Deden Mauli Darajat
Dosen

Dosen Jurnalistik dan Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) UIN Jakarta.

Adaptasi Digital, Membangun Kesadaran di Tengah Pusaran Arus Teknologi

Kompas.com - 23/08/2021, 15:14 WIB
Ilustrasi media sosial dan interaksi dunia digital. SHUTTERSTOCK/RAWPIXEL.COMIlustrasi media sosial dan interaksi dunia digital.

Semua orang yang memiliki uang mungkin dapat membeli gawai yang canggih untuk berselancar di dunia digital. Namun, hanya orang yang memiliki ilmu pengetahuanlah yang dapat beradaptasi dengan baik di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital.

Idealnya, memang sebelum memasuki ruang digital yang tanpa batas itu kita harus menguatkan diri kita dengan budaya membaca terlebih dahulu.

Kita membutuhkan kesadaran yang baik saat memasuki ruang digital. Kita harus dapat membedakan dunia mana yang sedang kita pijak, dunia nyata atau dunia digital.

Baca juga: Kecanduan Gadget dan Game Online Itu Nyata

Di dunia nyata, yang kita ajak untuk berkomunikasi mungkin hanya beberapa orang. Ini bisa jauh berbeda dengan dunia digital.

Kita mengunggah sebuah status di akun media sosial kita yang meresponsnya bisa puluhan dan bahkan ratusan orang atau lebih. Respons terhadap status kita juga beragam, ada yang biasa saja, ada yang positif, ada juga yang negatif.

Dalam sebuah webinar yang saya diminta menjadi pembicara, ada seorang mahasiswi yang bertanya tentang respons negatif di akun media sosial, yang kemudian menyebabkan seseorang depresi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saya merenung sebentar lalu saya pun membahasnya. Media sosial yang berbasis digital tidak jauh berbeda dengan dunia nyata, dalam hal ada juga perundungan atau bullying, ada penghinaan, dan hal-hal sejenisnya.

Yang dapat kita lakukan, menurut saya, pertama adalah berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia digital. Jika sudah tenang maka kita masuk lagi ke dunia digital.

Yang kedua, kita harus memilah dan memilih siapa yang dapat kita jadikan teman dan siapa yang tidak bisa dijadikan teman.

Prinsip di platform dunia digital, jika kita suka maka kita ikuti dan sebaliknya jika kita tidak suka maka kita berhenti mengikuti. Jika dirasa menjadi racun yang menyakiti maka kita block saja.

Baca juga: Ada “Peran” Kita di Balik Alasan Seseorang Bunuh Diri?

Ketiga, untuk menyembuhkan mental, bisa juga kita melakukan hal-hal yang menyenangkan di dunia nyata, seperti berkebun dan memelihara hewan.

Dengan berkebun dan menikmati pemandangan yang hijau maka hati akan senang. Pun demikian jika kita merawat dan memberi makan hewan peliharaan, hati pun akan tenang dan senang.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang hingga 14 Desember, Sejumlah Daerah Kembali ke Level 2

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang hingga 14 Desember, Sejumlah Daerah Kembali ke Level 2

Nasional
Polri: Bentrokan Personel Kopassus dan Brimob di Tembagapura Tak Ganggu Soliditas TNI-Polri

Polri: Bentrokan Personel Kopassus dan Brimob di Tembagapura Tak Ganggu Soliditas TNI-Polri

Nasional
Luhut: Masyarakat Jangan Panik Varian Omicron, Hanya Perlu Waspada

Luhut: Masyarakat Jangan Panik Varian Omicron, Hanya Perlu Waspada

Nasional
Hasil Evaluasi PPKM, Luhut Sebut Situasi Covid-19 di Jawa-Bali Stabil

Hasil Evaluasi PPKM, Luhut Sebut Situasi Covid-19 di Jawa-Bali Stabil

Nasional
Mahfud MD: Pemerintah Targetkan Revisi UU Cipta Kerja Kurang dari 2 Tahun

Mahfud MD: Pemerintah Targetkan Revisi UU Cipta Kerja Kurang dari 2 Tahun

Nasional
Muhaimin Bertemu Uskup Agung Jakarta, Bahas Refleksi Natal hingga Papua

Muhaimin Bertemu Uskup Agung Jakarta, Bahas Refleksi Natal hingga Papua

Nasional
Harap Ada Poros Ketiga pada Pilpres 2024, PPP Singgung Keterbelahan Masyarakat

Harap Ada Poros Ketiga pada Pilpres 2024, PPP Singgung Keterbelahan Masyarakat

Nasional
Polisi Militer Selidiki Keributan antara Prajurit TNI di Batam

Polisi Militer Selidiki Keributan antara Prajurit TNI di Batam

Nasional
Temui Kardinal Suharyo, Gus Muhaimin: Bangsa Kita Semakin Kokoh dalam Persatuan

Temui Kardinal Suharyo, Gus Muhaimin: Bangsa Kita Semakin Kokoh dalam Persatuan

Nasional
Komisi II Targetkan Jadwal Pemilu 2024 Dapat Disepakati pada Awal 2022

Komisi II Targetkan Jadwal Pemilu 2024 Dapat Disepakati pada Awal 2022

Nasional
Fadli Zon Dilaporkan ke MKD DPR karena Kicauan Terkait UU Cipta Kerja

Fadli Zon Dilaporkan ke MKD DPR karena Kicauan Terkait UU Cipta Kerja

Nasional
Arsul Sani PPP: Reshuffle? Saya Tanya Tokek Istana Dulu

Arsul Sani PPP: Reshuffle? Saya Tanya Tokek Istana Dulu

Nasional
Koalisi Masyarakat Sipil Duga Ada Unsur KKN pada Bisnis PCR

Koalisi Masyarakat Sipil Duga Ada Unsur KKN pada Bisnis PCR

Nasional
Arsul Sani Dukung Revisi UU PPP untuk Atur Mekanisme Omnibus Law

Arsul Sani Dukung Revisi UU PPP untuk Atur Mekanisme Omnibus Law

Nasional
Amphuri Sambut Baik Kebijakan Arab Saudi soal Syarat Penyelenggaraan Umrah

Amphuri Sambut Baik Kebijakan Arab Saudi soal Syarat Penyelenggaraan Umrah

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.