Kompas.com - 15/09/2021, 16:32 WIB
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar (kiri) mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/9/2021). Rapat tersebut membahas evaluasi kinerja, penindakan dan pengungkapan kasus serta kebijakan, strategi dan program BNPT. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj. ANTARA FOTO/Aprillio AkbarKepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar (kiri) mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/9/2021). Rapat tersebut membahas evaluasi kinerja, penindakan dan pengungkapan kasus serta kebijakan, strategi dan program BNPT. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengungkapkan, BNPT fokus memonitor empat media sosial untuk menangkal konten-konten radikal dan terorisme.

"Dalam pelaksanaan penangkalan ini, kita terutama fokus di 4 platform media sosial. Pertama Telegram, WhatsApp, Facebook, dan TamTam," kata Boy dalam rapat dengan Komisi III DPR, Rabu (15/9/2021).

Boy menyebutkan, hingga Agustus 2021, BNPT telah memantau 399 grup ataupun kanal media sosial.

Baca juga: Kepala BNPT Tidak Ingin Kekerasan Taliban di Afghanistan Dicontoh Masyarakat

"Telegram menempati jumlah tertinggi dengan mencapai 135 grup kanal," ujar Boy.

Dalam paparan yang ditunjukkan Boy, tertera ada 127 grup atau kanal di WhatsApp dan 121 grup atau kanal di Facebook yang dipantau oleh BNPT.

Boy melanjutkan, BNPT juga bekerja sama dengan kementerian/lembaga terkait untuk menurunkan konten radikal dan terorisme tersebut serta membawanya ke ranah hukum.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Teroris Manfaatkan Kotak Amal, BNPT: Kita Perlu Waspada Kepada Siapa Kita Beri Sumbangan

"Kalau berkaitan dengan platform, kami bekerja sama dengan Ditjen Aptika Kemenkominfo, sedangkan yang berkaitan dengan cyber crime tentunya bersama dengan unsur-unsur penegak hukum di Polri," kata Boy.

Dikutip dari siaran pers Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 23 Juni 2021, sejak 2017 hingga 22 Juni 2021, Kemenkominfo telah memblokir 21.330 konten radikalisme terorisme yang tersebar di berbagai situs dan platform digital.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.