Anomali Data, LaporCovid-19 Pertanyakan Kasus Kematian Tinggi Saat Kasus Harian Turun

Kompas.com - 08/09/2021, 15:58 WIB
Peziarah melakukan ziarah kubur di permakaman khusus COVID-19, Macanda, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (24/8/2021). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/foc. ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHEPeziarah melakukan ziarah kubur di permakaman khusus COVID-19, Macanda, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (24/8/2021). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/foc.

JAKARTA, KOMPAS.com - Co-Inisiator LaporCovid-19 Ahmad Arif mengatakan, secara umum, kasus Covid-19 di Tanah Air mengalami penurunan yang cukup tajam.

Meski demikian, kondisi itu justru menimbulkan pertanyaan lantaran pada saat yang sama kasus kematian akibat Covid-19 justru masih tinggi.

"Penambahan kasus harian itu paling kecil se-ASEAN tetapi angka kematian harian tertinggi beberapa hari terakhir nomor dua secara global jumlah kematian setiap harinya," kata Arif dalam diskusi secara virtual, Rabu (8/9/2021).

"Gap-nya (kesenjangan) itu mengkhawatirkan sebenarnya, jadi membuat tanda tanya," sambungnya.

Arif mengatakan, pemerintah pernah menyebutkan bahwa data kematian dari Covid-19 tidak real time atau berasal dari kasus kematian sebelumnya sehingga secara umum data kematian masih bermasalah.

Baca juga: UPDATE Corona 9 September: Kasus Kematian Harian Indonesia Tertinggi Kedua di Dunia | Kuba Mulai Vaksinasi Anak 2 Tahun

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Adanya anomali data ini ya saya bilang, kok bisa angka kasus hariannya kecil sekali tetapi angka kematian sangat tinggi. Jadi ada indikator persoalan data," ujarnya.

Tak hanya persoalan data, Arif mengatakan, dalam penanganan pandemi Covid-19, rasio testing di Indonesia masih kecil dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara.

Ia mencontohkan, kasus kematian meningkat di salah satu desa di Majalengka pada bulan Juli 2021 menjadi 50 orang, setelah sebelumnya hanya tercatat 3-5 orang.

Namun, proses pemakaman tidak menggunakan protokol kesehatan Covid-19, lantaran tidak dilakukannya pemeriksaan (testing).

"Mayoritas orang meninggal dengan gejala Covid-19 tetapi tidak terdata dan akhirnya tadi tidak masuk dalam sistem pendataan nasional," ucapnya.

Lebih lanjut, Arif meminta pemerintah memperbaiki persoalan data Covid-19 karena akan mempengaruhi dua hal yaitu kebijakan yang bermasalah dan persepsi risiko publik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.