Ari Junaedi
Akademisi dan konsultan komunikasi

Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama.

September 1965 dan Kisah Orang-orang Buangan...

Kompas.com - 11/09/2021, 07:12 WIB
Penulis, Soesilo Toer saat ditemui di rumahnya di Blora, Jawa Tengah, Senin (5/4/2021). Ia mendirikan perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa ) terinspirasi dari keinginan sang kakak yang ingin mengembangkan literasi di Blora. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOPenulis, Soesilo Toer saat ditemui di rumahnya di Blora, Jawa Tengah, Senin (5/4/2021). Ia mendirikan perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa ) terinspirasi dari keinginan sang kakak yang ingin mengembangkan literasi di Blora.

Selepas penjara

Selepas dari penjara, stigma sebagai komunis membuat hidup Soesilo terkucil dan dibenci warga sekitar.

Selain terus mendapat pengawasan dari aparat keamanan, Soesilo juga sulit mendapat pekerjaan. Untuk menyambung hidup, ia terpaksa bekerja serabutan.

Tidak hanya Soesilo, adik-adik Pramoedya yang lain seperti Prawito Toer dan Koesalah Soebagyo Toer juga dijebloskan ke penjara karena dituding antek komunis.

Hanya Soesetyo Toer yang berhasil selamat dari tangkapan aparat karena kabur ke Papua. Berganti identitas dan melupakan keluarga menjadi cara aman dari kejaran aparat.

Saat saya mengunjungi Soesilo Toer beberapa tahun lalu – dan kembali saya cross check ke mahasiswa saya yang menjadi wartawan lokal di Blora sebelum tulisan kolom ini saya buat – Soesilo sampai sekarang masih melakoni pekerjaan rutinnya: memulung sampah. 

Baca juga: Seputar G30S/ PKI (3): Benarkah CIA Terlibat di Balik Peristiwa 1965?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sampah yang diperolehnya dipilah-pilah. Ada yang laku dijual dan ada yang untuk pakan ternaknya. Selain kambing, penulis 20 buku ini juga memelihara ayam di pekarangan rumah.

Dari sampah yang dikumpulkannya itu, Soesilo mendapat penghasilan Rp 600 ribu saban bulannya.

Menempati rumah kuno di Jalan Sumbawa Nomor 40 Jetis, Blora, Jawa Tengah, peninggalan Mastoer – Siti Saidah, orang tuanya itu, Soesilo mendirikan Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa atau PATABA.

Ia memiliki koleksi 5 ribu judul buku. Ia ingin penikmat buku bisa meresapi gagasan-gagasan Pramoedya Ananta Toer. Buku-buku Pramoedya yang  yang kesohor hingga mancanegara antara lain Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, Nyanyian Sunyi Seorang Bisu.

Kisah Genong Karsono

Setiap September saya selalu teringat mendiang Genong Karsono, pensiunan juru masak penjara di Berlin, Jerman. Ia adalah aktivis Pemuda Rakyat, organisasi mantel atau onderbow Partai Komunis Indonesia (PKI).

Empat tahun sebelum Tragedi 1965 pecah, usai menyelesaikan sarjana ekonominya di Universitas Res Publica (kini Universitas Trisakti, Jakarta) Genong mendapat beasiswa pascasarjana di Uni Soviet. Istrinya tidak ikut pergi ke Soviet.

Ketika Peristiwa 1965 meletus dan merembet ke berbagai daerah, istrinya di Tanah Air terbunuh karena dianggap simpatisan PKI. Ayah Genong dan Kakak Genong, Kartina Kurdi, dibekuk aparat. 

Ayah Genong adalah aktivis PKI yang punya kelompok kesenian ketoprak. Sementara, Kartina Kurdi adalah Sekretaris Jenderal Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), onderbow PKI yang luas jaringannya di kalangan perempuan.

Baca juga: Gambar Palu Arit, Kuntilanak yang Mencederai Akal Sehat Kita

Pasca Peristiwa 1965, polarisasi mulai terjadi dalam komunitas aktivis anti Orde Baru yang mukim di Uni Soviet.

Pemerintah Uni Soviet saat itu bersikap “abu-abu” tetapi lebih condong berpihak ke rezim Soeharto. Mahasiswa yang menempuh pendidikan di Uni Soviet mulai hijrah ke Tiongkok mengingat sikap pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang tetap mendukung Soekarno dan PKI.

Yang tetap bertahan di Uni Soviet adalah mereka yang pendidikannya belum tuntas termasuk Genong.

Setelah menyelesaikan pendidikan masternya, Genong menyusul teman-temannya ke Peking. Namun nasib rupanya kurang berpihak kepada Genong.

Keterbatasan informasi saat itu membuat Genong tidak tahu kalau RRT tengah dilanda revolusi kebudayaan. Bersama eksil dari Indonesia lainnya, Genong diisolasi di daerah pedalaman dengan alasan pemerintah RRT ingin menjamin keselamatan tamu-tamu dari Indonesia.

Masa "isolasi" tersebut berlangsung lama, 8 tahun.

Kehidupan yang susah di RRT membuat Genong mulai berpikir untuk hengkang keluar dari Tiongkok.

Kembali ke tanah air bukan pilihan yang tepat. Dari informasi yang didapat, Jerman Barat adalah surganya para pelarian politik. Pemerintah Jerman Barat ketika itu (saat masih terpisah dengan Jerman Timur) sangat terbuka dan menjunjung tinggi penghormatan terhadap jaminan hak asasi manusia.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menko PMK: Indonesia Harus Lebih Siap Hadapi Varian Covid-19 Omicron

Menko PMK: Indonesia Harus Lebih Siap Hadapi Varian Covid-19 Omicron

Nasional
Penanganan Covid-19 Lebih Banyak Gotong Royong Masyarakat, Menko PMK: Peran Negara Hanya 20 Persen

Penanganan Covid-19 Lebih Banyak Gotong Royong Masyarakat, Menko PMK: Peran Negara Hanya 20 Persen

Nasional
Ketua Komisi VIII: Jemaah Umrah Duta Bangsa, Pilih yang Benar-benar Siap Berangkat

Ketua Komisi VIII: Jemaah Umrah Duta Bangsa, Pilih yang Benar-benar Siap Berangkat

Nasional
Jaksa Agung Instruksikan Jajaran Bentuk Tim Khusus Berantas Mafia Tanah dan Pelabuhan

Jaksa Agung Instruksikan Jajaran Bentuk Tim Khusus Berantas Mafia Tanah dan Pelabuhan

Nasional
Perpanjangan PPKM Jawa-Bali, Bioskop Boleh Buka dengan Ketentuan Khusus

Perpanjangan PPKM Jawa-Bali, Bioskop Boleh Buka dengan Ketentuan Khusus

Nasional
Tak Lagi Diatur di Inmendagri, Ini Aturan Perjalanan Naik Kereta-Pesawat Selama PPKM

Tak Lagi Diatur di Inmendagri, Ini Aturan Perjalanan Naik Kereta-Pesawat Selama PPKM

Nasional
Gubernur Nonaktif Sulsel Nurdin Abdullah Divonis 5 Tahun Penjara, KPK Nyatakan Pikir-pikir

Gubernur Nonaktif Sulsel Nurdin Abdullah Divonis 5 Tahun Penjara, KPK Nyatakan Pikir-pikir

Nasional
PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, Bagaimana Aturan Masuk Tempat Wisata?

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, Bagaimana Aturan Masuk Tempat Wisata?

Nasional
Kasus Penanganan Perkara di KPK, Azis Syamsuddin Segera Disidang

Kasus Penanganan Perkara di KPK, Azis Syamsuddin Segera Disidang

Nasional
Ketum PBNU: Tanggal Pelaksanaan Muktamar Diputuskan Pekan Ini

Ketum PBNU: Tanggal Pelaksanaan Muktamar Diputuskan Pekan Ini

Nasional
9 Rekomendasi IDAI Terkait Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka

9 Rekomendasi IDAI Terkait Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka

Nasional
Adu Jotos Prajurit Marinir Vs Raider, Mabes TNI: Sedang Diproses Hukum

Adu Jotos Prajurit Marinir Vs Raider, Mabes TNI: Sedang Diproses Hukum

Nasional
PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, Warteg-Kafe Masih Berlakukan Waktu Makan

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, Warteg-Kafe Masih Berlakukan Waktu Makan

Nasional
Kasus Dugaan Suap di Kolaka Timur, Kepala BPBD Anzarullah Segera Disidang

Kasus Dugaan Suap di Kolaka Timur, Kepala BPBD Anzarullah Segera Disidang

Nasional
Saat Komnas HAM Anggap KPI Pusat Gagal Jamin Keamanan Pekerja dari Perundungan dan Pelecehan Seksual

Saat Komnas HAM Anggap KPI Pusat Gagal Jamin Keamanan Pekerja dari Perundungan dan Pelecehan Seksual

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.