Survei Median: 53 Persen Masyarakat Anggap Reshuffle Tak Ubah Situasi Jadi Lebih Baik

Kompas.com - 30/09/2021, 13:39 WIB
Presiden Joko Widodo (berdiri) didampingi Wapres Ma'ruf Amin (keempat kanan) mengumumkan enam orang calon menteri baru di Kabinet Indonesia Maju Jilid 2 di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/12/2020). Keenam orang calon menteri hasil kocok ulang (reshuffle) tersebut antara lain Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial, Sakti Wahyu Trenggono sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama, Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan, Sandiaga Salahudin Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta M Lutfi sebagai Menteri Perdagangan. ANTARA FOTO/LAILY RACHEVPresiden Joko Widodo (berdiri) didampingi Wapres Ma'ruf Amin (keempat kanan) mengumumkan enam orang calon menteri baru di Kabinet Indonesia Maju Jilid 2 di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/12/2020). Keenam orang calon menteri hasil kocok ulang (reshuffle) tersebut antara lain Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial, Sakti Wahyu Trenggono sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama, Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan, Sandiaga Salahudin Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta M Lutfi sebagai Menteri Perdagangan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil survei lembaga Media Survei Nasional (Median) mengungkapkan, responden menilai bahwa reshuffle atau perombakan kabinet tidak akan mengubah situasi kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik.

Berdasarkan hasil survei, ada 53 persen responden yang menyatakan bahwa situasi tidak berubah jika dilakukan reshuffle atau pergantian anggota kabinet.

"Ternyata, publik merasa bahwa kalau ada reshuffle, itu tidak berpengaruh apa-apa, tidak mengubah apa-apa," kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun dalam rilis yang disiarkan secara daring, Kamis (30/9/2021).

Baca juga: Isu Reshuffle Kabinet, Jubir Jokowi: Tak Seorang Pun Tahu Kecuali Presiden

Berdasarkan hasil survei, hanya 20 persen yang menjawab bahwa situasi akan menjadi lebih baik jika dilakukan reshuffle.

Selanjutnya, kata Rico, pihaknya juga bertanya kepada responden, "Jika ada reshuffle, apakah lebih baik yang masuk menjadi menteri dari partai politik atau profesional".

Hasilnya, mayoritas responden, yaitu 65 persen menginginkan menteri yang masuk dalam kabinet berasal dari kalangan profesional dan bukan dari partai politik.

"Yang lebih besar, publik itu merasa bahwa yang sebaiknya masuk menjadi menteri, kalaupun ada reshuffle itu baiknya adalah dari non partai politik, 65 persen. Dan yang menganggap berasal dari parpol itu sebesar 14 persen," ujar Rico.

Baca juga: Tepis Isu Reshuffle, Istana Sebut Kabinet Saat Ini Solid

Berkaca hasil tersebut, Rico menilai bahwa publik sebenarnya tidak menginginkan adanya reshuffle.

Namun, jika perombakan kabinet harus dilakukan, maka publik menginginkan sosok menteri yang bukan berasal dari partai politik.

Kendati demikian, Rico tetap berpandangan, reshuffle merupakan wewenang atau hak prerogatif Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Tapi yang lebih penting sekarang ini perlu dibangun adalah bukan siapa menggantikan siapa, bukan parpol apa yang kebagian apa. Tapi yang lebih penting itu sebenarnya kenapa reshuffle itu perlu dilakukan," tuturnya.

Baca juga: Kata Istana soal Isu Reshuffle Kabinet Setelah PAN Merapat ke Koalisi

Rico menilai bahwa Jokowi seharusnya menjelaskan kepada publik jika melakukan reshuffle kabinet.

Sebab, masyarakat memandang bahwa perombakan kabinet hanya momen bagi partai politik untuk menambah kursi di kekuasaan.

"Kenapa menteri A harus diganti. Itu kan belum dijelaskan. Karena yang terlihat dan terasa di publik itu merasa bahwa kalau pergantian menteri itu enggak ada pengaruh. Karena mereka belum mengerti, ini reshuffle untuk apa? Yang terlihat dari mereka, reshuffle ini adalah bagi-bagi kursi di antara partai politik," ujar Rico.

Survei Median dilakukan pengambilan data pada 19-26 Agustus 2021 dengan sampel 1.000 responden.

Adapun, margin of error sebesar lebih kurang 3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.