Kompas.com - 05/05/2021, 12:48 WIB
Calon penumpang memindahkan barang bawaannya ke bagasi bus di Terminal Cicaheum, Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/5/2021). Pada H-1 pelarangan mudik oleh pemerintah, penumpang di Terminal Cicaheum meningkat hingga 50 persen atau mencapai 1.200 orang per hari dibandingkan hari biasa sebelum bulan suci Ramadan. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc. ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISICalon penumpang memindahkan barang bawaannya ke bagasi bus di Terminal Cicaheum, Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/5/2021). Pada H-1 pelarangan mudik oleh pemerintah, penumpang di Terminal Cicaheum meningkat hingga 50 persen atau mencapai 1.200 orang per hari dibandingkan hari biasa sebelum bulan suci Ramadan. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.

JAKARTA, KOMPAS.com - Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) meminta masyarakat mematuhi larangan mudik yang ditetapkan pemerintah mulai 6 hingga 17 Mei 2021.

Ketua Umum PDPI Agus Dwi Susanto mengatakan, larangan mudik Lebaran bertujuan untuk menekan angka penularan Covid-19 di masyarakat, seiring dengan mulai terjadinya klaster Covid-19 baru selama bulan Ramadhan.

"PDPI mengajak warga negara Indonesia untuk mengedepankan kepentingan kemanusiaan dan ikut menekan angka penularan Covid-19 dengan melakukan silaturahmi Idul Fitri secara virtual atau daring dan taat kepada aturan dilarang mudik," kata Agus dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (5/5/2021).

Baca juga: Menhub: Perjalanan Logistik Tetap Diperbolehkan Selama Masa Pelarangan Mudik Lebaran 2021

Agus mengatakan, pelajaran yang mahal sudah didapatkan dari lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di India.

Namun, kata dia, perilaku masyarakat selama 2 pekan terakhir terlihat mulai lalai dalam menerapkan protokol kesehatan. Seperti, berdesak-desakan di tempat perbelanjaan, buka puasa bersama dan mudik Lebaran lebih awal.

Agus khawatir kegiatan-kegiatan tersebut dapat berpotensi menimbulkan lonjakan kasus Covid-19.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jangan sampai tragedi di India terulang di Indonesia, apalagi sudah terdeteksi 10 kasus varian baru di Indonesia. Kita belum mengetahui secara persis sifat varian baru ini," ujarnya.

Lebih lanjut, Agus mengingatkan, varian baru virus corona yang sudah masuk ke Indonesia kemungkinan dapat mempengaruhi percepatan penularan virus corona.

Baca juga: Jelang Larangan Mudik, Ketua DPR Tinjau Terminal dan Stasiun KA di Cirebon

Oleh karenanya, ia meminta masyarakat untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan meski sudah divaksinasi.

Tak hanya itu, setiap individu masyarakat dapat mengambil peran pencegahan dan saling mengingatkan untuk mengatasi pandemi Covid-19.

"Tetap waspada dengan besarnya potensi gelombang kedua Covid-19 di Indonesia," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.