Kompas.com - 02/08/2021, 21:13 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat memberikan sambutan dalam acara melalukan peluncuran Kilau Digital Permata Flobamora di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada Jumat  (18/6/2021). Dok. Humas Kemenko Kemaritiman dan InvestasiMenteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat memberikan sambutan dalam acara melalukan peluncuran Kilau Digital Permata Flobamora di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada Jumat (18/6/2021).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan 49.000 tempat tidur isolasi terpusat di Pulau Jawa dan Bali.

Ia berharap, dengan penambahan tempat tidur ini, klaster keluarga bisa berkurang dan menekan angka kematian pasien Covid-19.

"Fasilitas isolasi terpusat ini dilengkapi dokter, perawat, obat-obatan, oksigen dan konsumsi pasien sudah kami siapkan 49.000 tempat tidur di Pulau Jawa dan Bali," kata Luhut dalam konferensi persnya yang dilakukan secara daring, Senin (2/8/2021).

Baca juga: Luhut: Varian Delta Sangat Cepat Membuat Saturasi Oksigen Pasien Covid-19 Menurun

Luhut mengatakan, pihaknya juga melihat pemenuhan kebutuhan oksigen dan obat untuk Covid-19 sudah semakin membaik.

Ia pun berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartato yang menangani pengendalian Covid-19 di Iuar Jawa dan Bali.

"Kita ingin menghindari orang yang bisa meninggal karena saturasi oksigen sudah turun dan mengalami pemburukan dan baru dibawa ke rumah sakit sehingga berpotensi menimbulkan kematian karena keterlambatan," ujar dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut dia, varian delta virus corona sangat cepat membuat penurunan saturasi oksigen pasien Covid-19.

Oleh karena itu, diperlukan strategi penanganan pada pasien positif agar jangan sampai penurunan saturasi oksigen dapat dihindari.

Luhut mengungkapkan, saat ini angka kematian Covid-19 masih tinggi. Penyebabnya, banyak pasien Covid-19 yang terlambat ditangani saat masuk RS.

Baca juga: Luhut Klaim Pemenuhan Oksigen dan Obat Semakin Membaik

Pada saat ditangani itulah baru terdeteksi saturasi oksigen mereka menurun drastis.

"Ini terjadi karena masih banyaknya masyarakat yang melakukan isolasi mandiri (isoman) sehingga telat dilakukan perawatan intensif di rumah sakit, yang akibatnya mengakibatkan kematian karena saturasi oksigen mereka rata-rata di bawah 90 persen," kata Luhut.

Maka dari itu, dia menekankan keberadaan lokasi isolasi yang terpusat baik di level desa, kecamatan, kabupaten atau kota ataupun di level provinsi sangat penting.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.