Kompas.com - 21/04/2021, 10:52 WIB
RA Kartini WIKIMEDIA COMMONS/GPL FDLRA Kartini
|
Editor Bayu Galih

Mengagumi Multatuli

Ketokohan Kartini selalu diidentikan dengan emansipasi. Kesempatan yang sama, setara antara laki-laki dan perempuan.

Namun, Pramoedya melihat Kartini lebih dari itu, tak hanya soal perjuangan emansipasi.

Dikutip dari arsip Harian Kompas, Minggu 24 Desember 2000, F Ria Susanti menulis bahwa Pramoedya telah menyodorkan bukti Kartini merupakan pejuang nasionalisme, pendukung egalitarian dan pendobrak feodalisme.

Baca juga: Mengenal Sepak Terjang Multatuli, Sosok yang Menginspirasi RA Kartini

Menurut penelitian Pram, salah satu buku yang memengaruhi Kartini yakni Max Havelaar karya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker.

Buku ini menceritakan pelaksanaan tanam paksa di Hindia Belanda. Penderitaan rakyat akibat tanam paksa dikisahkan Multatuli dalam tokoh Saija dan Adinda menguras emosi Kartini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kondisi yang digambarkan Multatuli itu tidak jauh beda dari situasi masyarakat pribumi Jepara saat itu.

Rakyat dimiskinkan oleh kerakusan penguasa Belanda dan kaum feodal pribumi yang menjilat penjajah.

Kartini terpukau dengan pandangan Multatuli, bahwa tugas manusia adalah menjadi manusia.

Baca juga: Kontroversi Penyebutan Gelar Kartini, Raden Ajeng atau Raden Ayu?

Kemudian, Kartini menolak ikatan apa saja yang mencoba menjauhkannya dari tugas manusia.
Budaya feodal ia lihat sebagai kendala untuk menjadi manusia.

Terkait feodalisme, Kartini bercerita melalui surat kepada sahabatnya, Stella Zeehandelaar, tanggal 18 Agustus 1899.

Duh, kau akan menggigil, kalau ada di tengah keluarga pribumi yang terkemuka. Bicara dengan atasan haruslah sedemikian pelannya, hanya orang di dekatnya saja bisa dengar. Kalau seorang wanita muda tertawa o-heo, tak boleh dia buka mulutnya.

Dalam wawancara yang diterbitkan majalah Playboy Indonesia edisi April 2006, Pram mengatakan, seharusnya buku Panggil Aku Kartini Saja terdiri atas empat jilid.

Dua jilid sempat diterbitkan, sedangkan yang lainnya dirampas militer pada era Orde Baru.
Ia mengaku karyanya itu hasil studi lapangan dan menemui saudara-saudaranya Kartini.

Bahkan, Pram memiliki buku keluarga Kartini yang ditulis dalam bahasa Jawa.

"Kartini itu luar biasa. Mendirikan sekolah dengan tenaga sendiri. Dia satu-satunya perempuan dengan pendidikan barat, waktu itu," kata Pram.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menkes Akui Tenaga Kesehatan Banyak Terkena Covid-19, Mayoritas OTG dan Gejala Ringan

Menkes Akui Tenaga Kesehatan Banyak Terkena Covid-19, Mayoritas OTG dan Gejala Ringan

Nasional
2,9 Persen atau Lebih dari 59.000 Balita di Indonesia Positif Covid-19

2,9 Persen atau Lebih dari 59.000 Balita di Indonesia Positif Covid-19

Nasional
Menkes Minta Semua Kamar IGD Jadi Ruang Isolasi, Layanan Pasien Pindah ke Tenda

Menkes Minta Semua Kamar IGD Jadi Ruang Isolasi, Layanan Pasien Pindah ke Tenda

Nasional
Pemerintah Diminta Buka Draf RKUHP

Pemerintah Diminta Buka Draf RKUHP

Nasional
Status Pandemi RI Diprediksi Paling Cepat Dicabut Pertengahan 2022, asalkan...

Status Pandemi RI Diprediksi Paling Cepat Dicabut Pertengahan 2022, asalkan...

Nasional
Kontras Ungkap Tiga Faktor Penyebab Maraknya Praktik Penyiksaan di Indonesia

Kontras Ungkap Tiga Faktor Penyebab Maraknya Praktik Penyiksaan di Indonesia

Nasional
145 Pekerja Migran Bermasalah dari Malaysia Pulang ke Indonesia

145 Pekerja Migran Bermasalah dari Malaysia Pulang ke Indonesia

Nasional
Komnas HAM: Praktik Penyiksaan di Indonesia Sangat Mengkhawatirkan

Komnas HAM: Praktik Penyiksaan di Indonesia Sangat Mengkhawatirkan

Nasional
KPK Periksa Gitaris The Changcuters Sebagai Saksi Terkait Kasus Aa Umbara

KPK Periksa Gitaris The Changcuters Sebagai Saksi Terkait Kasus Aa Umbara

Nasional
Menkes: Stok Oksigen di Rumah Sakit Rujukan Covid-19 Cukup

Menkes: Stok Oksigen di Rumah Sakit Rujukan Covid-19 Cukup

Nasional
Menkes Buka Opsi Gunakan Vaksin Sinovac dan Pfizer untuk Vaksinasi Anak

Menkes Buka Opsi Gunakan Vaksin Sinovac dan Pfizer untuk Vaksinasi Anak

Nasional
Industri Pertahanan Hadapi Tiga Tantangan dalam Membangun Alutsista

Industri Pertahanan Hadapi Tiga Tantangan dalam Membangun Alutsista

Nasional
Periksa Saksi, KPK Dalami Pengurusan Jatah Kuota Rokok Terkait Dugaan Korupsi Pengaturan Barang Kena Cukai

Periksa Saksi, KPK Dalami Pengurusan Jatah Kuota Rokok Terkait Dugaan Korupsi Pengaturan Barang Kena Cukai

Nasional
Data Pemerintah Ungkap 12,6 Persen Anak Indonesia Positif Covid-19

Data Pemerintah Ungkap 12,6 Persen Anak Indonesia Positif Covid-19

Nasional
Nakes Pertama di Wisma Atlet Gugur akibat Covid-19, Ketua DPR: Indonesia Kehilangan Insan Terbaik

Nakes Pertama di Wisma Atlet Gugur akibat Covid-19, Ketua DPR: Indonesia Kehilangan Insan Terbaik

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X