Indonesia Beri Bantuan Oksigen ke India, Menko Polhukam: Tidak Perlu Jadi Masalah

Kompas.com - 09/07/2021, 14:03 WIB
Tabung berisi oksigen tiba di Posko Darurat Oxygen Rescue, kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Selasa (6/7/2021).Total 132 tabung oksigen dari Pabrik Gas Industri (PGI) milik Krakatau Steel untuk 12 rumah sakit di Jakarta yang disediakan Provinsi DKI Jakarta hari ini seiring masih tingginya kasus Covid-19 aktif di Jakarta. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGTabung berisi oksigen tiba di Posko Darurat Oxygen Rescue, kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Selasa (6/7/2021).Total 132 tabung oksigen dari Pabrik Gas Industri (PGI) milik Krakatau Steel untuk 12 rumah sakit di Jakarta yang disediakan Provinsi DKI Jakarta hari ini seiring masih tingginya kasus Covid-19 aktif di Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan, pemberian bantuan oksigen dari Indonesia ke India pada bulan Mei lalu tidak perlu dipermasalahkan.

Menurut dia, pemberian bantuan seperti itu kepada negara yang membutuhan merupakan hal biasa dalam hubungan antar negara.

"Terkait isu pemberian bantuan oksigen dari Indonesia ke India pada Mei lalu, saya kira kalau membaca sejarah tentang hubungan antar negara, itu tidak perlu jadi masalah," ujar Mahfud dalam keterangan pers melalui kanal YouTube resmi Kemenko Polhukam, Jumat (9/7/2021).

Mahfud mengatakan, Indonesia juga sering mendapat bantuan dari negara lain apabila memang terkena musibah dan membutuhkan.

Baca juga: Soal Bantuan Oksigen ke India, Mahfud: Waktu Itu Tingkat Kesembuhan Kita Tinggi dan Oksigen Masih Banyak

Hal itu pula yang dilakukan Indonesia kepada India untuk membantu negara tersebut yang saat itu kasus Covid-19 nya sangat besar.

"Pada waktu itu kan bantunya awal Mei ketika tingkat kesembuhan di negara kita hampir selalu lebih tinggi dari terinfeksi sehingga waktu itu oksigen masih sangat banyak," kata Mahfud.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Lalu India sedang sangat parah dan Indonesia membantu. Itu biasa saja," lanjut dia.

Tidak hanya kepada India pada saat pandemi Covid-19 ini, sebelumnya Indonesia juga pernah membantu Jepang yang saat itu terkena musibah Tsunami.

Termasuk membantu Australia yang beberapa waktu lalu juga dilanda kebakaran hutan yang cukup hebat.

"Itu biasa. Dalam hubungan internasional, negara-negara itu punya program kemanusiaan bantuan obat, makanan, sudah biasa," kata dia.

Baca juga: Saat Orang India ke Indonesia dengan Pesawat Carter hingga Varian Delta Mendominasi...

Saat Indonesia menghadapi banyak musibah seperti Tsunami Aceh, ujar Mahfud, banyak negara yang mendirikan posko bantuan di sana.

Antara lain Turki, Jepang, Australia, hingga Amerika Serikat.

Termasuk saat bencana di Palu, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya.

Mahfud mengatakan, pada situasi pandemi Covid-19 ini Indonesia juga mendapat bantuan dari negara lain.

"Sekarang ini ada beberapa rencana bantuan yang akan masuk ke kita, misalnya tabung oksigen," kata dia.

"Jadi dalam hubungan internasional, itu biasa kita membantu dan dibantu jangan hanya menghitung. Kita kok mengeluarkan toh kita butuh, kita juga dibantu," lanjut Mahfud.

Baca juga: 12 Menteri India Ramai-ramai Mundur Imbas Lonjakan Covid-19

Apalagi, kata dia, saat membantu India, kondisi Indonesia tidak sedang mengalami hal yang eksponensial seperti saat ini.

Adapun saat ini diketahui Indonesia sedang mengalami kekurangan tabung oksigen menyusul meningkatnya kasus Covid-19.

Hal tersebut pun menjadi perbincangan di antara masyarakat karena Indonesia pernah mengirim bantuan 1.400 tabung oksigen ke India.

Kebutuhan tabung oksigen meningkat seiring dengan semakin banyaknya pasien Covid-19 yang membutuhkannya.

Sebelumnya Direktur Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin Fridy Juwono mengakui terjadi kelangkaan tabung gas di beberapa pasar di wilayah Jakarta.

Baca juga: Menurut Guru Besar FKUI, Ada 5 Pelajaran dari India untuk Atasi Kelangkaan Oksigen

Dia mengatakan, kelangkaan ini terjadi lantaran tingginya permintaan tabung gas oksigen di masyarakat, tetapi tidak tahu cara pemakaiannya.

"Seperti di pasar Pramuka atau apotik, tabung gas oksigen itu habis. Tiba-tiba masyarakat banyak yang beli. Enggak tahu mereka tahu pakai atau tidak, pokoknya beli," ujar Fridy saat dihubungi Kompas.com, Kamis (1/7/2021).

Padahal, menurut dia, penggunaan tabung gas oksigen biasanya hanya digunakan oleh paramedis sebagai regulatornya.

"Paramedis yang ngerti berapa sih aliran normalnya, biasanya normalnya itu 7 liter per menit atau paling parah bisa 10 liter. Ini yang kadang-kadang malah yang beli orang yang pengen aman tapi enggak ngerti cara penggunaanya," jelas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.