Nilai Kasus Munir sebagai Pembunuhan Politik, 100 Aktivis Desak Jokowi Ungkap Auktor Intelektualis

Kompas.com - 07/09/2021, 12:13 WIB
Tokoh pejuang hak asasi manusia, Munir Said Thalib Kompas/Iwan Setiyawan Tokoh pejuang hak asasi manusia, Munir Said Thalib
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com – Seratus aktivis demokrasi meminta Presiden Joko Widodo mengusut auktor intelektualis di balik kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib.

Dalam keterangan tertulis itu 100 aktivis demokrasi memberikan dua alasan untuk mengungkap kasus kematian Munir.

"Pertama, kami menilai kasus kematian Munir adalah pembunuhan politik," demikian pernyataan tertulis, Selasa (7/9/2021).

"Kuat dugaan kasus ini berhubungan dengan situasi demokrasi saat peristiwa yakni putaran akhir pemilihan langsung presiden yang berlangsung kurang dari dua pekan sesudahnya yaitu 20 September 2004."

Baca juga: Pemerintah Diminta Bentuk Lagi TPF Kasus Pembunuhan Munir

Menurut para aktivis, peran Munir dalam Pemilihan Presiden putaran pertama tahun 2004 dapat menjadi faktor penting untuk mengungkap motif pembunuhan itu.

"Termasuk efek yang diinginkan auktor intelektualis pembunuh Munir dalam arena politik demokrasi elektoral ketika itu."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Alasan kedua, pembunuhan politik berbeda denga kekerasan politik biasa. Karakter korban dalam pembunuhan politik sangat mungkin menjadi tujuan dari pembunuhan.

"Pembunuhan politik kerap menimpa orang-orang yang dinilai berseberangan dengan pemerintah. Munir jelas kritis pada institusi keamanan seperti militer dan intelijen," ungkap 100 aktivis.

"Munir juga vokal menyuarakan pertanggungjawaban negara untuk mengadili elite-elite tertentu yang berlatar belakang militer, atas sebuah pelanggaran HAM."

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Munir Dibunuh di Udara

Dalam pernyataan tertulisnya 100 aktivis demokrasi menegaskan bahwa kematian Munir menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat Indonesia setidaknya akan dua hal.

Pertama, menurut para aktivis, kotornya perpolitikan Indonesia saat berlangsung persaingan dalam pilpres pertama dalam perjalanan sejarah Indonesia.

"Kedua, betapa minimnya jaminan keamanan maupun perlindungan hukum bagi pejuang demokrasi, HAM dan keadilan sosial."

Terakhir, mereka mendesak Jokowi untuk melakukan pengungkapan dan mencari auktor intelektualis dalam kasus pembunuhan tersebut.

"Pengusutan auktor intelektualis sangat penting untuk menunjukkan komitmen Presiden atas demokrasi. Ketidakmauan politik untuk membuktikan komitmen itu adalah cermin mengakarnya sifat otoritarianisme dalam negara Indonesia."

Baca juga: 17 Tahun Kematian Munir: Misteri Tak Kunjung Berjawab yang Terancam Kedaluwarsa

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sebaran 14.360 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia pada 24 Oktober 2021

Sebaran 14.360 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia pada 24 Oktober 2021

Nasional
UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 32,61 Persen

UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 32,61 Persen

Nasional
UPDATE 24 Oktober: Sebaran 623 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI

UPDATE 24 Oktober: Sebaran 623 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI

Nasional
UPDATE 24 Oktober: 14.360 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 24 Oktober: 14.360 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE: 214.745 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate dengan PCR 1,12 Persen

UPDATE: 214.745 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate dengan PCR 1,12 Persen

Nasional
UPDATE 24 Oktober: Kasus Suspek Covid-19 Tercatat 5.104

UPDATE 24 Oktober: Kasus Suspek Covid-19 Tercatat 5.104

Nasional
UPDATE 24 Oktober: Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 4.082.454, Tambah 1.037

UPDATE 24 Oktober: Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 4.082.454, Tambah 1.037

Nasional
UPDATE 24 Oktober: Tambah 29, Pasien Covid-19 Meninggal Dunia Capai 143.205 Orang

UPDATE 24 Oktober: Tambah 29, Pasien Covid-19 Meninggal Dunia Capai 143.205 Orang

Nasional
Hadiri TB Summit 2021, Dompet Dhuafa Dukung Percepatan Pengurangan Kasus TBC di Indonesia

Hadiri TB Summit 2021, Dompet Dhuafa Dukung Percepatan Pengurangan Kasus TBC di Indonesia

Nasional
UPDATE: Bertambah 623, Kini Ada 4.240.019 Kasus Covid-19 di Indonesia

UPDATE: Bertambah 623, Kini Ada 4.240.019 Kasus Covid-19 di Indonesia

Nasional
Usulan Pemerintah Soal Pemilu 15 Mei 2024 Dikhawatirkan Ganggu Tahapan Pilkada

Usulan Pemerintah Soal Pemilu 15 Mei 2024 Dikhawatirkan Ganggu Tahapan Pilkada

Nasional
Mendorong Sinergi Parekraf dan UMKM

Mendorong Sinergi Parekraf dan UMKM

Nasional
Pemerintah dan DPR Diminta Tak Intervensi KPU Tentukan Jadwal Pencoblosan Pemilu

Pemerintah dan DPR Diminta Tak Intervensi KPU Tentukan Jadwal Pencoblosan Pemilu

Nasional
Tanggapan Muhammadiyah soal Menag Sebut Kemenag Hadiah untuk NU

Tanggapan Muhammadiyah soal Menag Sebut Kemenag Hadiah untuk NU

Nasional
Perludem Tegaskan KPU Berwenang Tetapkan Jadwal Pemilu, Ini 3 Aturannya

Perludem Tegaskan KPU Berwenang Tetapkan Jadwal Pemilu, Ini 3 Aturannya

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.