Kompas.com - 21/06/2021, 18:34 WIB
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melarang masyarakat untuk mudik Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah. Larangan ini merupakan upaya pengendalian penyebaran Covid-19.

Sayangnya, banyak masyarakat yang melanggar imbauan pemerintah tersebut.

Mereka nekat mudik dengan melanggar aturan yang dibuat oleh pemerintah demi mudik ke kampung halaman.

Apa saja pelanggarannya?

Sejumlah pemudik diketahui menggunakan dokumen palsu saat mudik Lebaran lalu. Dokumen ini digunakan sebagai dalih agar masyarakat yang berada di Jakarta, bisa menjalankan tradisi tahunan pulang kampung atau mudik ke daerah asal masing-masing.

Ada juga masyarakat yang melanggar protokol kesehatan seperti tidak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak baik itu di kendaraan, terminal, bandara, maupun di stasiun kereta api.

Baca juga: Baru 4 Hari Dibuka, Tower 8 Wisma Atlet Pademangan Langsung Penuh Pasien Covid-19

Kemudian banyak calon pemudik yang menggunakan hasil swab palsu demi bisa mudik. Polresta Bandara Soekarno-Hatta mengungkap ada ratusan orang yang menggunakannya.

Penerobosan pos penyekatan juga terjadi di mana-mana. Salah satunya yang paling ramai dan sempat viral adalah saat rombongan pemudik yang menggunakan sepeeda motor menerobos pos penyekatan di Tanjung Pura, Karawang, Jawa Barat.

Menurut polisi, saat itu, ada sekitar ribuan pemotor yang menerobos pos penyekatan tersebut. 

Baca juga: Sayangkan Pemudik yang Terobos Penyekatan, Satgas Ingatkan Konsekuensi Hukum

Banyak juga masyarakat yang "kucing-kucingan" dengan polisi dalam perjalanan mudik.

Mereka diam-diam bersembunyi di dalam mobil mereka yang dibawa dengan truk yang ditutupi terpal, berusaha mengecoh polisi agar bisa lolos di perbatasan antar kota dan antar provinsi.

Padahal pemerintah juga melarang ASN untuk mudik lebaran. Kecuali dengan alasan tertentu atas izin tertulis dari PPK atau penugasan yang paling rendah ditandatangani oleh Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama atau setingkat pejabat eselon II.

Baca juga: Belum Sampai 2 Minggu Setelah Libur Lebaran, Kasus Covid-19 Naik Signifikan

Dokumentasi pembuatan mural edukasi oleh relawan Disaster Management Center (DMC) untuk menghiasi sejumlah sudut ibukota dalam rangka memeriahkan Hari Kesiapsiagaan Bencana pada Rabu (28/4/2021).Dok. Humas Dompet Dhuafa Dokumentasi pembuatan mural edukasi oleh relawan Disaster Management Center (DMC) untuk menghiasi sejumlah sudut ibukota dalam rangka memeriahkan Hari Kesiapsiagaan Bencana pada Rabu (28/4/2021).
Ditambah lagi sekitar 134 ASN nekat mudik saat lebaran. Ini diketahui dari laporan masyarakat yang diterima oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia melalui Sistem SP4N-Lapor.

Akan tetapi, mereka yang melanggar tidak ditindak tegas oleh pemerintah. Sehingga saat itu sempat muncul tagar #IndonesiaTerserah.

Tagar ini merupakan bentuk kekecewaan mereka terhadap masyarakat pelanggar aturan, termasuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai tidak tegas dan tidak mampu menangani pandemi ini.

Baca juga: Belum Puncaknya, Kasus Aktif Covid-19 di DKI Diprediksi Naik 7 Kali Lipat Agustus

Kasus Covid-19 melonjak

Akibat ketidakpatuhan masyarakat terhadap pemerintah soal larangan mudik, saat ini kasus Covid-19 di Indonesia pun mengalami lonjakan. Bahkan belum sampai dua minggu setelah libur lebaran saat itu, kasus Covid-19 naik signifikan.

Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.

"Ini menandakan belum mencapai minggu kedua saja kasus sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan, bahkan kasus kematian juga mengalami kenaikan. Ini adalah alarm untuk kita semua," kata Wiku dalam konferensi pers yang ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (25/5/2021).

"Kenaikan kasus positif yang cukup signifikan ini terjadi satu minggu setelah periode libur Idul Fitri," ujar dia.

Baca juga: 10 Daerah Ini Hampir Mendekati Zona Merah, Satgas Beri Peringatan Dini

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan juga buka suara terkait melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia. Ia menyebut bahwa kenaikan kasus ini adalah dampak dari warga yang tidak patuh dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah. 

"Pemerintah sudah minta kita stay at home, tidak mudik. Kemarin ramai-ramai (mudik) dan ini buahnya. Jadi kita semua (perlu) melakukan perenungan," ujarnya secara virtual, Selasa (15/6/2021).

"Kalau kita sebagai pemimpin tidak memberikan contoh, ini dampaknya banyak korban yang tanpa kita sadari secara langsung maupun tidak langsung akibat kelakuan kita sendiri," kata dia.

Baca juga: Covid-19 Melonjak Usai Lebaran, Luhut: Ini Kesalahan Kita Ramai-ramai

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin juga mengatakan hal yang sama. Ia mengatakan bahwa pemerintah sudah mengingatkan masyarakat berkali-kali agar mematuhi segala keputusan dan arahan pemerintah. Termasuk, salah satunya, larangan mudik.

"Ini fakta yang berulang-ulang diingatkan, berbusa-busa mulutnya Presiden mengingatkan," ujar Ngabalin kepada Kompas.com, Minggu (20/6/2021).

Tetapi, menurut Ngabalin, ada saja yang tak mengindahkan instruksi pemerintah. Akibat ketidakpatuhan itulah, saat ini kasus Covid-19 di Indonesia pun mengalami lonjakan.

"Masih saja terus menerus seperti ini. Inilah akibat yang harus ditanggung. Ini tidak bisa cuma pemerintah harus tanggung bersama-sama," katanya.

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak, Ngabalin Sebut akibat Banyak Warga Tak Patuhi Larangan Mudik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.