Cak Nanto Minta Jokowi Belajar dari Gus Dur

Kompas.com - 21/07/2021, 18:18 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto, di Jakarta, Kamis (6/12/2018). KOMPAS.com/IhsanuddinKetua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto, di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

MEMASUKI bulan Juli saya teringat Gus Dur, Presiden RI ke-4 (1999-2001). Senin, 23 Juli sore, Gus Dur meninggalkan Istana Merdeka, Jakarta.

Malam sebelumnya ia berdiri di teras depan istana itu dengan celana pendek sambil melambaikan tangan ke arah para pendukungnya yang berada di seberang jalan depan di tepi lapangan Monas.

Ingatan pada Gus Dur dipicu oleh percakapan saya dengan Cak Nanto atau Sunanto, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (2018 -2022).

Di sebuah hotel di Jakarta kami berbincang tentang legasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah meninggalkan istana tahun 2024 nanti.

Baru pertama kali saya jumpa dengan Cak Nanto yang diperkenalkan oleh Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Rocky Wowor.

Cukup mengejutkan saya narasi yang dibuat Cak Nanto tentang penampilan Gus Dur dengan celana pendek di teras Istana Merdeka. Baginya itu sebuah simbol “adi luhung” (mulia). Ini menjadi bahan nasihat Cak Nanto pada Jokowi dan para pendukungnya.

Pembicaraan awal dimulai tentang penanganan Covid-19 dan suasana kabinet pemerintahan sekarang yang dipimpin Jokowi. Banyak yang dilontarkan oleh Cak Nanto berupa kritik namun dalam suasa canda gaya Madura. Cak Nanto dilahirkan di Sumenep, Madura, 24 September 1980.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setelah meninggalkan Madura, Cak Nanto menyelesaikan kuliah Jurusan Hukum Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta 2001, tahun di mana Gus Dur lengser.

Dengan gaya dan aksen Madura yang penuh plesetan jenaka, Cak Nanto menyatakan kurang suka bila Jokowi memasuki periode ketiga di kursi kepresidenan.

Kritik Cak Nanto lebih ditekankan kepada para penggagas presiden 3 periode atau tambah (tanduk dalam bahasa Jawa) satu periode.

Cak Nanto mengharapkan para pendukung fanatik Jokowi jangan sampai membawa presiden ke-7 masuk ke periode ketiga.

Dengan berhenti di akhir masa jabatannya di periode kedua ini, 2024 nanti, menurut Cak Nanto, Jokowi akan tercatat sebagai seorang negarawan yang di masa-masa ini jarang didapat.

“Dan inilah legasi yang akan dikenang bangsa ini,” ujar Cak Nanto yang banyak senyum.

Di sini saya kutip langsung ucapan Cak Nanto.

“Sebagai seorang yang pernah bergulat di dunia kepemiluan (pengalaman dalam pemilihan umum), saya akan melihat wacana ini dalam perspektif pendidikan politik,” ujarnya.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, bangsa kita hari ini defisit negarawan. Jokowi akan menjadi negarawan jika tetap memegang teguh sikapnya untuk cukup dua periode saja.”

Menurut Cak Nanto, jika itu mampu dilaksankan, sesungguhnya Jokowi sedang juga memberikan pendidikan politik adi luhung.

“Ini sebuah legasi,” ucapnya.

Kemudian ia membuat sebuah refleksi masa lalu.

“Tentu kita ingat era Soeharto. Dulu ada pameo, tidak ada yang lebih baik dari Pak Harto. Kalau Pak Harto diganti belum tentu penggantinya bisa lebih baik,” ujar dia.

Soeharto berkuasa 32 tahun.

“Demokrasi mati. Fundamental ekonomi rapuh. Oligarki dan KKN tumbuh subur. Mereka yang kaya adalah yang ada di lingkaran Pak Harto,” ucapnya.

“Pada gilirannya mereka yang mendorong Pak Harto terus berkuasa, mereka pula yang akhirnya menjatuhkannya,” ungkap Cak Nanto.

“Pada lembar sejarah lain, ada pendidikan tertinggi nilai demokrasi yang dicontohkan oleh seorang Gus Dur,” kata Cak Nanto penuh khidmat dan hormat.

Dengan kalimat indah ia berkata, “Bagaimana seorang presiden keluar dari istana dengan celana pendek untuk menjadi rakyat biasa.”

“Seorang egaliter yang legowo dan menempatkan konstitusi di atas hasrat diri. Bahkan ketika tuduhan terhadap beliau akhirnya menjadi fitnah belaka. Beliau tidak pernah menyalahkan siapa-siapa. Santai saja, tidak demo bawa massa.”

“Pendidikan politik ala Gus Dur ini memberi kita contoh bahwa seorang negarawan itu harus siap menerima dan melepaskan apa pun yang terjadi. Hukum dan undang-undang tetap ditempatkan secara terhormat sebagai sumber penyelesaian masalah politik.”

Sama dengan sekarang era Jokowi. Ada yang mengatakan lebih baik Jokowi daripada yang lain. Itu kata Cak Nanto.

“Yang menginginkan Jokowi terus lanjut periode ketiga adalah mereka yang ada di lingkaran kekuasaannya. Jokowi menolak, tapi mereka terus berwacana. Mengapa? Karena pendidikan politik ala Soeharto lebih populer ketimbang pendidikan politik ala Gus Dur. Wallahualam Bissawab,” tegas Cak Nanto.

 



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kivlan Zen Divonis Penjara 4 Bulan 15 Hari Karena Miliki Senjata Api

Kivlan Zen Divonis Penjara 4 Bulan 15 Hari Karena Miliki Senjata Api

Nasional
Pembelajaran Tatap Muka Timbulkan Klaster Covid-19, Pimpinan DPR Prihatin

Pembelajaran Tatap Muka Timbulkan Klaster Covid-19, Pimpinan DPR Prihatin

Nasional
Kemendagri Dorong Demokrasi Berbasis 'E-voting' di Tingkat Desa

Kemendagri Dorong Demokrasi Berbasis "E-voting" di Tingkat Desa

Nasional
Azis Syamsuddin Jadi Tersangka KPK? Ini Jawaban Pimpinan DPR

Azis Syamsuddin Jadi Tersangka KPK? Ini Jawaban Pimpinan DPR

Nasional
Kilas Balik 22 Tahun Tragedi Semanggi II

Kilas Balik 22 Tahun Tragedi Semanggi II

Nasional
Ketua Dewas KPK Tumpak Panggabean Dirawat di Rumah Sakit

Ketua Dewas KPK Tumpak Panggabean Dirawat di Rumah Sakit

Nasional
Jokowi: Pemerintah Kerja Siang Malam untuk Vaksinasi Covid-19 Massal

Jokowi: Pemerintah Kerja Siang Malam untuk Vaksinasi Covid-19 Massal

Nasional
Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak Diharapkan Jadi Episentrum Baru Pembangunan Pemenuhan Hak Perempuan-Anak

Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak Diharapkan Jadi Episentrum Baru Pembangunan Pemenuhan Hak Perempuan-Anak

Nasional
Kemendes PDTT: Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak Percepat Pencapaian SDGs Desa

Kemendes PDTT: Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak Percepat Pencapaian SDGs Desa

Nasional
Delapan Pegawai KPI Sudah Diperiksa Komnas HAM Terkait Kasus Dugaan Perundungan dan Pelecehan Seksual

Delapan Pegawai KPI Sudah Diperiksa Komnas HAM Terkait Kasus Dugaan Perundungan dan Pelecehan Seksual

Nasional
KPI Akan Tingkatkan Pengawasan Pegawai untuk Antisipasi Terulangnya Kasus Perundungan dan Pelecehan Seksual

KPI Akan Tingkatkan Pengawasan Pegawai untuk Antisipasi Terulangnya Kasus Perundungan dan Pelecehan Seksual

Nasional
Polri Akan Tetapkan Tersangka Dugaan Penganiayaan terhadap Muhammad Kece dalam Waktu Dekat

Polri Akan Tetapkan Tersangka Dugaan Penganiayaan terhadap Muhammad Kece dalam Waktu Dekat

Nasional
Kemenag Akan Usul Pembentukan FKUB Tingkat Pusat

Kemenag Akan Usul Pembentukan FKUB Tingkat Pusat

Nasional
Kejagung Sita 4 Aset Tanah Milik Teddy Tjokro dalam Kasus Korupsi Asabri

Kejagung Sita 4 Aset Tanah Milik Teddy Tjokro dalam Kasus Korupsi Asabri

Nasional
Jokowi: Meski Sudah Divaksin, Jangan Senang-senang Berlebihan

Jokowi: Meski Sudah Divaksin, Jangan Senang-senang Berlebihan

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.