 Tahun

Nasional
Survei PPI: Dico Ganinduto-Raffi Ahmad Paling Kuat di Pilkada Jateng

Survei PPI: Dico Ganinduto-Raffi Ahmad Paling Kuat di Pilkada Jateng

Nasional
SYL Beli Parfum Rp 5 Juta, Bayar Pakai ATM Biro Umum Kementan

SYL Beli Parfum Rp 5 Juta, Bayar Pakai ATM Biro Umum Kementan

Nasional
Demokrat Tuding Suara PAN Meroket di Kalsel, Ricuh soal Saksi Pecah di MK

Demokrat Tuding Suara PAN Meroket di Kalsel, Ricuh soal Saksi Pecah di MK

Nasional
TNI AL Ajak 56 Negara Latihan Non-perang di Perairan Bali

TNI AL Ajak 56 Negara Latihan Non-perang di Perairan Bali

Nasional
Taksi Terbang Sudah Tiba di IKN, Diuji coba Juli Mendatang

Taksi Terbang Sudah Tiba di IKN, Diuji coba Juli Mendatang

Nasional
Bamsoet Akan Rekomendasikan MPR 2024-2029 Kembali Kaji Amandemen UUD 1945

Bamsoet Akan Rekomendasikan MPR 2024-2029 Kembali Kaji Amandemen UUD 1945

Nasional
Harta Kekayaan Eks Dirjen Minerba yang Jadi Tersangka Korupsi Timah

Harta Kekayaan Eks Dirjen Minerba yang Jadi Tersangka Korupsi Timah

Nasional
Dengar Warga Kesulitan Air Bertahun-tahun, Risma Tegur Kades di Aceh Utara

Dengar Warga Kesulitan Air Bertahun-tahun, Risma Tegur Kades di Aceh Utara

Nasional
Bertemu MPPR Tiongkok, Puan Berharap Bisa Perkuat Kerja Sama RI dan Tiongkok

Bertemu MPPR Tiongkok, Puan Berharap Bisa Perkuat Kerja Sama RI dan Tiongkok

Nasional
Kejagung Masukkan Kerugian Lingkungan Rp 271 T Jadi Kerugian Negara Kasus Timah

Kejagung Masukkan Kerugian Lingkungan Rp 271 T Jadi Kerugian Negara Kasus Timah

Nasional
Survei Pilkada Jateng Versi PPI: Taj Yasin 10,9 Persen, Hendi 7,7 Persen, Dico 7,1 Persen

Survei Pilkada Jateng Versi PPI: Taj Yasin 10,9 Persen, Hendi 7,7 Persen, Dico 7,1 Persen

Nasional
Anggota Komisi IX DPR: Tapera Program Baik, tapi Perlu Disosialisasikan

Anggota Komisi IX DPR: Tapera Program Baik, tapi Perlu Disosialisasikan

Nasional
Saksi Sebut SYL Bayar Rp 10 Juta Makan Bareng Keluarga Pakai ATM Biro Umum Kementan,

Saksi Sebut SYL Bayar Rp 10 Juta Makan Bareng Keluarga Pakai ATM Biro Umum Kementan,

Nasional
Bertemu NPC, Puan Minta Pemerintah China Perkuat Dukungan untuk Palestina

Bertemu NPC, Puan Minta Pemerintah China Perkuat Dukungan untuk Palestina

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com